Cari Dory, Cari Pokemon, Cari Duit Lagi

Cari Dory, Cari Pokemon, Cari Duit Lagi

Meme Pokemon

Hidup adalah pencarian. Apakah itu pencarian terhadap hakikat kebenaran? Keyakinan? Kehidupan? Ah, terlalu filosofis bagi generasi milenial seperti saya dan mungkin sebagian dari kalian. Tapi apakah generasi milenial yang kadang disebut juga sebagai generasi Y ini tak peduli dengan pencarian hidup? Malas begitu? Tunggu dulu…

Sama seperti generasi pendahulunya, yaitu generasi X bahkan baby boomer, generasi milenial tetap mencari hakikat kehidupan, baik kehidupan pribadi maupun sosial. Yang berbeda hanya caranya. Lebih efektif dan efisien, karena akrab dengan internet dan ponsel pintar, meski mentok-mentoknya cari di Google atau mesin pencari lainnya.

Bagi generasi milenial, pencarian hakikat kehidupan tak perlu berkontemplasi layaknya filsuf, tapi bisa dilakukan dengan cara nonton film atau bahkan bermain game termasuk game online. Pokoknya yang fun, lucu, dan seru. Apalagi bareng sama pacar atau gebetan. Makin cihuy. Tapi hakikatnya sama.

Ada yang sudah nonton film Finding Dory? Iya kamu, mblo… Sudah nonton? Sendirian? Film animasi 3D itu bercerita tentang seekor ikan lucu bernama Dory yang menderita amnesia. Dory mencoba mengingat dan mencari keluarganya yang terpisah sejak ia masih sangat muda. Ia berjuang untuk kembali bersatu dengan keluarganya. Selama pencarian, banyak hal yang ia telurkan – namanya juga ikan – ke koleganya tentang arti persahabatan, cinta, dan keluarga.

Dari situlah, generasi milenial yang dituding terlalu cuek ini bisa belajar soal hakikat kehidupan, meski para peneliti, penggiat konservasi, dan pecinta lingkungan protes keras dampak dari film Finding Dory yang bisa mengancam populasi ikan jenis blue tang tersebut.

Tapi terlepas dari itu, sekarang berapa banyak keluarga yang tercerai berai akibat perceraian? Berapa banyak anak-anak yang tak mengenal ayah atau ibunya? Bisa jadi amnesia beneran atau pura-pura amnesia, karena saking lunturnya arti cinta, keluarga, dan persahabatan.

Lain Dory, lain Pokemon. Nah, ini yang lagi nge-hype. Pokemon Go. Terlalu childish? Tahan dulu sindiranmu yang nyinyir itu… Saya ingat betul, sehabis Lebaran, timeline media sosial saya seperti dibanjiri oleh ajang koleksi Pokemon terutama si Pikachu dari para abegeh sampai orang dewasa yang menolak tua. Saya pun berpikir, “Tren konyol apalagi ini?”

Meme Pokemon
Meme Pokemon

Berhubung saya nyemplung di media yang membahas gaya hidup dan teknologi pada anak muda, dilaporkan langsung dari ‘Brebes Exit (Brexit)’ bahwa aplikasi ini belum resmi masuk di pasar Indonesia. Tapi tetap saja Pokemon Go telah meracuni saya.

Ada seorang reporter yang mengirimkan link mirror download aplikasi tersebut. Ilegal memang. Jujur saja, buat urusan kayak begini, netizen di Tanah Air paling jago. Saya pun hanya membalas, “Thx”. Singkat saja, tapi dalam hati sih tetep bilang, “Ini die yang gue cari!”

Selesai mengunduh, saya pun coba-coba main game yang mengusung genre virtual-reality dan MMORPG alias massive multiplayer online role playing game. Apa artinya? Silakan mampir ke mesin pencari. Jangan malas. Generasi milenial bukan pemalas, meski Pokemon Go sudah mulai menjadi candu.

Di sini, pemain benar-benar harus berjalan mengelilingi lingkungan sekitar, mencari penampakan Pokemon untuk diburu, lalu menaikkan level mereka, hingga mengoleksi sejumlah items. Tampak sederhana memang, tapi dampaknya ke kehidupan nyata aneh-aneh.

Misalnya, seorang pemuda di Wyoming, Amerika, secara tak sengaja berhasil menemukan sebuah jasad gara-gara sedang asyik mencari Pokemon. Bahkan, seorang tentara Amerika berani-beraninya main Pokemon Go di zona perang dekat markas ISIS di Irak. Tapi ada juga yang celaka. Di Missouri, Amerika, belasan pemain dirampok oleh sekelompok orang bersenjata api yang sengaja menunggu di pokestop. Nah?

Lain lagi di Indonesia. Beberapa pengendara Gojek bahkan ketiban rejeki nomplok gegara penumpangnya ngajak keliling berburu Pokemon. Di kantor saya lebih unik lagi. Dari yang hobi sekadar cari inspirasi sambil merokok di balkon, sekarang merokoknya bisa sampai masjid. Bukan main. Sudah dapat pahala, dapat Pokemon pula.

Meme Pokemon
Meme Pokemon

Pengembang aplikasi ini sebenarnya diam-diam punya misi supaya anak muda jadi urban explorer. Anak-anak muda didorong untuk ke luar rumah. Siapa tahu ketemu jodoh, karena daya jelajahnya sampai ke jalan-jalan sempit dan mendaki sekalipun. Mungkin saja jodohmu sekarang lagi ngumpet kayak Pokemon.

Atau, kita ganti kata Pokemon menjadi pekerjaan. Anggap saja mencari pekerjaan seperti berburu Pokemon. Bagi yang sudah bekerja tapi merasa nggak nyaman plus gaji minim, bisa keluar dan mencari Pokemon pekerjaan baru. Apalagi libur Lebaran sudah usai, musim bagi-bagi rejeki sudah berlalu. Berapa sebaran uang THR selama Lebaran di republik ini? Rp 65 triliun? Sudah habis?

Biasanya, setelah Lebaran, waktunya orang cari duit lagi sambil cari Pokemon. Sebab, uang THR plus tabungan selama setahun sudah disalurkan ke keluarga sampai ke mbak-mbak kasir toko baju dan penjaga loket di tempat wisata segala. Tukang dagang juga nggak kalah bagi-bagi rejekinya. Nyatanya sampai sekarang masih belum banyak yang buka. Mungkin duitnya belum habis.

Tapi coba perhatikan, satu-dua minggu ke depan, Jakarta bakal diserbu pendatang baru dari daerah. Jumlahnya diprediksi sekitar 71 ribu orang, naik dibanding tahun lalu 70.593 orang. Tren urbanisasi ke Jakarta memang terus meningkat. Pada 2010-2011, jumlahnya masih sekitar 58 ribu orang. Tapi pada 2014-2015 melonjak drastis masing-masing menjadi 68.537 orang dan 70.593 orang. Benarkah Ibukota yang kejam ini masih menjadi gula-gula?

Seperti yang saya tulis di awal, hidup adalah pencarian. Mencari Dory, mencari Pokemon, mencari duit. Dari situ, generasi milenial yang katanya pemalas ini bisa memahami hakikat kehidupan: Cinta, keluarga, persahabatan, dan… Ya duit! Sudah ya, saya mau lanjut main Pokemon Go!