Cita-cita yang Sulit dan Mudah Dicapai
CEPIKA-CEPIKI

Cita-cita yang Sulit dan Mudah Dicapai

(hiveminer.com/barixz)

Diam-diam, ketika semua orang masih kaget dengan berita penangkapan Ridho Rhoma atau sibuk mainan testony, Saridjah Niung – atau kita lebih mengenalnya dengan nama Ibu Soed –diperingati hari lahirnya. Gak ada yang peduli, orang lagi pada sibuk sama pilkada yang mau masuk putaran kedua. Beruntung gugel membuatkan dudelnya, padahal mereka juga masih nunggak pajak.

Kalau sempat buka wikipedia, kita akan tahu kalau Ibu Soed sudah menciptakan tidak kurang dari 480 lagu anak Indonesia. Dicatat oleh MURI, museum pencatat rekor yang disponsori produsen minuman juga, walaupun bukan bir hitam. Mungkin tidak ada anak Indonesia yang tidak kenal, minimal satu saja, lagu ciptaan beliau. Bahkan mungkin karena sering menyanyikan lagu-lagunya, anak-anak Indonesia bisa bercita-cita jadi penyanyi.

Ngomong-ngomong, cita-cita yang paling sulit dicapai – mengutip pelawak berdiri Ence Bagus – memang menjadi penyanyi. Ada yang mau jadi penyanyi, kawin dulu dengan Raja Dangdut, baru akhirnya bisa jadi penyanyi. Ada juga yang jadi polisi dulu, lalu keluar cuma supaya bisa jadi penyanyi. Ada pula yang saking ngototnya jadi penyanyi, masuk tentara dulu, jadi menteri, jadi presiden, baru akhirnya cita-citanya untuk menjadi penyanyi tercapai.

Ence Bagus mungkin lupa bahwa ada jalur lain yang sama susahnya untuk bisa jadi penyanyi, yaitu jalur anak penyanyi. Orang mungkin akan bilang kalau justru itu adalah jalur paling mudah, orangtuanya penyanyi, maka anaknya pasti gampanglah jadi penyanyi. Tapi buktinya, saya paksa-paksa bapak saya buat jadi penyanyi supaya saya bisa mengikuti jejaknya, nyatanya gak bisa.

Walaupun begitu, jadi penyanyi dari jalur anak penyanyi tidak sesulit jadi presiden dari jalur anak presiden. Tercatat baru Ibu Mega yang berhasil melakukannya, sementara beberapa yang lain masih berusaha, mulai dari mendirikan partai politik baru sampai keluar dari militer dan nyalon gubernur dulu sebagai batu loncatan. Karenanya tidak heran, kalau kemudian kita lebih mudah menemukan penyanyi yang datang dari jalur ini. Misalnya Ello, Aurel Hermansyah, atau Kevin Aprilio.

Ridho Rhoma, yang tertangkap basah mengonsumsi narkoba, juga termasuk salah satunya. Ridho cukup sabar menahan diri – sekian lama menunggu – untuk tidak tampil di hadapan publik, sampai-sampai gelar ‘Pangeran Dangdut’ sempat diklaim oleh almarhum Ebiem Ngesti, tapi akhirnya beliau kembali berhasil merebut gelar itu. Sayangnya, dengan kelebihan seperti itu, Ridho Rhoma – mungkin lupa petuah ayahnya soal mirasantika – justru jatuh di lubang yang tidak disangka-sangka.

Benar kata bapak saya yang gak pernah bisa jadi penyanyi walaupun sudah saya paksa-paksa. “Merebut jauh lebih mudah daripada mempertahankan.” Kata-kata yang tadinya saya kira cuma berlaku untuk urusan pacaran, karena merebut pacar orang jauh lebih mudah daripada mempertahankan pacar sendiri.

Tapi mungkin ini memang zaman kebalik-balik. Saya ingat dulu ada wakil gubernur yang naik pangkat jadi gubernur, lalu dipuji-puji karena menolak tandatangan APBD yang disusupi anggaran gak jelas oleh DPRD, sekarang didakwa sebagai penista agama. Ada menteri pendidikan yang dulu berangkat dari gerakan Indonesia Mengajar – yang bicara soal tenun kebangsaan – sekarang dituduh merobek tenunannya sendiri. Dan, yang terbaru, ada walikota yang dulu juga dipuja dan dipuji karena alim, eh, sekarang malah dituding Syiah.

Angin memang mudah berubah arah. Tapi Ridho kan gak ikut pilkada, gak nyalon gubernur apalagi presiden…

Mungkin sebenarnya ini gak ada hubungannya sama pilkada atau pilpres. Mungkin ini malah lebih dekat hubungannya dengan cita-cita. Kalau cita-cita yang paling sulit dicapai adalah menjadi penyanyi, mungkin ada cita-cita yang justru sangat mudah diraih. Saya memikirkan satu cita-cita seperti itu: menjadi tukang hujat. Dan, ini masih bisa dibagi menjadi dua: satu yang menghujat karena tidak segolongan, satunya lagi yang menghujat karena kepingin aja.

Golongan yang menghujat karena kepingin aja itu yang paling gampang. Ini adalah pengejawantahan sempurna dari jargon yang lebih banyak nyeseknya daripada benarnya: “Bahagia itu sederhana.” Apalagi yang lebih sederhana, gak pakai bayar, daripada nyukur-nyukurin pejabat yang tertangkap korupsi atau artis yang ketahuan mengonsumsi narkoba?

Kebahagiaannya mungkin setara dengan ketemu mantan lagi jalan sama pacar barunya dan pacarnya itu ternyata gak lebih cakep dari kita.

Sementara golongan yang menghujat karena tidak segolongan itu lebih sulit. Ya walaupun gak sulit-sulit banget. Kalau dia tidak seagama, berarti dia kafir atau komunis. Kalau dia seagama tapi gak kelihatan alim, berarti dia liberal atau anak komunis. Dan kalau dia seagama dan alim, berarti dia Syiah. Pokoknya dia bukan kita dan kita bukan dia. Syarat satu lagi yang tidak boleh dilupakan adalah: ikut pilkada tapi didukung partai lain.

Soal permasalahan hukumnya, siapa yang mau peduli? Kan tinggal minta maaf dan menghapus status. Atau gak menggembok atau puasa dulu mainan media sosialnya. Atau kalau sudah mentok, bisa menghubungi pengacara kondang Mahendra Maskur Sinaga SH, MH, MHD. Lha, Facebook aja dia lawan. Paling-paling lima atau 10 tahun ke depan aplikasi testony akan bikin pertanyaan, “Siapakah dirimu di era pemerintahan Jokowi? Jonru atau Denny Siregar?”

  • dian

    Hahahahah