Cuti Hamil Ditambah dulu, Cuti Ayah kemudian

Cuti Hamil Ditambah dulu, Cuti Ayah kemudian

Ilustrasi (pikiran-rakyat.com)

Wacana menambah cuti ayah untuk menemani istri yang melahirkan terus mengemuka. Informasi-informasi mengenai betapa pentingnya peran ayah dalam mengasuh anak, membantu istri menemani baby blues, dan sebagainya menjadi bahasan di mana-mana.

Bagi saya, menambah cuti ayah sungguh penting. Sangat penting. Namun lebih penting cuti ibu melahirkan yang ditambah durasinya.

Kalau tidak bisa 6 bulan, setidaknya ditambah jadi 4 bulan. Nanti bertahap ditambah menyesuaikan kemampuan ekonomi dan anggaran negara.

Dalam jangka pendek, aturan cuti hamil 3 bulan yang dipecah – 1,5 bulan sebelum dan 1,5 bulan sesudah – perlu diperbaiki. Ini sangat tidak fair.

Jika semasa hamil tidak mengalami masalah sehingga tidak ambil libur, maka pasca melahirkan hanya dapat 1,5 bulan cuti. Yang 1,5 bulan lagi hangus.

Aturan ini entah yang memulai siapa? Jangankan mau menuju cuti hamil 6-9 bulan, adil untuk cuti 3 bulan saja susah.

Menurut saya, prioritas politisi/negarawan mungkin bisa dipertajam untuk menambah cuti hamil hingga 6 bulan. Setelah itu baru cuti ayah ditambah. Itu pun perlu diawasi.

Cuti hamil riil dinikmati ibu dan digunakan untuk pemulihan pasca melahirkan sekaligus merawat anaknya. Cuti ayah di atas kertas sebagai sebuah kebijakan tentu harus ada konsekuensi, jika digunakan tidak semestinya. Bagaimana jika digunakan untuk kelayapan, blakrakan gak karu-karuan?

Dengan kultur patrilineal yang sedemikian kental di NKRI, suami di rumah bisa malah ‘merepotkan’ istri dengan minta dimasakin, dibuatkan kopi, dan lain-lainnya. Bagaimana mengawasinya?

Perdebatan panjang mewarnai kantor saya selama setahun pada 2016, sebelum akhirnya disepakati cuti ayah 1 bulan berlaku pada 2017.

Syaratnya adalah istri boleh lapor direksi, jika suami tidak kooperatif dan direksi bisa sewaktu-waktu datang ke rumah untuk melihat kondisi pekerja dan anak. Surat peringatan (SP) menanti mereka yang abai atau melakukan moral hazard terhadap cuti ayah.

Saya dan partner bisa lakukan itu, karena skala usaha yang kecil plus saya tidak peduli dikatakan bos yang kepo urusan rumah tangga karyawan. Tentunya berbeda dengan perusahaan dengan skala lebih besar atau negara, misalnya.

Karena itu, untuk Indonesia, saya lebih ingin fokus menambah cuti untuk ibu terlebih dahulu. Ini lebih penting untuk pemulihan fisik, mental, dan berdua bersama newborn baby menikmati hubungan ibu-anak yang terjalin dalam pemberian ASI.

Oh ya, cuti hamil dan ayah tetap menerima gaji penuh. Tak perlu cemas arus kas perusahaan terganggu, karena investasi dalam hidup yang paling besar adalah anak-anak yang kita miliki.

Perusahaan harus untung, itu harus. Namun perlu diingat, orang-orang yang bekerja di perusahaan sedang mencari nafkah untuk keluarga.

Keluarga adalah sumber energi dan inspirasi pekerja. Tentunya, jika ada tambahan anggota keluarga, mereka harus prioritaskan salah satu untuk sementara waktu.

Saya sendiri mengalami masa-masa yang tidak mudah ketika menemani istri lahiran dan menjaga anak. Ada hal-hal yang saya sesali, namun banyak juga yang saya syukuri.

Satu hal pasti, saya ingin orang yang bekerja di kantor menikmati hal-hal yang saya syukuri ketika mendapat titipan Tuhan. Yang saya sesali, semoga tidak mereka jalani.

Alḥamdulillah, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yembise mulai mempertimbangkan usulan cuti hamil 6 bulan, karena banyak kelompok ibu-ibu meminta RUU khusus untuk cuti hamil tersebut. Ibu-ibu bersatu tak bisa dikalahkan!

Di beberapa negara lain, cuti hamil 6 bulan dan cuti ayah sebetulnya sudah diterapkan. Misalnya, di India. Negara itu menjadi negara yang memberikan cuti melahirkan terlama ketiga di dunia setelah Kanada dan Norwegia.

Jika India memberlakukan cuti hamil 24 pekan (6 bulan), Norwegia dan Kanada memberikan durasi cuti hamil masing-masing selama 50 dan 44 pekan. Bahkan di Swedia, selain cuti hamil, juga berlaku cuti ayah.

Di Indonesia, Danone, salah satu perusahaan besar berskala global yang beroperasi di Indonesia, sudah mulai memberikan cuti hamil 6 bulan bagi karyawan perempuan, serta 10 hari bagi karyawan pria yang istrinya melahirkan. Kebijakan itu sudah berjalan setahun.

Lalu, kapan Indonesia?