Cowok Penulis Itu Seksi. Pesonanya Tak Sanggup Kau Ingkari

Cowok Penulis Itu Seksi. Pesonanya Tak Sanggup Kau Ingkari

google.com

Sungguh, percayalah bahwa cowok seksi itu adalah para penulis. Ini bukan manifesto atau doktrin baru yang cuma asyik jadi bahan debat. Tapi ini sebuah hasrat yang sudah bergejolak sejak masa lampau, ketika kakek-nenek kita masih abegeh.

Lihat saja dulu bagaimana surat cinta bak anak panah Dewa Cupid yang menghujam hati. Setiap kata adalah mantra agung yang bikin kamu tak berdaya di altar cinta. Tidak perlu pakar hermeneutika untuk menafsirkannya. Tak butuh ahli mesin Enigma untuk memecah kode-kode di dalamnya. Sudah terang benderang seperti hidup di negeri 1001 bulan purnama.

Anda tak bisa menulis surat cinta? Silakan minta tolong teman anda. Mau yang di sebelah kiri, tengah, atau kanan, tidak masalah. Seperti yang saya bilang tadi, surat cinta bukanlah manifesto hantu berkeliaran di Eropa hati anda. Surat cinta bersifat universal dan tentunya makjleb banget mengisi relung-relung hati.

Kala itu, menguasai teknik menulis adalah harga mati bagi yang sedang bercinta. Ya, iya lah yaa… Memangnya seperti sekarang sudah ada aplikasi pesan instan. Kalau tak pakai surat, bagaimana mau kenalan atau ngobrol dengan sang pujaan hati? Pakai urat? Mau ngobrol pun langsung tatap muka. Kalau hati belum kuat, rasanya dag dig dug duarrr…

Maka jangan heran, jika perihal surat menyurat ini ada di banyak roman, novel lama. Misalnya novel ‘Tenggelamnya Kapal Van der Wijck’ karya Buya Hamka, yang sudah dibuatkan filmnya dan ngetop itu. Bagaimana Hayati bisa klepak-klepek berkat kelihaian Zainuddin merangkai kata dalam surat-suratnya.

Ketika itu, mendekati pujaan hati sungguh sulit. Menantang. Itu kenapa ada istilah “gunung ku daki, lautan ku seberangi”. Di manakah hati adek bisa berlabuh, abang? Tidak seperti sekarang, maunya segampang sentuh layar HP atau bikin status kode-kodean di media sosial. Memangnya cinta cepat saji?

Sudah pasti anda kalah telak dengan para penulis. Apalagi cowok, karena kebetulan saya cewek. Boleh dong. Tinggal ganti kata cowok jadi cewek. Gitu aja protes. Dan, yang lebih gerrr lagi, kalau cowok itu mumpuni menulis esai dan novel. Meski duitnya kadang pas-pasan, tak jadi soal. Pas mau beli rumah ada, pas mau beli mobil ada, begitu kan yang menjadi guyonanmu?

Sekali lagi, semakin lihai kamu menulis, semakin besarlah potensi kamu menjadi pujaan hati banyak dara. Dan saya yakin, menulis itu tak gampang. Jika gampang, pasti buanyak sekali orang-orang seperti Haruki Murakami, Orhan Pamuk, Agus Noor, atau Aan Mansyur di dunia ini. Tak akan cukup kertas untuk membukukan buah pemikirannya, tak cukup satu toko buku seluas lapangan bola untuk memajang hasil karyanya.

Dan bagi perempuan muda seperti saya ini, cowok penulis semakin seksi, kalau doi juga bisa menulis lirik lagu. Itu bonus lah. Apalagi lirik lagunya berupa syair-syair puitis. Alamakjang… Banyak maunya ya saya, hehe… Tapi justru itu tantangannya. Generasi boleh instan, tapi urusan hati harus dimasak hati-hati.

Saya yakin, cowok seperti itu sangat langka. Sulit mencarinya di katalog negeri manapun. Jika saja mudah, maka tak akan ada lirik-lirik lagu kekinian yang amat jauh dari puitis. Maju mundur cantik, maju mundur cantik. Cantik kok maju mundur. Cewek cantik itu harus maju terus ke muka. Jelas sudah, itu lirik nggak banget, yang cuma dikasih nada. Dari A minor ke D minor, lalu ke E minor. Semakin minor saja kehidupan cintamu.

Saya tak ada maksud untuk mengejek karya siapa-siapa. Entah itu band, penyanyi solo, ataupun pencipta lagu manapun yang hobi bikin lirik yang nggak ada cantik-cantiknya itu. Tapi rasanya gelisah, karena sudah lama saya tahan-tahan. Maka jebol sudah di situs Voxpop ini.

Semoga saja era lagu-lagu berlirik puitis bisa kembali bersemi. Tentunya bakal indah sekali negeri ini, sebuah negeri yang selama ini selalu disuguhi lagu-lagu penuh iri hati. Mari selamatkan hati, telinga, dan perut kita. Lho?

Yang pasti, semakin lama saya merasa kesemsem dengan cowok penulis. Bisa nulis surat cinta, nulis esai, nulis novel, nulis lagu, dan nulis cek. Bhahaha… Apalagi wawasannya luas, seluas Laut Cina Selatan yang bermesraan dengan Laut Karibia. Semua dilahap habis dengan lihainya. Semuanya. Habis sudah. Soal kemanusiaan, sosial ekonomi, politik, lingkungan, sastra, filsafat, spiritual. Wah, rating-nya superb banget beibh… Bintang 10! Bukan bintang 4 atau 5, apalagi bintang 7.

Pasti ada yang protes, “Mana ada cowok sesempurna seperti itu?” Ya boleh-boleh saja bilang begitu. Sudah saya bilang sejak awal tulisan, ini bukan manifesto atau doktrin, je. Tapi ini pesona. Bayangkan, kamu punya cowok yang mampu menulis dengan berbekal ilmu pengetahuan, pemikiran kritis, logika, dan kepedulian. Semuanya lengkap bercampur menjadi satu. Manunggaling aku dan kamu. Iya, aku dan kamu, bukan dia…

Tapi tunggu dulu, bagi para cowok penulis jangan langsung melayang nggak nginjek bumi begitu. Apalagi cuma dipuji saya, yang hanya primadona desa ini. Saya cuma titip pesan, jangan sampai menulis cuma untuk gaya-gayaan. Pengen disebut hipster, biar nambah follower. Apalagi hanya bagian dari program pencitraan. Jelang pilkada atau pemilihan ketua karang taruna, misalnya? Big NO!

Menulislah berlandaskan niat baik, penyajian pemikiran yang orisinil, dan penuh gagasan baru. Biarkan pemikiran dan jarimu yang seksih itu bermain penuh gairah. Kalau itu kamu lakukan, silakan berbangga hati merasa setampan Nicholas Saputra atau sekeren Leonardo DiCaprio. Pesona kamu mana lagi yang sanggup saya ingkari?

*Setelah tulisan setengah curhat ini saya kirim ke Voxpop, mas Jauhari Mahardika bertanya, “Sebutkan satu penulis yang paling seksi di antara semua orang yang pernah menulis di Voxpop?” Hmmm… Saya pun tak langsung menjawab. Butuh ketetapan hati dan jiwa yang kuat untuk mengatakan itu. Akhirnya saya pun membalas, “Wahyu Alhadi alias Awang Blackdog!”

  • Della Syahni

    haha,, berarti saya sudah memilih suami yang bener. Wkwkwk cool kak.

    • Septri Lediana Lanis

      iya la…. hahaha…. benar sekali.. hihi 😀

  • ledian lanis

    haha… benar klo dari kaca mata kak, la. semoga juga 100 persen benar di mata dela 😀

  • Septri Lediana Lanis

    hahaa…. iya la… 😀