Cara Bersikap kepada Teman yang Aktivis dan Apatis

Cara Bersikap kepada Teman yang Aktivis dan Apatis

Ilustrasi (monitorday.com)

Pada sebuah ceramah, Gus Mus pernah menyampaikan dhawuh – saya lupa persisnya itu dari hadits Nabi atau maqolah sahabat – yang berbunyi, Khasibuu qobla an tukhasabuu.” Kalimat tersebut setidaknya berarti “Hitunglah dirimu sendiri, sebelum engkau dihitung”.

Diksi ‘dihitung’ pada kalimat itu sekiranya memiliki makna agar selalu menimbang kualitas dan amaliyah diri sendiri. Karena memang sewajarnya manusia senang menghitung, membicarakan, atau membahas kualitas manusia yang lain tanpa menengok dirinya sendiri. Apalagi kalau menghitung kekayaan orang, mendadak jadi auditor nomor wahid di negeri ini. Hitung dulu berapa kekayaanmu, udah lapor pajak belum? Halah…

Memang sudah kodratnya manusia memperhatikan kualitas dan amaliyah manusia yang lain. Selain lebih mudah, perilaku mereka tergolong realitas yang tentu lebih mudah untuk diamati. Berbeda dengan memperhitungkan diri sendiri. Selain abstrak dan sulit diamati, tentu saja mana mau seorang manusia mengatakan bahwa kualitasnya tidak mumpuni. Lebih jauh lagi, tentu sangat sulit manusia menengok perbuatan dirinya sendiri, jika melakukan kesalahan. Itu…

Dhawuh-dhawuh Gus Mus memang sering kali menyentak kemanusiaan kita, meski hanya sekadar kata-kata. Melalui dhawuh itulah, saya mulai sering mencurigai diri sendiri, meski belum levelnya untuk menghitung diri sendiri. Itu mengapa disebut ‘curiga’. Seringkali saya dan mungkin Anda melakukan sebuah perbuatan yang dalam pandangan benar, tapi kadang curiga juga. Jangan-jangan itu salah?

Tapi yang namanya curiga kan hanya berakhir di dalam hati. Belum bisa menilai tanpa bantuan dari orang lain. Karena itulah seringkali kesalahan-kesalahan itu disentak oleh sindiran maupun nasihat orang-orang terdekat, termasuk dia yang kamu gebet terus tapi nggak dapet-dapet itu.

Saya memiliki beberapa kenalan di dunia nyata maupun maya, yang tentu saja perilakunya mudah diamati tanpa perlu kepo level maksimal. Ada beberapa teman – sebagian aktivis – yang gigih berteriak mengenai kerakyatan, keadilan sosial, perjuangan buruh, dan lainnya. Pada intinya, pemikiran mereka ‘kiri’ sekali.

Sebagian teman lagi adalah orang-orang yang cenderung menutup diri dari hal-hal seperti itu. Mereka lebih suka bekerja, mendapatkan uang, dan berkumpul dengan rekan sejenisnya. Singkatnya mereka ini cenderung apatis terhadap isu-isu sosial. Bahkan ada yang berkomentar, “Ngapain sih repot-repot membela nelayan yang digusur, petani yang dipenjara, buruh yang dipukuli aparat, dan ilmu-ilmu menara gading macam itu? Kan lebih baik bekerja untuk masa depan.”

Kaget ya?

Ya memang begitu realitasnya, seperti dua perairan dalam satu selat yang tidak saling bercampur. Saya pun masih sering berkumpul dengan teman-teman yang apatis. Selain juga beberapa kali terlibat dalam diskusi keilmuan dengan sejumlah teman aktivis.

Tapi melalui pergaulan itu, saya jadi curiga pada diri sendiri. Apakah menyerukan keadilan sosial, kesejahteraan rakyat, dan lainnya itu benar-benar berjuang membela kaum mustadh’afin – meski hanya lewat doa, dukungan, dan tulisan – memang murni panggilan nurani atau mereka sama saja dengan golongan kedua?

Golongan kedua adalah manusia yang rata-rata berkarakter teriak ketika diinjak, namun pongah ketika akses kuasa ekonomi dan politiknya dibatasi . Saya memang bukan golongan yang berdikari secara ekonomi, sosial, maupun politik. Jika saya berada pada golongan kedua yang sudah memiliki akses ekosospol, masihkan hati ini berpihak pada kaum yang tertindas?

Atau, saya sama saja dengan mereka, yang malah bersyukur jika ada penggusuran yang dilakukan oleh penguasa. Jangan-jangan hanya bersuara keras ketika ditindas dan ketidakmampuan saya berdikari secara ekosospol.

Seringkali saya merasa beragama secara benar, kaffah, tapi senang melihat orang yang tidak segolongan atau bahkan berbeda agama diperlakukan secara tidak adil. Padahal,  negara ini berdiri pada asas ketuhanan dan keadilan sosial. Begitu kan?

Saya kerap terjebak pada kecurigaan-kecurigaan seperti itu. Jika kecurigaan itu benar, apa bedanya dengan manusia yang suka menghitung kualitas manusia lain, tapi abai dengan kualitas diri sendiri?

Bagaimanapun empati, rasa iba, dan marah pada ketidakadilan adalah sikap yang diasah oleh proses pendidikan yang benar. Padahal dulu, ketika ngaji hadits, Kanjeng Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, “Jika engkau melihat kemungkaran, maka ingkarilah dengan tanganmu, jika tidak bisa dengan ucapan. Jika masih saja tidak mampu, maka dengan hati.”

Namun, apakah saya bisa mengingkari kemungkaran maupun ketidakadilan itu, jika bisa berbuat dengan tangan (akses politik) dan ucapan (ekonomi-sosial)? Atau, malah mengamini kemungkaran dan ketidakadilan karena takut akses kuasa saya terganggu? Jika demikian,  berarti selama ini telah gagal mengikuti proses pendidikan dan mendidik hati sendiri. Jangan-jangan, saya sendiri yang tidak adil sejak dalam pikiran?

Bagaimana dengan Anda?