Cintaku Terhalang Seorang Bapak yang Rasis

Cintaku Terhalang Seorang Bapak yang Rasis

greatinspire.com/Oksana Ariskina

“Pergi kamu! Jangan lagi ke sini macarin Bella! Kamu nggak pantes buat Bella!”

Kata-kata itu tidak akan pernah terlupa, diucapkan dengan pongah oleh seorang bapak sambil menyambit sapu nyaris kena kepala.

Aku berlari, si bapak mengumpat lagi. Sebuah hinaan yang berkolaborasi dengan sandal yang melayang bersama sebuah fakta yang diucapkan sebagai umpatan, “Dasar kucing kampung!”

Ah, sakit.

Halo, perkenalkan. Namaku Loki. Lengkapnya Loki Skywalker. Waktu ibuku, mamah muda imuts melahirkan, anak yang keluar ada tiga. Selain aku, ada Luke dan Leia juga. Seperti kebanyakan kucing lainnya, sampai saat ini aku belum tahu siapa bapakku.

Hmm… Kalau berdasarkan warna bulu sih, tampaknya si om belang rumah depan. Tapi entahlah, berdasarkan cerita, katanya dulu ibuku bunga kampung yang banyak diincar kucing belang dan kucing hidung belang.

Aku tinggal di sebuah rumah, dengan seorang mbak yang mengurusi kebutuhanku. Mulai dari makan, minum, sampai pup dia yang urus. Si mbak ini bahkan ngerecoki urusan reproduksi aku.

Bulan lalu, ketika aku mulai birahi dan kelayapan, si mbak ini malah membawa aku ke dokter. Sampai sana, ternyata aku mau dikebiri. Aku sempat protes, dimana coba harga diriku sebagai laki-laki nanti?

Aku ngerti sih, aku juga nggak sanggup ngurus kalau punya anak tiap tahun. Tapi kenapa nggak cewek-cewek aja yang disteril? Si mbak bilang, biarpun aku kucing jangan jadi patriarkis. Jangan cuma mencegah kucing cewek hamil, tapi juga mencegah kucing cowok menghamili kucing cewek.

Jadi gitu, deh. Biar sekarang tanpa testis, aku juga bisa tetep kawin. Malah lebih bebas, karena nggak khawatir soal nasib-nasib anak kucing yang ditelantarkan karena kebanyakan.

Nah, ngomong-ngomong masalah kawin, dari kemarin aku sudah naksir kucing tetangga. Namanya Bella. Bella ini kucing hidung pesek rambut panjang. Kayak kata manusia yang jatuh cinta, antara aku dan Bella ini sudah tumbuh chemistry. Tapi kalau chemistry bagi manusia masih belum jelas sainsnya, antara aku dan Bella ini sudah jelas kecium feromonnya.

Biarpun aku dan Bella sudah sama-sama suka, dan aku nggak akan menghamili Bella, si bapak yang ngurusin Bella nggak merestui hubungan kami. Padahal ya, aku ini sudah divaksin lengkap, bebas kutu, bebas cacing, dan yang pasti, ganteng.

Alasannya konyol, perbedaan ras antara aku dan Bella. Kalau aku kucing domestik bulu pendek atau biasa dikenal kucing kampung, si Bella kucing ras Persia. Ibaratnya Titanic, Bella itu Rose dan aku ini Jack Dawson. Padahal si bapak ini kemarin memprotes Donald Trump yang katanya mendiskriminasi kaum Muslim. Kan aneh to, sama aku dia juga malah ikutan rasis.

Hal serupa juga terjadi sama si Gukguk Maruguk, anjing lokal yang dipungut tetangga depan komplek. Rasisme yang menimpa dia jauh lebih keji. Konon katanya, dia lahir dan besar tanpa menjadi lucu di jalanan.

Suatu hari, dia diculik dan dimasukkan karung oleh sekelompok pemuda, lalu dibawa ke sebuah rumah. Sampai di sana, si Gukguk sempat lega, karena dia bertemu seekor puppy bermata biru dengan bulu hitam dan putih. Setelah kenalan ternyata anak anjing imut itu termasuk ras Siberian Husky, sekalipun dia diperanakkan oleh breeder di kota sebelah.

Namun, ternyata, biar si Husky disayang-sayang, si Gukguk malah mau dibakar hidup-hidup untuk dijadikan makanan. Katanya pemuda tadi mau berhemat, biar bisa nambah puppy jenis Alaskan Malamute yang harganya selangit itu. Untungnya si Gukguk berhasil kabur, jadinya lolos dari ancaman kematian yang penuh ironi.

Aku pun jadi bingung, sekalian mau nanya sama kalian manusia, kok suka banget sih membeda-bedakan ras dan golongan?

Dulu, manusia dari Nigeria dibedakan dan dijadikan budak oleh imigran Eropa di tanah Indian. Manusia Yahudi dimasukkan ke kamar gas, karena beda ras dengan Arya. Nggak jauh dari sini, manusia keturunan Tiongkok disiksa karena dihubungkan dengan komunis.

Jadi nggak heran sih, kalau manusia juga yang akhirnya membeda-bedakan ras kami para kucing. Pokoknya kalau nggak Persia, ya Anggora, kucing yang buat dipelihara. Tambahannya yang lagi hip sekarang ini paling scottish fold, maine coon, atau british shorthair.

Sementara kucing kampung itu nggak buat dipelihara. Kalaupun iya, jadi peliharaan kelas bawah. Si mbak yang ngurus aku pernah ditanya sama orang. “Ngapain melihara kucing kampung? Mending melihara Anggora!” Ngomongnya pas ada aku juga. Kan sakit rasanya, duh.

Padahal sebenarnya semua kucing itu sama. Di hadapan Tuhan, semua kucing itu setara. Kalau slogan ‘semua kucing setara, tapi beberapa kucing lebih setara daripada yang lainnya ’ itu sih bikinan manusia. Inget kan, ‘kaki empat baik, kaki dua jahat!’

Jadi begini manusia yang ingin diterima apa adanya tanpa memandang fisik – namun selalu ingin terlihat lebih cantik, fenomena vis a vis kucing ras murni dan kucing kampung ini bukanlah hal yang begitu pelik.

Ini semua hanyalah aktualisasi teori klasik, sebuah peliyanan sebagian kucing lewat tampilan luarnya, yang ekistensinya bisa dikontrol oleh sepihak kuasa, sehingga bisa dijadikan komoditas untuk menumpuk harta. Yo, yo, yo! Jadi ngerap, deh.

Selama ini, kucing ras atau kucing eksotis sukses dikonstruksikan sebagai standar keimutan ideal para kucing. Kucing ‘bulu lebat, hidung pesek, dan ekor kemoceng’ itu ‘tinggi, langsing, dan putih mulus’ nya manusia. Padahal nyatanya, sebagian besar selebriti kucing di dunia ini merupakan kucing yang diselamatkan di shelter.

Misalnya Nala, kucing yang follower instagramnya dua kali followernya Awkarin, merupakan kucing ras campuran yang waktu dijemput nggak jauh beda sama kucing depan rumah. Gitu juga dengan seleb lain, seperti Hamilton The Hipster Cat, Oskar The Blind Cat, bahkan Lil’ Bub.

Eh, jangan lupakan aku, abang Loki ganteng yang membuat Bella si kucing harga delapan juta klepek-klepek jatuh hati. Karena yang bikin lucu itu kasih sayang, bukan tampilan fisik apalagi ras.

Seperti cerita klasik konsumerisme lainnya, rasisme pada kucing kampung adalah, mengutip Taylor Durden, the by-products of a lifestyle obsession. Cieh.. Kalau jaman dulu, cuma disebut ‘kucing’ aja. Maka, penyematan embel-embel ‘kampung’ adalah bentuk penistaan, karena frasa ‘kampung’ telah lama mengalami degradasi.

Makanya deh, ada orang yang mau beli kucing mahal, sementara di luar rumah banyak kucing yang sebenarnya lebih membutuhkan kasih sayang.

Jadi akhirnya, apa kamu mau ditipu buat buy things you don’t need, to impress people you don’t like, karena advertising has you chasing persian and angora? Ehe ehehe, harusnya nama ku tuh Loki Durden Fight Club, yak?

Akhir kata, semoga lewat tulisan ini si bapak yang ngurusin Bella mau melunakkan hatinya, sehingga aktivitas gigit-gigit leher sebelum kawin sama Bella kemarin bisa dilanjutkan tanpa sambitan sapu. Aku sadar kok, aku memang kucing biasa, yang tak punya apa, tapi aku lah yang dicintai Bella. Meooong..!

TIDAK ADA KOMENTAR