Antara Chester, Chris, Curtis, dan Cobain

Antara Chester, Chris, Curtis, dan Cobain

Chester, Chris, Curtis, dan Cobain.

Mei lalu, Chris Cornell – vokalis Soundgarden – memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri. Sebagai sobat karibnya, Chester Bennington – vokalis Linkin Park – kemudian menulis catatan ini di akun Instagram.

Halo Chris,

Aku bermimpi tentang The Beatles tadi malam. Aku terbangun dengan Rocky Raccoon yang terngiang di kepalaku dan tatapan cemas di wajah istriku. Dia mengatakan bahwa temanku baru saja meninggal dunia. Pikiran tentangmu membanjiri kepalaku dan aku menangis.

Aku masih menangis, dengan sedih, dan juga rasa syukur karena telah berbagi momen spesial denganmu dan keluarga tercintamu. Kamu telah mengilhamiku dalam banyak hal yang tidak akan pernah kamu ketahui. Bakatmu murni dan tak tertandingi.

Suaramu adalah suka cita dan rasa sakit, kemarahan dan pengampunan, cinta dan sakit hati yang terbungkus dalam satu kesatuan. Aku rasa itulah kita semua. Kamu membantuku memahami hal itu.

Aku hanya menonton videomu menyanyikan ‘A Day in the Life’ dari The Beatles dan memikirkan mimpiku. Aku ingin berpikir bahwa kamu telah mengucapkan selamat tinggal dengan caramu sendiri. Aku tidak bisa membayangkan dunia tanpa dirimu di dalamnya. Aku berdoa kamu menemukan kedamaian di kehidupan berikutnya.

Aku mengirimkan cintaku kepada istri dan anak-anak, teman, dan keluargamu. Terima kasih telah mengizinkanku menjadi bagian dari hidupmu.

Dengan cinta,

Kawanmu.

***

Pada dini hari waktu Indonesia, Chester Bennington dilaporkan tewas dengan cara gantung diri, sama seperti sohibnya, Chris Cornell. Ya betul, Chester mati pada tanggal 20 Juli atau bertepatan dengan tanggal kelahiran Chris.

Ahhh… Kenapa sih ada pilihan untuk bunuh diri di dunia ini?

Dengan kegeraman dan beragam kenangan, saya berusaha untuk menulis tentang mereka. Awalnya, saya ingin menuntaskan satu novel karya Yukio Mishima. Pengarang Jepang yang juga bunuh diri, hadeuhh… Mishima mati dengan cara seppuku, yaitu menyabet perutnya di hadapan banyak prajurit.

Namun, niat mengkhatamkan novel Mishima itu pupus. Saya memilih membuka Youtube, menyetel lagu-lagu Linkin Park, dan mulai menulis…

Mei lalu, Linkin Park kembali mengeluarkan album baru, tapi saya sempat-sempatnya berkomentar sinis, “Linkin Park jadi ngepop ah.”

Tapi kalau soal musikalitas dan tetek bengeknya, tidak perlu diragukan lagi. Ada suatu masa saat kita dipenuhi amarah dan butuh yang namanya lagu-lagu beroktan tinggi, Linkin Park adalah jawabannya.

Linkin Park memulai debutnya pada tahun 2000 dengan meluncurkan album Hybrid Theory. Pada 2003, album keduanya, Meteora, hadir dengan mendulang kesuksesan. Di album ini, banyak lagu yang asyik dan mungkin sangat akrab di telinga kita, seperti Somewhere I Belong, Faint, Numb, dan Breaking the Habbit.

Hybrid Theory hadir ketika MTV masih di ANTV. Video klip In the End yang surealis itu, saat Chester nyanyi di atas menara tinggi, selalu saya tunggu. Setelah MTV hijrah ke TV lain, Meteora turun. Selain lagu-lagu latar dari Samurai X dan Inuyasha, lagu Breaking the Habit dengan video klip berupa kartun bergaya anime begitu memikat.

Album Minutes to Midnight muncul pada era ketika mengunduh satu lagu saja lamanya seperti kalau sekarang mengunduh sebuah film berkualitas BRRip. Maka, membeli CD bajakan adalah pilihan tepat. Ah, maafkan saya, Ches…

Bersama kakak lelaki saya, album-album Linkin Park tadi saya dapatkan bajakannya di Pasar Kota Kembang atau Kotkem. Pusat jualan keping-keping cakram padat bajakan itu berada di belakang Masjid Raya Bandung.

Album ketiga tersebut mengusung single utama What I’ve Done. Ketika itu, saya sendiri mulai paham Bahasa Inggris, jadi bisa menyanyikan liriknya meski dengan aksen Sunda. Lagu-lagunya paling sering diputar ulang di komputer Pentium 4 waktu itu. Dan, Chester Bennington selalu bernyanyi dan teriak-teriak di Winamp.

Setelah akses internet makin cepat dan murah, album A Thousand Sun muncul, dan pastinya banyak diunduh orang. Bersama band-band rock major lainnya macam Muse, Linkin Park jadi suka bereksperimen.

Ada kecenderungan makin ke sini, band-band rock tadi bersama Linkin Park jadi lembek. Semacam ada tambahan dubstep-dubstep elektro gitu. Tapi yang pasti, apapun albumnya, apapun jenis musiknya, Linkin Park adalah band yang sulit untuk dibenci.

Tapi, bagaimana nasib Linkin Park setelah ‘ditinggal’ Chester? Masih misteri…

Yang pasti, gara-gara Chester, saya kembali teringat beberapa tokoh idola yang juga mati bunuh diri. Hemingway yang menembak dirinya. Virginia Woolf yang menenggelamkan diri. Sylvia Plath yang meracuni diri dengan gas dari oven.

Oh ya, masih banyak lagi di antaranya Ryunosuke Akutagawa, Vincent van Gogh, Yasunari Kawabata, Ian Curtis, Kurt Cobain, David Foster Wallace, Robbie Williams, dan lainnya.

Seperti yang ditulis Albert Camus dalam The Myth of Sisyphus bahwa hanya ada satu masalah filosofis yang serius dan itu adalah bunuh diri. Memutuskan apakah hidup itu layak atau tidak layak untuk dijalani adalah jawaban atas pertanyaan mendasar dalam filsafat.

Soal bunuh diri, saya juga teringat satu novella nyeleneh dari Etgar Keret. Kneller’s Happy Camper yang berlatar dunia orang mati, yang diperuntukkan kepada mereka yang bunuh diri. Sebuah dunia tanpa senyum dan membosankan. Semacam parodi tingkat lanjut drama No Exit-nya Sartre.

Kemudian, saya membayangkan Chester berada di pestanya Chris. Di dunia tanpa senyum itu, Chester bersama Chris, juga Curtis dan Cobain, sedang ngobrol-ngobrol dan iseng mengusulkan ide membentuk boyband beraliran rock bernama 4C.

Ah, mungkin itu yang bisa meredakan kesedihan karena mendadak kehilangan mereka. Berpisah pas lagi sayang-sayangnya.

Terima kasih, Chester Bennington…

Seperti dalam lirik lagumu yang fatalistik itu: “I tried so hard, and got so far, but in the end, it doesn’t even matter.

  • I AM RYLL 09

    “I tried so hard, and got so far, but in the end, it doesn’t even matter.” RIP

  • Muhammad Elfanza

    Kangen suara khasnya chester :'(

  • Rifaldo Surya Abdi

    kasian ya gan… kok bunuh diri ya :'( Hidup seseorang memang aneh…

  • Sangat disayangkan ya padahal suaranya itu…. Namun kasian malah bunuh diri

  • Reza Haris

    Is that shit

  • Sundea Salamatahari

    Penutupnya nendang 🙂

  • Nanang Sugianto

    Dia sudah menuntaskan Breaking the Habit menjadi kenyataan pahit
    Too bad, not good

  • Nanang Sugianto

    What I’ve Done is done 🙁