Cerita tentang “Malaikat Penjaga” di Tas Hermes

Cerita tentang “Malaikat Penjaga” di Tas Hermes

Ima Bunga dan tasnya (Dokpri)

Seorang perempuan cantik dengan blazer hitam duduk persis di depanku. Kutaksir usianya sekitar 30. Sejak aku masuk ke cafe ini, ia terus menatapku. Ketika temannya seorang perempuan berpenampilan artsy datang, Si Blazer mencondongkan tubuhnya dan berbisik.

“Tasnya keren, ya…”

Temannya menoleh sekilas lalu mengangguk setuju, “Ember. Keren banget.”

“Tapi… modelnya nembak Hermes, ya?”

Nembak? Itu Hermes asli, tau.”

Mata Si Blazer terbelalak, “Hermes asli tiga ratus juta dicoret-coret?! Gila apa?!”

“Ke mana aja lu? Lagi tren sekarang. Lagian itu yang ngelukis Nasirun, tau, seniman terkenal, yang punya tas itu anaknya.”

Kalau aku bisa bersuara dengan bahasa manusia, pasti aku langsung menceritakan apa yang baru saja kudengar pada Ima Bunga, sahabatku. Ima yang sedang asyik dengan gawainya sepertinya tidak mendengar bisik-bisik itu.

Oh, iya. Perkenalkan. Namaku Hermes Black Epsom Sellier Kelly 28 cm Gold Hardware. Terlalu panjang? Ok. Panggil aku Kelly Angel. Lukisan angel – lebih tepatnya guardian angel atau malaikat penjaga – yang meliputiku membuat aku sangat istimewa.

Aku bukan satu-satunya di dunia ini. Ada tas Hermes Kim Kardashian yang bersalut corat-coret sensasional. Ada tas Hermes Lady Gaga, Si Eksentrik yang rebellion. Ada juga tas Hermes “Princess Syahrini yang tak lepas dari kecetarmembahanaannya. Atau, tas Hermes ibu sosialita, seperti Liliana Tanoesoedibjo yang mencitrakan keanggunannya.

Kami, tas Hermes, menentukan kelas sosial seseorang. Tapi kami tidak menentukan identitas personal kami sendiri. Siapa kami sangat bergantung pada siapa yang menjinjing kami dan segala pernak-perniknya.

Itu sebabnya, begitu tiba di Yogya setelah menempuh perjalanan panjang langsung dari Paris, aku gugup setengah mati. Hari itu, aku yang masih terbungkus rapi menunggu calon penjinjingku pulang. Jantungku berdebar.

Di dalam hati, aku bertanya-tanya sendiri. Seperti apa dia nanti? Cantik atau tidak? Bagaimana selera fashion-nya? Siapa teman-temannya? Akankah ia memperlakukanku dengan baik? Apakah ia bakal membuatku terlihat lebih keren atau sebaliknya?

Ketika mendengar pintu kamar dibuka, aku semakin gugup. Saat kemasanku dibongkar, aku mau pingsan sekaligus penasaran. Satu… dua… ti…

“Wah, bagusss!” seorang gadis memekik girang.

… ga. Ok. Dia Ima Bunga, cantik sekali. Kulitnya bersih, rambutnya indah, dan kakinya jenjang. Ia punya selera fashion yang keren dan elegan. Di tangannya, aku pasti tampak sangat berkelas. Kecemasanku luruh. Aku lega selega-leganya.

Aku semakin lega ketika tahu Ima merawatku dengan baik. Aku dibawa pergi ke tempat-tempat yang istimewa. Ima juga selalu berdandan sekeren model saat membawaku berjalan-jalan. Lingkungan Ima bukan lingkungan sembarangan. Ayahnya, Om Nasirun, adalah seniman miliuner papan atas peraih Affandi Adi Karya dan Philip Morris Award.

Buah tangan Om Nasirun diburu kolektor dengan harga ratusan juta – bisa lebih mahal daripada aku. Bagi banyak sosialita, memiliki karya Om Nasirun adalah suatu kebanggaan.

Tak sampai satu tahun setelah kedatanganku, Ima meminta Om Nasirun melukis malaikat di permukaanku. “Suka aja, Pa, jadi kayak guardian angel,” pinta Ima. Dalam rangka sayang anak, Om Nasirun membalutku dengan lukisan malaikat penjaga yang artistik dan istimewa.

Aku pun semakin berbeda dengan Hermes Black Epsom Sellier Kelly 28 cm Gold Hardware lainnya. Apa lagi terbubuh tandatangan Om Nasirun himself padaku. Aku bangga sekali.

Aku kembali melirik Ima yang masih asyik dengan gawainya. Kemudian kembali memperhatikan Si Blazer dan Si Artsy yang juga asyik menatap gawai Si Artsy.

Customized Hermes Bag ternyata lucu-lucu juga, ya. Tapi sorry to say yang punya Kim Kardashian buat gue tetap buruk rupa,” komentar Si Blazer.

“Padahal itu yang lukis seniman juga, lho,” tanggap Si Artsy.

Si Blazer terbelalak, “Masa? Kok hasilnya beda sama tas di depan kita? Abal-abal apa senimannya?”

Tas Kim Kardashian yang dilukis (mirror.co.uk)
Tas Kim Kardashian yang dilukis (mirror.co.uk)

Ok. Aku cerita sedikit tentang tas Hermes Kim Kardashian. Kanye West memberi Kim Kardashian hadiah Natal istimewa; Hermes Birkin Bag yang dilukis oleh seniman kontemporer  George Condo. Bukan seniman abal-abal. Tapi jujur, ya, lukisan yang dibuat dalam tempo lima belas menit saja itu memang gross looking adanya.

Ketika diwawancara tentang lukisannya di tas Kim, George Condo menjawab ringan, “Intinya adalah penghujatan terhadap ikon konsumerisme. Karya ini tidak akan berarti apa-apa, jika saya buat dan simpan di lemari saya sendiri. Tapi di tangan Kim Kardashian, ia jadi punya atmosfer yang berbeda. Akhirnya semua masalah konteks,” papar Condo sambil tertawa.

Tas Kim Kardashian itu adalah salah satu Hermes Birkin Bag termalang yang pernah aku tahu. Seperti ucapan sastrawan Chairil Anwar, “Ia sekali berarti, sudah itu mati.” Ternyata masyarakat tetap punya standar visual dan sense estetis tertentu.

Di tangan Kim Kardashian, tas yang memang digambar asal-asalan tersebut tak lantas tampak lebih berharga, apalagi diinginkan. Kim pun hanya sekali terlihat membawanya muncul ke publik. Lalu usai sudah. Sekian dan terima kasih.

Tiba-tiba aku bersimpati pada Hermes Birkin Bag Kim Kardashian. Di mana dia dan seperti apa nasibnya kini? Apakah pengorbanannya memberi kontribusi yang berarti pada dunia seni? Atau seperti kembang api, ia hanya dibakar untuk meletupkan sensasi sesaat?

“Akhirnya jelek sih jelek aja, ya, biar kata yang pakai Kim Kardashian dan pelukisnya seniman terkenal,” cetus Si Blazer sambil tertawa.

Si Artsy ikut tertawa. “Tapi yang itu sebaliknya. Bagus ya bagus aja,” ujar Si Artsy sambil menunjukku dengan gerakan kepala.

“Iya,” sahut Si Blazer.

“Gue yakin Nasirun nggak asal ngelukis di situ. Itu malaikat penjaga buat anaknya sendiri. Kalau buat gue, itu yang bikin lukisan di depan kita jadi piece of art yang priceless,” papar Si Artsy lagi.

Beberapa saat kemudian, Ima bersiap-siap meninggalkan cafe. Si Blazer dan Si Artsy masih mengobrol ngalor-ngidul. Tapi ketika Ima beranjak dan melewati meja mereka, Si Blazer dan Si Artsy mendadak diam. Tatapan mereka mengantarku sampai ke pintu cafe. Selepas itu, ‘keakraban’-ku dengan Si Blazer dan Si Artsy segera retas.

Angel adalah potongan karya Lang Leav yang pernah dikutip Ima di akun instagramnya, The halo lifts and the angel leaves their body as the person exits your life. They will be a stranger to you once more.”