Mengapa Kita Meributkan ‘Chat’ Berkonten Porno?

Mengapa Kita Meributkan ‘Chat’ Berkonten Porno?

Ilustrasi (fortune.com)

Teknologi internet telah menciptakan ruang yang absurd. Di satu sisi, keingintahuan manusia yang begitu besar kini dipuaskan oleh kehadiran mbah Google yang serba tahu.

Di sisi lain, keberadaan media sosial telah memuaskan keingintahuan manusia terhadap hal-hal yang sebetulnya tak mesti diketahui.

Hampir tiadanya sekat privat di media sosial telah melabrak dinding yang selama ini dibangun oleh peradaban manusia di seluruh dunia. Termasuk ketika seorang junjungan disangka melakukan percakapan (chat) berkonten pornografi di WhatsApp.

Kini, semua orang ikut sibuk memperdebatkan chat tersebut. Ada yang mencerca soal pencitraannya, meributkan perkara hukumnya, hingga bawa-bawa teori konspirasi. Ributnya melebihi ketika ia melontarkan hate speech.

Sekarang itu memang gampang bagi seseorang untuk mengunggah opini pribadi tentang kejadian, tentang orang lain, bahkan tentang hal-hal yang sesungguhnya tidak ada alias menciptakan kabar bohong (hoax).

Tapi berkat kemudahan itu pula, ruang publik dengan mudahnya tercipta sebagai ruang untuk melontarkan gagasan, pendebatan, melemparkan kritik, dan sebagainya. Kemudahan itu seharusnya memacu kita untuk lebih rasional.

Seperti yang dijelaskan oleh Jürgen Habermas bahwa ruang publik adalah ruang yang mandiri dan terpisah dari negara dan pasar. Ruang publik ini lebih berkualitas daripada sekadar ranah media sosial kita – yang debat cantikan Raisa atau Isyana saja bisa jadi obrolan panjang.

Dengan ruang publiknya, Habermas mau mengembangkan sebuah model yang menunjukkan bagaimana rasionalitas terwujud dalam interaksi sosial sehari-hari. Bahwa setiap warga negara mempunyai akses untuk mengusung opini publik. Seperti ketika Voxpop menayangkan tulisan-tulisan opini semacam ini.

Habermas menulis The Theory of Communicative Action. Di dalamnya, ada pendapat bahwa masyarakat modern terdiri atas dunia-kehidupan dan sistem. Nah, si dunia-kehidupan itu jadi wadah untuk aksi komunikatif.

Orang-orang dimungkinkan untuk mencapai tujuannya secara kooperatif dengan pemahaman terhadap situasi yang didefinisikan bersama-sama. Kalau dalam suatu masyarakat ada keterbukaan pada logika dan pendapat liyan, maka potensi rasional akan tumbuh.

Orang-orang bisa bersepakat melalui pertukaran persetujuan dan ketidaksetujuan yang menggunakan logika. Niscaya, kita tidak lagi bersilat lidah yang ujung-ujungnya aporia dan saling nyinyir bahkan saling mengkafirkan.

Format media sosial kekinian sebetulnya membuat ruang publik makin parah. Twitter, misalnya, hanya menyediakan sedikit ruang untuk berpendapat dalam sebuah kicauan. Ketika waktu berpikir semakin sedikit, bukan tidak mungkin opini yang dilontarkan menjauh dari rasionalitas. Asal nyablak aja, kalau kata anak kekinian.

Maka sebetulnya, ruang publik kita ini tidak ideal. 1001 orang bisa beropini, tapi 1002 opini yang terlontar garing, tidak bermutu, dan minim rasionalitas.

Itu mengapa, pertama, kita harus berhati-hati mengeluarkan pendapat dan menyerapnya. Kedua, harus menyediakan ruang yang banyak untuk refleksi, kemudian menulis. Sebab, mematangkan ide dalam tulisan adalah sebagian dari keimanan masyarakat modern.

Sudah menulis, belum? Menulis status, maksudmu?

Alih-alih kepo tentang kasus chat porno di WhatsApp – apalagi membayangkan isinya – kita perlu berpikir lebih banyak dan panjang soal radikalisme dan hate speech yang membahayakan. Sebab, ruang publik ideal menurut Habermas menuntut pula perubahan sosial.

Perubahan itu terjadi untuk memastikan bahwa dunia-kehidupan atau ruang publik ada secara mandiri. Semakin melibatkan perkara kekuasaan dan kapital, manusia bisa semakin irasional.

Sungguh mengerikan cara pikir yang irasional. Kemanusiaan bisa kalah. Perkara privat bisa dianggap lebih penting daripada perkara sosial. Terlebih kalau itu sudah masuk ranah hukum.

Berpikirlah masak-masak dan menulis di ruang publik. Kalau kata mbah Pram, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

Percayalah, menulis di ruang publik – misalnya tentang perkara sosial – mampu memperbaiki dunia. Maka, terberkatilah ruang macam Voxpop!

  • Maman Suratman

    Menarik. Hanya saja, paragraf ketiga dari terakhir itu membuat saya bertanya-tanya. Apa maksud dari “Perkara privat bisa dianggap lebih penting daripada perkara sosial”? Kesan sosialisnya tampak di tulisan yg sebenarnya ingin mengusung ide liberalisme (kebebasan individu) ini..hee