Curhat soal Seni, Voxpop, dan Selebtwit Bareng Arthur Rimbaud

Curhat soal Seni, Voxpop, dan Selebtwit Bareng Arthur Rimbaud

paysdepoesie.wordpress.com

“Gue mau jadi selebtwit!”

Arthur Rimbaud di dalam kepala saya berseru. Saat itu, saya yang sedang asyik membaca ‘Invisible Monsters’ karya Chuck Palahniuk sembari menghembuskan asap rokok langsung terbatuk-batuk dibuatnya. Mungkin kalian berpikir bahwa saya ini gila atau kesepian.

Akan tetapi percayalah, penyair Prancis itu benar-benar hidup di dalam kepala saya, atau mungkin di dalam kepala orang-orang lainnya. Secara fisik, dia memang telah mati, tapi tidak dengan jiwanya.

Tentu saja saya terkejut. Bagaimana bisa Arthur Rimbaud yang sangat membenci kaum aristokrat, borjuis, popularitas, dan hal-hal berbau selebritas berikrar ingin menjadi selebtwit? Saya tidak habis pikir dengan makhluk nakal yang satu ini.

“Pokoknya gue mau jadi selebtwit!”

Arthur Rimbaud di dalam kepala saya itu kembali berseru. Lalu saya coba menimpali. “Jelasin ke gue apa alasannya lo mau jadi selebtwit? Bukannya mereka itu cuma sekumpulan orang yang nggak punya kerjaan yang pengetahuan literaturnya pas-pasan dan haus akan perhatian?”

Saya pun terus menyerocos, “Mereka itu nulis puisi-puisi cinta murahan yang bahkan nggak bisa disebut puisi atau kata-kata mutiara dan motivasi yang bahkan mereka nggak pernah terapkan di kehidupan mereka sendiri?”

Hei, tunggu dulu… Bicara tentang “nggak punya kerjaan”, saya jadi teringat dengan perkataan teman saya dan seseorang di Twitter beberapa waktu yang lalu. Teman saya dan seseorang di Twitter itu berpendapat bahwa orang-orang yang menulis di media atau situs semacam Voxpop adalah sekumpulan orang-orang “nggak punya kerjaan”, yang curhat dengan cara menulis tulisan sampah yang seharusnya bisa ditulis di blog pribadi. Setidaknya itu inti dari pernyataan mereka berdua yang saya rangkum.

“Nggak punya kerjaan?” Mungkin saja. Saya sendiri menulis karena memang tidak punya pekerjaan seperti orang-orang kantoran pada umumnya. Daripada tidak melakukan apa-apa, saya lebih baik menulis. Apalagi menulis di Voxpop itu dapat menghasilkan honor yang bisa digunakan untuk membayar listrik, air, dan tagihan lainnya atau untuk jajan tanpa harus repot-repot minta orang tua. Seseorang di Twitter itu tidak salah. Malah saya setuju.

Tapi curhat dengan cara menulis tulisan sampah? Hoo… Tunggu dulu… Saya tidak menyalahkan atau membenarkan pernyataannya. Dia, teman saya itu, bebas beropini. Sayangnya, saya sangat tidak setuju. Saya tidak bermaksud membela dan menjilat bokong Voxpop serta para redakturnya terutama Jauhari Mahardika agar tulisan saya dimuat. Tidak sama sekali.

Kenapa begitu? Karena menurut saya, pernyataan dia sangat tidak berdasar. Tulisan sampah? Memangnya seperti apa tulisan yang sampah dan tidak sampah itu? Selama saya melihat artikel-artikel yang pernah di tulis di Voxpop, saya tidak berpikir bahwa tulisan mereka itu sampah. Apa yang mereka semua tulis itu murni perspektif mereka, yang ditulis dengan tajam dan didahulukan dengan observasi yang mendalam. Saya harap memang benar seperti itu.

Hmm… Teman saya ini pasti mempunyai pengetahuan soal kesusastraan dan jurnalistik yang luas sekali sampai bisa bicara seperti itu. Saya sendiri belum berani dengan angkuhnya “menyampah-nyampahkan” sebuah karya. Saya, tentunya tidak selalu menyukai karya seseorang, tapi rasanya saya tidak pernah menjelek-jelekan tulisan sampai serendah itu. Rasa-rasanya sih begitu.

Bagaimana dengan curhatan? Bukankah hasil karya semua penulis, filsuf, ataupun para pemikir itu berasal dari curhatan? Pemikiran yang hebat akan tetap menjadi sebuah pemikiran yang bakal membusuk di dalam kepala, jika tidak dicurahkan ke dalam bentuk tulisan. Dalam hal ini artikel.

Hampir semua karya seni seperti novel, cerpen, puisi, lirik lagu, bahkan lukisan itu semua tidak lebih dari pemikiran-pemikiran, pandangan-pandangan, dan curhatan-curhatan yang berhasil dicurahkan dengan kreatif dan akhirnya menjadi karya seni.

Coba tengok ‘What I Talk About When I Talk About Running’ karya Haruki Murakami, ‘Fugitives and Refugees’ karya Chuck Palahniuk, ‘Leaves of Grass’ karya Walt Whitman, ‘Endymion’ karya John Keats, ‘Ariel’ karya Sylvia Plath atau ‘Howl’ karya Allen Ginsberg. Memangnya itu semua apa kalau bukan produk dari curhatan?

Karena mereka semua seniman, maka dari itu mereka mencurahkan isi hati mereka ke dalam bentuk seni. Lagipula apa sih sebenarnya pengertian dari curhatan itu? Kita pasti punya definisi yang berbeda-beda soal itu.

Pernyataan teman saya tersebut mengingatkan saya dengan pernyataan Tammy Bruce, presiden sebuah organisasi nasional wanita di Los Angeles, yang ditujukan untuk Bret Easton Ellis, penulis ‘American Psycho dan Less Than Zero’. Di Los Angeles Times, Tammy Bruce menyebutkan bahwa yang ditulis Ellis itu bukanlah seni dan Ellis hanyalah orang sinting yang menjadikan kebenciannya pada kaum wanita (misoginis) sebagai mesin pengeruk uang. Hmm…

Saya yakin banyak dari anda yang tidak setuju dengan pendapat saya. Pasti kalian bilang, “Lho, beda dong curhatan dengan pemikiran. Curhatan itu datangnya dari hati, pemikiran adalah sesuatu yang berbeda.” Atau seperti ini, “Lah, memang artikel seperti ini karya seni? Jangan disama-samain dong!”

Baiklah, itu ada benarnya. Tapi coba pikirkan lagi. Kalian tidak akan bisa menyampaikan curhatan kalian dengan baik dan dimengerti oleh orang lain, jika tidak didasari oleh pemikiran yang dingin sebagai filter-nya. Begitu juga dengan pemikiran, kita tidak akan bisa melampiaskan pemikiran kita dengan baik, jika tidak dalam suasana hati yang enak. Keduanya berbeda tapi saling berhubungan.

Sedangkan soal artikel itu bisa dibilang sebuah karya seni atau tidak itu tergantung dengan perspektif masing-masing. Saya bukannya mau lepas tangan. Tapi berbicara soal hal yang berbau seni itu sulit.

Saya kasih contoh begini. Baru-baru ini, saya melihat dua buah foto yang diambil di suatu pameran seni yang akhirnya jadi viral di 9gag. Dua buah foto itu adalah foto kacamata dan skateboard yang diletakkan begitu saja di samping dinding. Lucunya, karena dua benda itu berada di dalam sebuah galeri seni, lantas saja orang-orang mengira kalau itu juga bagian dari pameran. Padahal, itu hanya ulah usil orang iseng. So? Everything is art, brothers…

Atau, kalau mau ambil contoh yang lebih terkenal lagi adalah foto Campbell Soup-nya Andi Warhol yang dianggap sebagai salah satu objek simbol pop-art tahun 1960-an dan lukisan abstrak Jackson Pollock yang banyak orang bilang seperti corat-coret anak kecil. Atau, lihat Catatan Pinggir karya Goenawan Mohamad?

Itu kan jelas-jelas kumpulan artikel beliau yang dibukukan! See what I mean? Menurut kalian sendiri itu pantas disebut seni tidak? Jadi saya tidak bisa disalahkan kalau saya bilang seni itu soal sudut pandang?

Lalu kenapa harus dimuat di media seperti Voxpop? Kenapa tidak ditulis di blog pribadi saja? Hmm… Saya tidak tahu dengan motivasi penulis lainnya dan terus terang tidak ingin tahu. Itu privasi mereka. Meski begitu, saya punya alasan tersendiri. Yang pertama, sebagai penulis muda yang cukup ambisius, tentu saja saya butuh sedikit pengakuan. Buat apa kita terus menulis kalau orang lain tidak membacanya?

Dengan menulis di Voxpop, saya akan mendapat lingkup atau dimensi pembaca yang lebih luas dibanding hanya sekadar menulis di blog pribadi. Dengan begitu, saya bisa mengenal penulis-penulis lainnya dan berbagi pengalaman atau sudut pandang dalam menyikapi apa yang terjadi di lingkungan sosial kita sekarang. Yang kedua, tentu saja karena honornya. Saya butuh duit dan tidak mau jadi orang yang hipokrit. Ehem…

Lanjut lagi soal Arthur Rimbaud di dalam kepala saya yang terobesi ingin menjadi selebtwit.

“Soalnya dengan menjadi selebtwit, gue bisa digilai banyak cewek! Tulisan picisan kayak surat cinta anak SD yang baru disunat gitu aja bisa buat cewek-cewek histeris. Apalagi puisi buatan gue, iya nggak?”

Saya melengos. Lalu saya menjelaskan bahwa untuk menjadi selebtwit, kita harus mempunyai tampang yang rupawan dan duit yang banyak. Makanya cewek-cewek itu bisa suka dengan mereka. Sedangkan Arthur Rimbaud di dalam kepala saya itu miskin dan tidak tampan. Bagaimana dia bisa jadi selebtwit kalau hanya modal kejeniusan di bidang sastra saja?

“Mending lo nulis novel kayak Tere Liye,” kata saya. Lumayan bisa jadi idola di antara emak-emak atau tulis puisi yang benar biar terkenal kayak Aan Mansyur. Selebtwit kok dijadikan panutan. Mendengar itu, Arthur Rimbaud di dalam kepala saya malah mengamuk.

Oke, biar saya cerita lagi. Jadi beberapa waktu lalu, saya pernah bergabung dalam sebuah milisi atau komunitas penyair dan pencinta puisi di Depok, karena puisi saya lolos seleksi dan masuk ke dalam antologi kumpulan puisi komunitas mereka. Bukan prestasi yang membanggakan. Puisi itu juga saya kirim karena iseng, dan ajaibnya bisa terpilih.

Alasan saya bergabung, meskipun tidak resmi karena tidak pernah hadir di setiap acara, adalah untuk mencari orang yang kiranya bisa diajak berdiskusi soal puisi sebagai sesama penyair, halah… Tapi betapa kecewanya saya ketika tahu bahwa komunitas puisi itu ternyata disesaki banyak sekali selebtwit. Fuck off.

Saya yang tadinya diundang dan berkeinginan datang ke acara peluncuran buku antologi tersebut langsung mengurungkan niat. Saat itu, bahkan Arthur Rimbaud di dalam kepala saya, memaksa saya agar tetap datang. Dia ingin sekali mengencingi kepala para selebtwit. Tapi sekarang dia malah mau jadi selebtwit.

Arthur Rimbaud di dalam kepala saya ini persis seperti Atticus di ‘To Kill a Mockingbrid’. Dalam buku itu dia membela negro habis-habisan, tapi di buku sekuel-nya ‘Go Set For a Watchman’, dia malah menjadi seorang rasis. Bagaimana sih?

Oh iya, jangan salah sangka. Saya tidak membenci milisi puisi itu. Saya kasihan. Kehadiran beberapa selebtwit di sana itu, bagaimana pun juga, telah membuat para penyair yang benar-benar bisa merangkai kata menjadi seperti pemain cadangan dalam sepak bola di acara peluncuran tersebut. Ketenaran mereka di jejaring sosial membuat rekan-rekan penyair lain kehilangan spotlight.

Pada akhirnya yang ganteng dan kayalah yang akan selalu diperhatikan orang. Bukan yang pintar dan miskin seperti saya dan Arthur Rimbaud di dalam kepala saya. Orang ganteng dan cantik itu memang selalu benar. Saya sudah membuktikannya. Jadi tidak ada unsur diskriminasi dari orang-orang yang tidak ganteng seperti saya dan Arthur Rimbaud di dalam kepala saya ya…

Lantas buat apa saya ngebacot di sini ya kalau ujung-ujungnya juga tidak akan diperhatikan? Saya kan tidak ganteng, apalagi kaya. Kalau saya kaya dan ganteng, saya tidak akan menulis untuk Voxpop. Kalau saya kaya dan ganteng, saya bakal pacaran sama hipster terus kongkow di IKEA sambil berlarian dan bergandengan tangan ala Tom dan Summer di ‘500 Days of Summer’. Cihuy… Romantis sekali. Untungnya itu hanya angan-angan semata yang sulit terealisasikan. Untungnya…

“Bangun oy! Ngayal aja kerjaannya.”

Arthur Rimbaud di dalam kepala saya kembali bersuara. Oke maaf, kembali ke realita.

“Hei, ambil sisi positifnya! Setidaknya para selebtwit ingin mencurahkan apa yang ada dipikiran dan lubuk hatinya. Itu bagus, walau apa yang mereka kicaukan, kata banyak orang, lebih menyerupai gombalan caper dibanding seni dan sastra itu sendiri.”

Lama-lama Arthur Rimbaud di dalam kepala saya ini benar juga. Cari perhatian itu memang banyak sekali macamnya. Lihat Shannon McFarland, karakter dalam novel ‘Invisible Monsters’ yang sedang saya baca. Dia bahkan menembakkan mulutnya sendiri agar popularitasnya sebagai model tidak surut dan wartawan-wartawan dari berbagai media terus memberitakannya. Cara yang esktrem dan sinting untuk mencari perhatian. Apa yang saya lakukan sekarang juga tidak jauh beda dengan apa yang dilakukan barisan selebtwit kok. Caper. Pamer.

“Karena seburuk-buruknya pemikiran dan curahan hati, masih lebih buruk pemikiran dan curhatan yang tidak dicurahkan!”

Lagi-lagi, Arthur Rimbaud di dalam kepala saya berseru. Dia benar. Maafkan saya ya para selebtwit yang budiman. Ini hanya kesirikan sesaat.

“Jadi lo ngijinin gue jadi selebtwit nih?”

Arthur Rimbaud di dalam kepala saya bertanya. Harap-harap cemas. Tentu saja tidak, Tur! Mau bagaimana juga, kita tetap saja tidak ganteng. Jancuk!