Di Balik Tren: Ngurusin Urusan Orang
CEPIKA-CEPIKI

Di Balik Tren: Ngurusin Urusan Orang

Ilustrasi (valuebound.com)

Pada malam Liverpool ditahan imbang rivalnya, Manchester United, konon terjadi bentrokan antar kedua suporter di… acara nobar di Jakarta! Dengar berita kayak gini, rasanya seperti mendengar kabar Bobotoh tawuran sama The Jak, padahal yang main Persisam lawan Persikabo.

Tapi mungkin sepak bola memang melintasi batas-batas negara, suporter satu tim bisa ada jauh dari tempat asal tim tersebut. Apalagi kalau tim tersebut langganan juara kayak Liverpool, eh?

Saya sebenarnya cuma takut besok-besok ini jadi hal yang biasa, orang berantem untuk sesuatu yang bukan urusannya. Orang pacaran ribut di jalan, yang berantem malah orang di belakang-belakangnya. Mungkin si mas yang satu dukung cowoknya, sementara temannya bela yang cewek. Yang pacaran siapa, yang berantem siapa.

Jangan sinis dulu, buktinya Jessica dan Mirna pernah punya pendukung sendiri-sendiri kan? Dan, pendukungnya ini pakai berdebat pula di media sosial. Padahal, saudara bukan, kenal juga nggak.

Belakangan ini ngurusin urusan orang sepertinya menjadi tren. Perkara Ahok yang ngurusin agama orang masih belum kelar, eh, Habib Rizieq ikut-ikutan ngurusin agama orang juga.

Tapi Habib Rizieq itu memang istimewa, polisi jadi sibuk banget nerima laporan-laporan soal Habib Rizieq doang. Mulai dari soal bidannya Tuhan, dugaan pelecehan Pancasila, logo mirip palu-arit di uang baru, sampai soal jenderal hansip.

Kata orang, kalau orang gampang tersinggung, mungkin mainnya kurang jauh, pulangnya kurang malam, dan kopinya kurang kental. Begitu banyak orang yang tersinggung sama Habib Rizieq, saya curiga beliau mainnya kejauhan, pulangnya kemalaman, dan kopinya, jangan-jangan malah gak dikasih air sama sekali tapi langsung diminum waktu masih biji.

Perkara Ahok juga masih panjang. Pembelaannya dilaporkan lagi ke polisi karena masih dianggap menista agama, adiknya keseleo lidah soal Al-Quran, Habib Novel merasa namanya dicemarkan, Ahok balas melaporkan Novel, plus melaporkan juga Irena Handono. Pengadilan tahun ini isinya kayaknya cuma Ahok sama Habib Rizieq cs doang. Mesra banget.

Pilkada juga sama. Yang pilkada siapa, yang berantem siapa. Gara-garanya siapa lagi kalau bukan Ira Koesno, eh, maksud saya media sosial. Toh, orang Jakarta yang mau milih udah sampai pada kesimpulan: “Bagiku calon gubernurku, bagimu calon gubernurmu”.

Yang ribut malah orang yang gak punya hak pilih. Bisa jadi yang ribut malah orang Pamekasan sama orang Polewali Mandar atau orang mana gitu.

Debat – yang akhirnya diikuti juga oleh Mas Agus – yang seharusnya jadi ajang buat para pemilih menilai program-program cagub yang mau mereka pilih, ditonton orang cuma untuk mencari kelemahan calon yang bukan pilihannya. Terus dibuli. Terus dibikinin meme. Istighfar mas, istighfar…

Padahal, di daerahnya masing-masing kan ada pilkada juga. Atau, kalau belum ada, ya sabar, nanti kan ada juga. Kalau yang nge-gas Mba Anissa Pohan, ya kita bisa maklum. Suaminya kan ikut nyalon.

Saya nulis gini bukan sengaja supaya Mba Anissa baca lho ya. Anda jangan marah dulu, Mba…

Tapi beruntunglah Indonesia dan debat cagub Jakarta masih punya Ira Koesno. Kehadiran Ira Koesno bagaikan parasetamol di tengah demam, bikin adem. Dan, yang paling penting, ketika semua orang mengira malam debat itu adalah malamnya para pemilih Jakarta, maka Ira Koesno mengubah malam itu menjadi malamnya para jomblo.

Jomblo-jomblo jadi punya alasan buat tetap njomblo! Empat puluh tujuh tahun dan masih kinyis-kinyis, para jomblo lantas menyusun hipotesa bahwa menjomblo adalah obat awet muda.

Yang paling sial malam itu ya bapak-bapak se-Indonesia Raya. Bukan, bukan karena yang duduk di sebelah mereka saat nonton debat malam itu tidak semulus Ira Koesno, tapi karena mereka kemudian dituduh jadi biang penyebab ibu-ibu tidak bisa tampil secakep Mba Ira lagi.

Bapak-bapak dituduh tidak membiayai perawatan istrinya dengan layak, mulai dari bedak yang cuma bedak tabok murahan sampai jarangnya bapak-bapak mengajak istri mereka ke salon, kecuali kalau ada kondangan kawinan.

Yang jomblo menyusun teori bahwa menjomblo adalah obat awet muda, sementara ibu-ibu membuat kesimpulan bahwa bapak-bapak adalah penyebab penuaan dini. Cilaka!

Lalu apa yang dilakukan bapak-bapak menerima tuduhan sekeji itu? Gugling dengan kata kunci Alexis! Walaupun bukan salon, tapi konon Alexis itu adalah hotel keluarga. Siapa tau ibu-ibu bisa agak bungah hatinya kalau diajak ke Alexis. Ibu-ibunya spa, bapak-bapaknya ke lantai tujuh. Klop. Satu solusi untuk masalah ganda bapak-bapak.

Iya, Alexis yang ornamennya diributin kayak tulisan PKI itu. Padahal bapak-bapak yang ke Alexis itu mana sempat merhatiin ornamen apa pun yang dipasang pengelola Alexis di puncak gedungnya. Kebanyakan yang datang ke sana kan datang dengan terburu-buru dan kepala nunduk. Takut kerekam CCTV, mungkin.

Padahal tidak peduli secepat apa pun mereka masuk ke sana, atau menundukkan kepala sedalam apa pun, yang di atas sudah pasti taulah kalau bapak-bapak itu blusukan ke Alexis. Buktinya, room sama room service-nya udah disiapin di lantai tujuh tadi…