Cara Bijak Bela Negara Ala Kelas Menengah

Cara Bijak Bela Negara Ala Kelas Menengah

wsj.com

Saat libur, biasanya waktu yang tepat untuk menahan hawa nafsu konsumerisme. Kita, kelompok mayoritas si kelas menengah yang katanya ngehek, dengan jumlah mencapai 163 juta jiwa dan daya beli ditaksir sekitar Rp 290 triliun per bulan, tanpa disadari telah ikut mendorong roda kapitalisme.

Saya tidak akan berkoar-koar anti popok dan pembalut sekali pakai. Pun tidak akan ribut mencap anti-nasionalis buat kalian semua yang tinggal di rumah semen, kerja di gedung kantoran mentereng, dan tidak bisa berhenti total menjadi konsumen minyak goreng, margarin, sabun, dan lain-lain, sehingga laju ekspansi pabrik semen dan perkebunan kelapa sawit di Indonesia sulit dikekang. Terlalu utopis dan bisa-bisa perang saudara.

Ada beberapa produk yang bisa dihindari tanpa mengusik zona nyaman kita. Produk-produk yang konsumsinya meningkat tajam, terutama saat musim libur.

1. Minuman Kaleng

Kamu lagi jalan-jalan sama gebetan di pantai. Atau, boncengan saat sinar matahari sedang terik-teriknya. Kalian mampir di minimarket, langsung menuju kulkas. Ah… terbit liurmu melihat deretan minuman dingin.

Berapa harga 1 Coca-Cola kalengan? Rp 7.000? Kalau kamu beli grosiran malah cuma Rp 122.500/karton (24 kaleng). Murah banget. Terlalu murah dibandingkan kerusakan lingkungan yang disebabkannya. Setelah kamu tahu siklus hidup kaleng aluminium, kamu – diharapkan – akan berpikir ulang seratus kali sebelum membeli.

Aluminium memulai siklusnya dari sebuah batu kemerahan bernama bauksit. Tambang bauksit, seperti juga tambang-tambang lain, pasti merusak dan mengusir suku asli serta segala biotanya. Bauksit dicuci, dihancurkan, dicampur dengan soda api, dipanaskan, dan disaring hingga menjadi kristal aluminium oksida dengan volume tinggal separuhnya.

Proses ini menghasilkan limbah lumpur merah (red mud) yang mengandung soda api pekat, besi, dan logam berat. Belum ada teknologi yang bisa secara ekonomis mengekstrak besi dari larutan itu. Limbah ini rentan merembes ke mana-mana dan belum ada teknologi untuk mengolahnya menjadi air minum. Jangankan air minum, red mud yang sudah kering saja sama sekali tidak bisa ditanami.

Aluminium oksida lalu diproses di smelter dengan proses yang paling boros energi dibandingkan semua pemrosesan logam lainnya. Kristal ini dilarutkan dalam sodium aluminum fluoride dan diberi arus listrik 150.000 ampere untuk memisahkan oksigen dari aluminium.

Dalam proses ini, ada fluorine yang ikut lepas menjadi perfluorocarbons (PFCs) – gas efek rumah kaca paling berbahaya karena menjebak panas ribuan kali lipat dari CO2, juga menyebabkan kerusakan hati, ginjal, dan sistem reproduksi.

Hasilnya adalah aluminium murni yang siap cetak menjadi lembaran tipis, lalu dipindahkan ke pabrik lain (tambah polusi udara) untuk dibuat kaleng, dicuci, dikeringkan, dicat dasar, dicat merk, divernis, bagian dalamnya disemprot anti-karat, lalu diisi minuman.

Setelah proses panjang yang mencemari lingkungan serta membahayakan kesehatan semua pekerja tambang dan pabrik, lalu glek… glek… glek… nggak sampai 5 menit sudah habis kalian tenggak (15 menit lah kalau plus ngobrol dan saling berpandangan mesra). Terus… plung masuk tempat sampah. Duh…

2. Produk Tekstil

Dari orang paling miskin sampai paling kaya, salah satu barang yang utama dibeli habis gajian adalah pakaian. Bukan cuma kaos, tapi semuanya dari celana dalam sampai kemeja, sarung dan jaket, dari bra sampai rok mini, gaun, gamis, dan jilbab. Sulit membayangkan hidup para buruh tekstil, tapi lebih sulit lagi membayangkan Indonesia tanpa pabrik tekstil.

Bahkan sejak dari perkebunan kapas sampai produk akhir, industri tekstil adalah salah satu penyumbang polusi yang tidak bisa diremehkan.

Poin pertama: tanaman kapas merupakan salah satu tanaman yang paling boros air. Daerah penghasil kapas di Indonesia adalah Jawa, Sumatera, dan NTT. Ironis. Berapa sering kita mendengar krisis air di Jawa terlebih NTT? Seboros apa kebutuhan airnya?

Sebagai contoh di Uzbekistan. Perkebunan kapas milik pemerintah membuat kering sungai-sungai yang menuju Laut Aral (danau yang dulu No 4 terbesar di dunia). Dari tahun 1960-2000, volume airnya berkurang sampai 80% hingga daerah sekitarnya nyaris menjadi gurun dengan curah hujan yang menurun dan badai pasir yang parah. Badai pasir ini membawa serta debu pestisida yang merongrong kesehatan penduduk.

Nah itu poin kedua: pestisida. Kapas hanyalah 2,5% dari total hasil perkebunan seluruh dunia, tapi membutuhkan 10% volume pupuk dan 25% total pestisida dunia. Pestisida disemprot langsung pada tanah.

Biji kapas sendiri biasanya dicelup dalam fungisida sebelum ditanam. Tanaman yang sudah tumbuh disemprot pestisida berkali-kali sampai panen. Perkebunan yang tidak memvariasikan tanamannya akan membuat hama lebih cepat kebal, sehingga memerlukan pestisida yang semakin kuat.

Ketika panen, tanaman kapas disemprot bahan kimia supaya daunnya lepas dan tidak “mencemari” buah kapas. Dari buah kapas sampai bisa ditenun menjadi kain putih diperlukan proses sangat panjang, dan diakhiri dengan merebus kain dengan bahan kimia supaya benar-benar bersih dari kotoran.

Lalu kain putih diwarnai – tentu saja masih dengan bahan kimia yang limbahnya mengandung logam berat – dan seringkali dibuang begitu saja ke sungai. Selesai dicelup warna, kain juga diberi “ramuan ajaib” supaya lembut, anti-keriput, anti-susut, anti-ngengat, dan tidak cepat bau. Ramuan itu adalah… formalin!

Besok-besok kalau kamu pergi berlibur dan ingin membeli oleh-oleh, pertimbangkanlah beli makanan saja. Kekang keinginan membeli baju baru ketika Lebaran menjelang, dan ketika menyambut semester baru di kampus. Belilah pakaian berkualitas baik dan rawatlah selama mungkin sampai akhir hayatnya menjadi lap.

3. Produk-produk yang mengandung Timbal (Lead/Timah Hitam)

Timbal merupakan logam yang sudah diolah sejak ribuan tahun lalu karena mudah didapat dan diolah. Artefak kalung manik-manik dari timbal yang ditemukan di Turki diperkirakan berasal dari tahun 7000 SM. Bangsa Mesir kuno menggunakan timbal untuk pemberat alat pancing dan ornamen.

Timbal sangatlah beracun, baik jika tertelan ataupun terhirup. Saking beracunnya, banyak ahli sejarah yakin bahwa salah satu faktor penyebab kejatuhan Romawi Kuno adalah keracunan timbal, yang digunakan untuk pipa air dan pemanis wine serta manisan buah.

Pada abad ini, timbal masih digunakan pada pestisida, baterai, dan zat warna – supaya warnanya lebih keluar, lebih tahan lama, dan rata menutupi permukaan tak rata di bawahnya – dari cat tembok, cat lukis, cat barang-barang suvenir, cat rambut, cat kuku, sampai cat mainan anak dan… lipstik. (Kandungan timbal pada berbagai merk lipstik bisa kamu temukan di http://www.fda.gov/cosmetics/productsingredients/products/ucm137224.htm#expanalyses)

Efek keracunan timbal terutama pada sistem syaraf, dari kelainan hiperaktif, impulsif, agresif, IQ rendah, hingga depresi, dementia, dan schizophrenia. Anak-anak dengan kadar timbal tinggi dalam darah rentan mengalami kesulitan membaca, putus sekolah, bahkan memperlihatkan perilaku kriminal.

Mungkin para penjahat remaja perlu menjalani tes darah untuk mengetahui kadar logam berat seperti timbal, cadmium, merkuri, arsenik, dan lain-lain sebelum dikebiri atau dihukum mati.

Dimulai dari para pelaku pemerkosa YY, yang mana semuanya tinggal di Kabupaten Rejang, Bengkulu – daerah yang dikepung perkebunan yang sangat tercemar logam berat dari pestisida dan proses pengolahan seperti karet, dan aneka tambang dari batubara sampai emas dan perak.

Nah, sebagai kelas menengah ngehek biasa, yang paling bijak dan realistis bagi kita untuk membela negara saat ini hanyalah mengurangi konsumsi.

Tentunya sambil mendorong dan berdoa supaya ada regulasi pemerintah menekan para kapitalis untuk menangani dampak lingkungan dari tambang dan pabrik. Lalu berdoa lebih keras supaya orang-orang hebat cepat menemukan bahan pengganti yang ramah lingkungan sekaligus lebih praktis ekonomis.

  • indyana putra

    sedap.. semoga cepat ditemukan bahan-bahan pengganti yang ramah lingkungan.. semoga juga, rakyat negeri tercinta ini semakin bijak memilih produk….

    • Sisca Guzheng Harp

      Betul, Mas! Selama belum ada bahan pengganti yg ramah lingkungan DAN praktis ekonomis, mau kampanye segalak apa juga percuma.