Cara Belajar ‘Buzzer’ Aktif
CEPIKA-CEPIKI

Cara Belajar ‘Buzzer’ Aktif

Ilustrasi (dosengalau.com)

Saya mau ngomongin pilkada lagi nih, belum pada bosan kan? Bosan? Jangan becanda ah. Kalau gak ngomongin pilkada di media sosial, terus kalian mau ngomongin apa? Ngomongin Freeport sama hak-hak orang Papua? Atau, warga Kendeng yang menolak pembangunan pabrik semen dan musholanya yang sempat dibakar itu?

Soal hasil pilkada, ya kayak umumnya orang bertanding, ada yang menang dan ada yang kalah. Tapi ada juga yang harus masuk putaran dua. Kayak saingan rebutan pacar aja, ada yang jadian, ada yang manyun. Ada juga yang masuk putaran dua alias masih digantung. Diterima nggak, ditolak nggak, adek-kakak juga bukan, tapi ke mana-mana disuruh nganter sama jemput. Yaelah, ini malah saingan sama tukang ojek online.

Tapi ada juga yang kocak, dari sembilan daerah yang menggelar pilkada dengan pasangan calon tunggal, ada satu pasangan yang justru kalah sama kotak kosong. Bayangkan, kalau kalian nembak cewek, lalu ceweknya lebih memilih kardus bekas bungkus sepatu daripada milih kalian. Sakit banget gak sih, gaes?

Mudah-mudahan warga yang lebih memilih kotak kosong itu memang karena merasa belum cocok aja sama calon pemimpin daerah mereka, bukan karena kepingin libur nyoblos lagi. Tapi kalau cewek yang milih kardus sepatu tadi, mudah-mudahan dia cuma kepingin ditembak lagi, bukan karena beneran lebih cinta sama kardus sepatunya. Kalau gak, apes banget nasib kalian. Saingan kok sama kardus.

Saya ngomongin pilkada lagi soalnya dulu saya pernah bilang kalau pilkada ini mencerdaskan banyak orang, dan ternyata benar. Ada yang membahas rumah apung Mas Agus – aduh, maaf ya masih dibahas – sampai rumah murah Pak Anies.

Mungkin ini sisi positifnya di samping perdebatan dan putus hubungan pertemanan di media sosial. Saya bahkan masih berharap kalau pilkada bisa melahirkan para ahli nuklir yang mampu mengirim roket untuk meledakkan Uranus.

Ngomong-ngomong, mengapa saya ambil contoh Mas Agus dan Pak Anies, karena di media sosial yang dibicarakan orang cuma mereka. Padahal yang menggelar pilkada ada 101 daerah. Saya jadi curiga, jangan-jangan pasangan calon di daerah lain gak menawarkan program kerja. Atau, bisa jadi daerah lain selain Jakarta gak punya masalah, jadi calonnya gak perlu bikin visi-misi, gak perlu debat, dan gak perlu kampanye. Pokoknya pas coblosan orangnya ada.

Pantesan kotak kosong bisa menang…

Yang jadi repot, pasangan calon yang punya program ternyata juga gak menjelaskan apa-apa dari ide yang mereka punya. Orang-orang di media sosial yang malah repot sendiri, cari link dari sana-sini. Lalu berantem lagi, unfriend-unfriend-an lagi. Udah gitu yang punya ide malah ngeles.

Itu sama aja kalau diajak makan sama cewek. Ditanya mau makan apa, jawabnya terserah. Tapi diajak makan mi ayam, gak mau. Diajak makan nasi goreng, ogah. Ditanya lagi, terserah lagi.

Pak Ahok juga sama. Jakarta banjir lagi, tidak seperti janjinya dulu. Mungkin Pak Ahok lagi repot sekarang, karena bagaimanapun beliau masih gubernurnya. Tapi yang pasti tidak lebih repot dari pendukungnya yang sibuk menyusun pembelaan. Mulai dari proyek yang belum selesai sampai banjir yang kejadiannya di Depok.

Saya jadi ingat waktu SD dulu. Ada yang namanya CBSA, Cara Belajar Siswa Aktif. Yang diharapkan aktif belajar ya siswanya. Kalau zaman sekarang mungkin cocoknya diganti namanya jadi CBBA, Cara Belajar Buzzer Aktif. Yang sibuk cari tautan berita, ya buzzer-nya. Sementara jagoannya kalau gak diam, ngeles. Jangan-jangan waktu ada yang ngasih link, calon-calon itu malah kaget. “Eh, ternyata bisa ya?”

Sayangnya, kecerdasan dalam berbagai bidang ini tidak diikuti dengan ‘kecerdasan’ hati. Pilkada, selain menghasilkan orang pintar, juga mencetak masyarakat yang pendendam. Jika nanti terpilih salah satu calon dan programnya sukses, yang dulu gak mendukung pasti diam saja. Pura-pura gak tahu, apalagi memuji. Buzzer kok memuji lawan. Tapi kalau gagal… Hih, sejuta topan badai! Kapokmu kapan!

Yang paling dekat contohnya ya banjir di Jakarta. Yang pro Pak Ahok sibuk nyari link buat bantuin Pak Ahok, mungkin sambil menghapus statusnya yang dulu pernah nantangin hujan. Sementara yang pro Pak Anies bahagia banget, berarti Pak Ahok gagal. Mungkin maksudnya mau nge-bully yang tadi menantang alam, tapi yang kena banjir kan bukan cuma yang nantangin itu. Semua orang Jakarta kena, minimal merasakan efeknya.

Dulu, kalau ada bencana di satu tempat, orang beramai-ramai bikin tagar #save atau #prayfor apalah gitu. Atau minimal ganti foto profil. Sampai Facebook bela-belain bikin fasilitas foto profil temporer, supaya orang bisa menunjukkan kalau mereka juga peduli. Habis itu balik lagi, mbahas pilkada lagi…

Kalau sekarang zamannya mungkin beda. Walaupun gak ada yang bikin tagar, tapi bahagia ketika orang kena bencana itu rasanya sama kayak bilang ‘kapokmu kapan’. Apa mungkin kepuasannya sama kayak dengar mantan putus sama pacarnya ya? Apa masih takut kalau diundang di resepsi kawinan mantan? Padahal dulu waktu diputusin bilangnya, “Terserah kamu aja. Kalau kamu bahagia, aku juga ikut bahagia…”

Untung Pasuruan belum menggelar pilkada. Kalau iya, banjir di sana bisa-bisa nasibnya sama kayak di Jakarta. Kalau sudah begitu, siapa yang mikirin nasib mbak-mbak berdaster biru yang kakinya kerendem air? Padahal, kalau kata orang, “Mereka yang bukan temanmu di dalam pilkada – karena sudah di-unfriend – adalah temanmu di dalam kemanusiaan.”

#Save_Mbaknya atau #Prayfor_Mbaknya..!