Mulailah Menghadiahi Pasanganmu dengan Cawan Menstruasi

Mulailah Menghadiahi Pasanganmu dengan Cawan Menstruasi

Ilustrasi (klikdokter.com)

Masyarakat masih melihat menstruasi sebagai sesuatu yang tabu, sehingga tak banyak solusi bagi perempuan yang menjalani siklus bulanan ini. Bahkan, di negara lain, ada perempuan yang mengalami tekanan bertubi-tubi ketika ‘datang bulan’.

Perempuan yang sedang menstruasi dikucilkan dan ditaruh di gubuk pengasingan agar tidak membaur dengan warga desa. Tak sedikit, beberapa dari mereka, meninggal dunia.

Masyarakat di sini juga tidak memberikan ruang kepada perempuan yang menstruasi, meski tidak dengan cara yang ekstream. Masih banyak orang menganggap bahwa darah yang keluar dari alat vital itu hina, bahkan kotor. Padahal ya, tanpa darah tersebut, keberlangsungan hidup manusia di muka bumi terancam.

Kita pun sering mendengar ucapan ‘banyak anak banyak rezeki’ atau bahkan stigmatisasi perempuan yang tidak beranak, namun kita sendiri lupa bahwa menstruasi adalah tahapan agar perempuan bisa beranak. Pernah dengar istilah masa subur setelah haid?

Menstruasi bukanlah sesuatu yang perempuan senangi pada umumnya. Kamu pasti pernah mendengar perempuan mengeluh tentang sakit perut dan badan yang pegal. Itu mengapa undang-undang ketenagakerjaan mencantumkan ketentuan bahwa perempuan pekerja berhak mendapatkan cuti penuh saat haid.

Cuti haid sendiri bukan untuk bersenang-senang saat menstruasi. Ada yang mengalami sakit begitu dahsyatnya, ada yang tidak. Sebab, tidak semua perempuan memiliki rahim yang sama.

Argumentasi mengenai cuti haid ini pun seringkali datang dari laki-laki maupun perempuan sendiri, menuduh perempuan yang meminta cuti haid adalah manja. “Katanya minta kesetaraan, kalau kayak gitu ya jangan minta cuti haid. Kalian harus kuat kayak kami (laki-laki).”

Hey… Laki-laki tidak mengemban fungsi untuk bereproduksi terutama rasa sakit tatkala menstruasi dan melahirkan. Tapi ada juga yang bilang, “Kalau gitu berikan kami cuti mimpi basah dong!”

Tidak ada yang enak dari menstruasi, dimana perempuan harus berhadapan dengan pembalut yang terus lembab serta kekhawatiran akan bocor. Jadi, kita tidak bisa menyamakan mimpi basah dengan menstruasi. Lha situ enak!

Mengenai menstruasi dan alat-alat higienitas seperti pembalut, sejujurnya saya merasa sedih. Iklan pembalut pun masih mencitrakan bahwa menstruasi itu sesuatu yang tabu, yang mengasumsikan darah dengan warna biru, bukan merah. Seolah terjadi pembodohan dan menafikkan tubuh perempuan yang sesungguhnya.

Penjualan pembalut pun masih dipajaki, seolah-olah menyatakan bahwa sesuatu yang alamiah harus ditarik pajak pula. Minimal kita menghabiskan Rp 20-50 ribu per bulan untuk membeli pembalut. Belum lagi beberapa perempuan masih perlu membersihkan darah dari pembalut yang tak terpakai karena percaya mitos.

Kita pun lupa bahwa pembalut konvensional juga menimbulkan masalah lingkungan baik dari limbah yang dihasilkan saat pembuatan atau setelah pemakaian. Sayangnya, teknologi termutakhir terkait ini ada pada cawan menstruasi.

Namun, penggunaan cawan menstruasi yang dimasukkan ke kelamin perempuan masih mendapat stigma sosial yang bertubi-tubi. Ada pra-anggapan bahwa perempuan yang memasukkan alat ke dalam alat vitalnya berarti sudah tidak perawan lagi. Masih banyak pra-anggapan lain yang menghalangi perempuan untuk mencari solusi yang lebih baik.

Cawan menstruasi yang harganya berkisar antara Rp 300-600 ribu juga masih terbilang mahal dan langka di Indonesia. Namun, bahannya yang terbuat dari silikon membuatnya menjadi ramah lingkungan, serta bisa dipakai untuk bertahun-tahun. Penggunaannya pun mudah.

Pada hari pertama, setiap tiga atau empat jam, kita harus mengosongkan cawan menstruasi. Pemeliharaannya juga simpel. Bisa dicuci atau direbus. Cawan menstruasi menjadi investasi bagi setiap perempuan yang menginginkan fase haid yang tidak ribet.

Bagi saya, cawan menstruasi telah memberikan kebebasan tersendiri. Saya bebas dari kekhawatiran bahwa pakaian saya akan tembus atau tidak. Saya tidak perlu bolak-balik menghabiskan ribuan rupiah untuk beli pembalut.

Namun sayangnya, karena cawan menstruasi ini masih dianggap mahal, maka sulit didapatkan oleh banyak orang. Solusi yang terbaik adalah pemerintah memiliki program yang menggratiskan cawan menstruasi bagi setiap warganya, sama halnya dengan akses kesehatan.

Cawan menstruasi dapat menjadi salah satu hak untuk mengakses kesehatan reproduksi perempuan. Dengan menggratiskan alat ini, pengeluaran domestik perempuan akan berkurang.

Walaupun cawan ini tidak menghilangkan rasa sakit saat menstruasi, namun setidaknya dapat membantu produktivitas perempuan dan mengurangi hambatan-hambatan yang tidak perlu. Ini penting demi keadilan.

Apakah kamu pernah membayangkan bagaimana perempuan bermenstruasi di dalam penjara? Atau, perempuan yang tidak memiliki rumah dan hidup di jalanan, yang tak mampu membeli pembalut? Cawan menstruasi solusinya.

Menstruasi membuat repot perempuan, namun perempuan tidak pernah memintanya. Adanya tekanan agar perempuan harus terus beranak seharusnya membuat masyarakat dan pembuat kebijakan sadar tentang pentingnya ruang kebebasan saat perempuan bermenstruasi.

Ini bukan masalah manja atau meminta keistimewaan. Namun, jika perempuan menjadi pijakan untuk bereproduksi, mengapa kita tidak membantunya?

Toh, sudah menjadi hukum alam bahwa sesama manusia harus saling membantu, karena kita setara dan saling ketergantungan. Menstruasi bukanlah keistimewaan, melainkan tanggung jawab kita.

Oh ya, mungkin cawan menstruasi bisa jadi ide brilian untuk menghadiahi pasanganmu yang sedang haid. Mulailah mencoba…

  • Sony Wans

    tapi menstrual cup syereem kak, eike masih tak sanggup. maybe opsi lain bisa celana dalam khusus menstruasi yang bisa dicuci-pakai.

  • Hanna Fransiska

    syerem juga 🙁