Sudah Tahu Mahal, Yakin Masih Bercita-cita Jadi Dokter?

Sudah Tahu Mahal, Yakin Masih Bercita-cita Jadi Dokter?

itazuradramas.blogspot.co.id

“Kalau nanti besar, kamu mau jadi apa, Nak?”

“Dokter… Pilot… Arsitek..!”

Ya itulah jawaban paling aman dan sangat mainstream yang diucapkan anak-anak di negeri ini. Sangat akrab di telinga Anda, bukan? Tak ada yang salah dari profesi itu, apalagi menjadi dokter. Bukankah mengobati banyak orang merupakan pekerjaan yang sungguh mulia?

Nah, sepupu saya – yang terpaut dua tahun lebih muda – telah menambah barisan dokter di keluarga besar saya. Ia menyandang gelar sarjana kedokteran gigi dari salah satu universitas ternama di Jawa Barat. Sekarang menjadi dokter koas di rumah sakit gigi dan mulut (RSGM) di sana.

Lumayan kan punya sodara dokter. Kalau sakit bisa minta bikinin resep. Dulu, saya punya kebiasaan buruk. Kalau mau bolos sekolah, nyolong surat keterangan sakit di laci kerja tante. Sekarang kalau mau tambal, bersihin karang, atau cabut gigi, bisa minta tolong sepupu. Pasti gratis, karena sepupu saya orangnya humanis. Ehm…

Ketika kawan-kawan seangkatannya memilih liburan ke Singapura dan umroh ke Mekkah, eh dia malah memilih jadi relawan bencana alam. Liburan itu enak, tau! Umroh itu, super pahala! Tapi kata sepupu saya, membantu orang lain yang membutuhkan pertolongan, apalagi di negeri sendiri, lebih mengasyikkan. Oalah, baiklah…

Suatu waktu, saat acara presentasi penelitiannya di Jogja, saya dan sepupu bertemu. Ia bercerita tentang mimpinya membuka praktik di Kampung Corenda, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, kampung halaman almarhum ayah saya dan ayah sepupu saya itu. Mimpi yang aneh kan, saat yang lain lebih memilih bekerja di rumah sakit besar dan hidup di kota.

Biaya pendidikan dokter memang tidak murah. Mahal, maksudnya. Ini membuat sebagian orang yang kuliah di fakultas kedokteran berorientasi pada rumus balik modal dibanding mengabdi pada masyarakat. Isu tentang komersialisasi pendidikan dokter bukanlah isapan jempol. Isu ini tergolong purba di Indonesia dan diamini oleh mahasiswa kedokteran.

Di salah satu kampus terkenal di Jawa Barat, misalnya, biaya untuk mahasiswa kedokteran dan kedokteran gigi mencapai Rp 13 juta per semester. Belum lagi biaya beli alat-alat medis dan bahan-bahan untuk praktik. Bisa dibayangkan berapa total pengeluaran yang harus dikeluarkan agar bisa lulus menjadi dokter?

Ini yang mendorong sebagian orang menjadikan profesi dokter sebagai lahan mencari uang. Sebab, sejak awal, biaya yang dibanderol saat kuliah terbilang tinggi. Tidak heran, biaya dokter – terutama dokter spesialis – kadang lebih mahal daripada harga obat yang ditebus.

Industri lainnya pun diuntungkan, mulai dari produsen obat hingga asuransi. Jadi, apa yang selama ini diucapkan oleh anak-anak Indonesia dengan lantang – “Saya ingin jadi dokter!” – telah menjadi mata rantai komersialisasi pendidikan.

Tapi, bukan berarti semua mahasiswa kedokteran diam saja, tidak. Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Kedokteran Indonesia pernah unjuk rasa di Kemenristekdikti.

Aksi menuntut reformasi sistem kesehatan juga dilakukan oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dengan cara long march ribuan dokter, dari Kementerian Hukum dan HAM, Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Istana Negara, dan Kementerian Kesehatan.

Para peserta aksi yang terdiri atas dokter, dokter gigi, dan dokter spesialis itu menuntut pemerintah memperbaiki sistem pendidikan kedokteran. Ya, pemerintah menjadi sumber mahalnya biaya pendidikan kedokteran, salah satu penyebabnya adalah aturan dalam Undang-Undang (UU) No 20 Tahun 2013 tentang Pendidikan Kedokteran (UUPK). UU itu menyiratkan mahalnya biaya pendidikan, sebab tidak ada batasan besaran biaya pendidikan.

Biaya Kesehatan

Tidak banyak orang seberuntung saya yang memiliki anggota keluarga dokter, memiliki kelebihan biaya konsultasi gratis, dan biaya obat yang bisa murah, karena mendapat tunjangan keluarga dokter. Namun, banyak orang yang tidak memiliki akses kesehatan semudah saya.

Mereka yang tidak seberuntung saya itu harus hidup kuat agar tidak sakit. Biaya kesehatan mahal, terutama bagi mereka yang tergolong masyarakat menengah ke bawah. Saya teringat seorang kawan di Jogja yang menderita sakit pencernaan. Sekali periksa, dia harus mengeluarkan uang sebesar Rp 200 ribu. Biaya dokternya Rp 70 ribu, harga obatnya Rp 130 ribu.

Setelah beberapa hari, ternyata kondisi kawan saya itu semakin memburuk dan harus dirawat. Dua hari menginap di RS yang sama. Total biaya yang harus dikeluarkan Rp 1,5 juta. Biaya yang cukup besar bagi kawan saya yang kuliah di Jogja dengan beasiswa Bidikmisi.

Memang sedikit sekali dokter dengan hati yang benar-benar mulia. Ah, siapa saya harus menilai kemuliaan seseorang? Tapi saya teringat pada beberapa sosok dokter yang benar-benar peduli pada sesama. Di Solo, ada sosok dokter yang ikhlas membantu tanpa mempedulikan tarif. Namanya Lo Siaw Ging.

Meski usianya sudah senja – 79 tahun – semangat dr Lo masih begitu kuat menerima rata-rata 60 orang pasien yang setiap hari datang ke tempat praktiknya di Jalan Jagalan, Jebres, Solo. Dr Lo tak pernah pasang tarif kepada pasiennya, bahkan sering kali ia menggratiskan biaya pengobatan dan obat untuk pasien miskin.

Menurut dr Lo, tugas dan kewajiban seorang dokter pertama-tama harus melayani pasien. “Fungsi sosial inilah yang paling utama, sesuai sumpah jabatannya. Kesehatan dan keselamatan pasien harus didahulukan melebihi apapun juga,” tutur dr Lo di salah satu media. Dr Lo juga pernah bilang, “Kalau mau kaya ya jangan jadi dokter, tapi pedagang.”

Selain dr Lo, ada juga dr Lie Agustinus Dharmawan, Ph. D, Sp. B, Sp. BTKV, seorang dokter spesialis bedah yang pertama kali mendirikan rumah sakit apung (RSA) pertama di Indonesia. Dr Lie memberikan pelayanan kesehatan secara cuma-cuma kepada masyarakat di daerah miskin dan terpencil, khususnya daerah yang tidak terjangkau oleh pelayanan kesehatan reguler.

Sikap para dokter mulia ini patut didukung penuh oleh pemerintah. Ya dengan memberi akses pendidikan murah kepada anak-anak bangsa yang memiliki keinginan mulia menjadi seorang dokter. Coba tanya ke anak-anak yang bercita-cita ingin menjadi dokter. Apa alasannya? Agar bisa mengobati orang, menolong orang, bukan karena ingin kaya.

Maka, wujudkanlah mimpi mereka, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya. Sebab, revolusi sesungguhnya datang dari tubuh yang sehat…