Cerita dari Bilik Pengantin Anyar, Muda, dan Labil

Cerita dari Bilik Pengantin Anyar, Muda, dan Labil

aisii.deviantart.com

Lupakan sejenak Soe Hok Gie. Nasib tersial manusia bukanlah umur tua seperti yang diucapkannya dan seringkali dikutip oleh aktivis di mana-mana. Nasib tersial adalah saat kamu harus terpaksa bersebelahan dengan kamar pengantin anyar, muda, dan labil.

Cobalah bayangkan sebentar. Apakah ada yang lebih sial daripada gambaran ini? Ketika kamu masih sibuk berburu Pokemon alih-alih mencari jodoh, kamu cuma bisa menelan ludah tatkala mempelai bermesra-mesraan di kamar sebelah yang hanya dipisahkan oleh triplek.

Kamu pun menjadi korban pertama, ketika dua sejoli tersebut terlibat pertengkaran yang kamu sendiri tidak bisa berbuat banyak, kecuali punya jurus untuk menghindari lemparan sepatu dan sandal. Dan sialnya, itu terjadi pada saya. Mungkin para pembaca juga pernah mengalaminya.

Di rumah saya terdapat 3 kamar. Awalnya saya mendiami kamar paling timur, bersebelahan dengan kamar abah dan umi di kamar tengah. Semuanya biasa-biasa saja, abah penggemar Rhoma Irama, tapi enggan mengikuti anjuran Bang Haji untuk tidak begadang kalau tiada artinya.

Beliau memilih tidur di langgar (mushola kecil yang ada di setiap rumah orang Madura), sedangkan umi seringkali tidur ditemani cucu-cucunya.

Mungkin ini memang jalan takdirku. Saat sepupuku menikah karena dijodohkan dengan sepupunya, sepupu saya yang sedianya menempati kamar paling barat kudu pindah ke kamar tengah. Sebab, menurut ajaran nenek moyang, tidak elok jika orang tua berada di kamar tengah, sementara ada anak putunya yang kawin.

Saya manggut, sebab hak untuk bersuara tidak berlaku ketika suatu hal sudah dibenturkan pada adat dan tradisi. Apalagi kalau orang tua sudah nyindir dengan kalimat seperti ini, “Uang kuliah saja masih minta.”

Idealisme dan segala macam teori yang kamu peroleh di bangku kuliah dan buku-buku keren rontok seketika. Jadi terpaksa mengalah. Alamak… Sudah jomblo, ditambah harus bersebelahan dengan pengantin anyar. Sial betul.

Perlu diketahui terlebih dahulu, saya bukan jenis orang yang suka menguping pembicaraan orang, tapi kuping juga tidak didesain secara otomatis agar tidak mendengarkan segala hiruk-pikuk yang terjadi di sekitar.

Pada minggu-minggu pertama pasca walimatul ursy, saat dunia hanya milik sang pengantin baru, saya yang memang introvert dan jarang keluar dari kamar lebih banyak mendengar ranjang yang berderit, radio yang dinyalakan sampai pagi, hingga berbunyi seperti kertas yang diremas krasak-krusuk.

Ini semacam metode penyamaran dan pengalihan yang patut untuk dicontoh oleh para pengantin anyar, yang kamarnya hanya dibatasi triplek dengan ruangan sebelahnya.

Pada masa awal perkawinan, kedua pengantin baru memang lebih banyak diam. Ini seperti celoteh yang seringkali diutarakan para komentator sepak bola Indonesia pada pertandingan babak pertama, “Mencoba meraba kekuatan lawan masing-masing.”

Alhasil, sekali-kali hanya terdengar tawa-tawa yang cekikikan dan bisikan-bisikan. Aduhai. Tahu enak begitu, ingin sekali cepat menyusul menikah, mengabaikan skripsi yang sedang disusun meskipun ketika itu modal dan pasangan sebetulnya belum ada.

Dua-tiga bulan berlalu. Kedua pengantin sudah mulai berkomunikasi, meskipun obrolan lebih banyak mengenai serial Uttaran atau Tukang Bubur Naik Haji yang entah masih jualan bubur atau tidak setelah pulang berhaji.

Ranjang pun terus berderit wabil khusus saban Kamis malam-malam Jumat. Tawa yang cekikikan perlahan-lahan mulai berganti dengan tawa yang lebih keras. Sampai di situ, saya masih percaya bahwa menikah itu memang perkara paling menyenangkan di dunia.

Namun, lambat laun, ketika usia pernikahan memasuki 1-2 tahun, ketika barangkali pasangan itu baru menyadari bahwa perkara pernikahan lebih pelik daripada sekadar mencari seorang untuk menggantikan fungsi bantal-guling.

Sementara beras hasil remoh di dapur sudah habis. Ketika panu, kadas, kurap, dan kutu air pasangan di badan masing-masing mulai terkuak. Percekcokan seringkali tak dapat dihindarkan.

Apalagi di usia yang belum matang, pertengkaran kerapkali timbul dari suatu hal yang remeh, seperti misalnya cekcok lantaran hambarnya sayur di dapur.

Si cowok bilang bahwa istrinya tak lihai memasak, si perempuan menyerang balik serupa counter attack tim besutan Jose Mourinho dengan menyinggung suaminya yang tak mampu membeli satu sachet bumbu masak.

Ranjang tetap berderit, tapi saya lebih banyak mendengar gebrakan pintu, caci maki, dan lemparan sandal. Pada saat itu juga saya memutuskan untuk memundurkan rencana pernikahan sebelum dapat kerja yang layak. Bahkan sempat memikirkan untuk menjadi jomblo abadi. Naudzubillah…

Memang tidak ada yang salah dengan pernikahan. Bahkan agama menganjurkan menyegerakan nikah untuk menghindari perzinahan. Tapi tentu saja dengan catatan harus siap lahir batin. Kalo siapnya cuma hafalan ijab qobul dan kolor doang ya percuma.

Sepupuku itu lebih muda daripada saya. Ketika misalnya saya menyuruhnya menonton sinetron pernikahan dini yang dibintangi Sahrul Gunawan dan Agnes Monica, orang seusia dia akan menilai Agnes Mo secara fisikal. Tanpa mau tahu pesan dakwah dalam sinetron tersebut: hindari menikah di usia muda.

Tanpa bermaksud menggeneralisasi dampak buruk dari sebuah pernikahan muda. Tentu banyak juga pasangan yang hidup bahagia karenanya. Tapi data tak bisa bohong.

Seperti yang terungkap dari hasil penelitian Unicef pada 2005, sebuah organisasi yang barangkali pertama kalian tahu dari kostum klub sepak bola Barcelona.

Dalam penelitiannya, Unicef mengangkat soal kekerasan domestik yang dialami anak-anak yang menikah atau dinikahkan pada usia muda. Hasilnya, sebanyak 67% mengalami kekerasan dalam rumah tangga dibandingkan 47% pada perempuan dewasa yang menikah.

Di Indonesia sendiri, berdasarkan penelitian yang dilakukan Plan  Indonesia, organisasi kemanusiaan yang fokus pada perlindungan dan pemberdayaan anak, sebanyak 44% anak perempuan yang menikah dini mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dengan tingkat frekuensi yang tinggi.

Sisanya 56% anak perempuan mengalami KDRT dalam frekuensi rendah. Itu belum menyebut masalah-masalah lain yang ditimbulkan, seperti misalnya terputusnya akses pendidikan, komplikasi psikososial, kesehatan reproduksi, dan lain-lain.

Jadi, yang gebrak-gebrakan sama lempar sandal dan sepatu tadi itu bukan dongeng belaka kan?

Alangkah baiknya buat para orangtua memasang kualifikasi dulu buat anak perempuannya, sebelum menerima pinangan calon menantu. Tidak harus bergelar S2 juga, minimal anaknya bisa membedakan antara lengkuas, jahe, temuireng, dan kunyit.

Buat cowok-cowok ABG yang sudah kebelet nikah, saran saya coba buka resleting dan perhatikan secara cermat dan seksama. Sudah lurus opo ojok?