Candi Kethek, Piramida Kesepian di Lereng Gunung Lawu

Candi Kethek, Piramida Kesepian di Lereng Gunung Lawu

Gunung Lawu merupakan gunung berapi ‘istirahat’. Diperkirakan gunung ini terakhir kali meletus pada 28 November 1885. Gunung ini terletak di perbatasan Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur, antara Kabupaten Karanganyar dan Magetan.

Di lereng gunung yang memiliki tinggi 3.265 meter di atas permukaan laut ini, beragam objek wisata ditawarkan, seperti Telaga Sarangan, air terjun Pundak Kiwo, Tawangmangu, Cemorosewu, dan air terjun Parang Ijo.

Di sini juga terdapat berbagai objek wisata candi. Candi Sukuh dan Ceto mungkin sudah populer terdengar di kalangan wisatawan. Padahal, masih ada satu candi lagi yang letaknya agak ‘tersembunyi’ di tengah hutan lereng barat Gunung Lawu. Candi tersebut dinamakan Candi Kethek.

IMG_0188

Jalur Terjal

Matahari tak lagi menyengat saat saya dan seorang kawan yang asli Solo mengunjungi Candi Kethek. Rimbunnya pepohonan pinus, menambah suasana menjadi sangat syahdu. Candi mirip piramida ini ada di Dusun Ceto, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.

Tak banyak petunjuk pasti di mana letak Candi Kethek berdiri. Jika pengunjung jeli, papan petunjuk kecil ada di teras kedelapan Candi Ceto. Papan tersebut dipasang di tiang salah satu pendopo yang ada di Candi Ceto.

Setelah puas mengagumi Candi Ceto, Candi Kethek bisa jadi alternatif lanjutan pelesir Anda. Letaknya yang agak tersembunyi ditambah akses jalan yang jauh dan terjal, membuat pengunjung Candi Kethek enggan ke sana. Saat musim liburan, pengunjungnya bisa dihitung dengan jari. Candi ini tak seramai pengunjung Ceto.

Akses menuju candi, pengunjung akan melewati jalan kecil yang dipenuhi deretan warung sederhana. Sekitar 300 meter dari komplek Candi Ceto tadi, pengunjung akan menemui loket tiket sederhana untuk masuk ke Candi Kethek.

Di sini pengunjung cukup membayar tiket masuk sebesar Rp 1.500. Deretan anak tangga akan Anda temukan menuju ke sana. Di tengah perjalanan, wisatawan mungkin akan terkecoh, salah jalan. Sebab, Candi Kethek dan Puri Taman Saraswati ada di jalur yang sama.

Puri Taman Saraswati sendiri merupakan salah satu objek wisata yang dekat dengan Candi Ceto. Puri Saraswati diresmikan pada 2007 oleh Bupati Karanganyar dan Bupati Gianyar Bali, sebagai simbol kerja sama. Puri ini berfungsi untuk pemujaan umat Hindu dan objek wisata. Fokus objek wisata ini adalah patung Dewi Saraswati yang didatangkan dari Gianyar, Bali.

Perempuan yang sedang datang bulan dilarang masuk ke area puri. Pengunjung yang ingin masuk harus melepas alas kakinya di pintu puri. Dewi Saraswati adalah dewi ilmu pengetahuan.

Sebelum naik ke anak tangga menuju Puri Taman Saraswati, terdapat jalan bercabang tiga. Di jalan setapak tanah menuju jalur pendakian Gunung Lawu itu Candi Kethek berada.

Jangan berharap pengunjung menemukan jalan berkondisi baik dan beraspal ke Candi Kethek. Sensasi detakan jantung pengunjung akan terasa. Sebab, di sisi kiri, ada tepian jurang yang mengalir sebuah sungai.

Di sisi kanannya, ada batu-batu besar perbukitan. Pengunjung akan menapaki jalanan tanah dan berbatu besar, berjalan kaki naik-turun sekitar 500 meter untuk sampai ke candi. Hati-hati melewati jalan setapak ini. Saat kondisi hujan, sudah pasti jalan menjadi sangat licin.

“Dulu malah kondisi jalannya lebih parah dari sekarang,” kata salah seorang pengunjung, Irvan Fathoni yang mengaku pernah ke candi ini beberapa tahun lalu.

Papan petunjuk kecil yang terpasang di sebuah pohon bertuliskan KKN UGM 2011. Mungkin saja mahasiswa-mahasiswa kuliah kerja nyata dari Universitas Gadjah Mada ini yang memperbaiki sedikit jalan menuju Candi Kethek pada 2011 lalu.

Dilupakan?

Candi Kethek berada sekitar 1.400 meter di atas permukaan laur. Kethek sendiri dalam Bahasa Jawa berarti kera. Menurut penduduk setempat, di sekitar area candi dahulu banyak ditemukan kera liar. Namun, saat berkunjung ke sana, tak ada satu pun kera yang berkeliaran.

Menurut keterangan di papan panel depan candi, baru pada 2005 dilakukan penggalian penyelamatan candi oleh Balai Pelestarian peninggalan Purbakala Jawa Tengah dan Universitas Gadjah Mada. Candi ini dilindungi sebagai cagar budaya oleh negara baru pada 2010 lalu.

Padahal, menurut sebuah informasi, candi ini sudah dilaporkan pada 1842 silam. Informasi itu menyebutkan, tim arkeolog dari Belanda Verbeek, Van Der Vlis, dan Hoepermans pada 1842 menemukan sejumlah candi di lereng Gunung Lawu, seperti Sukuh, Ceto, dan candi lain yang belum diberi nama.

Candi Kethek terdiri dari 4 teras punden berundak. Teras-teras itu dihubungkan dengan anak tangga. Namun, di sisi candi pengunjung bisa langsung naik ke puncak candi melalui jalan tanah. Teras paling atas, menurut dugaan para ahli, merupakan bangunan induk candi.

Di sini, pengunjung akan menemukan sebuah stana kecil beratap mahkota keemasan. Stana itu dibalut kain kampuh bermotif kotak hitam-putih khas Bali. Ada sebuah anglo di stana itu yang berfungsi untuk menancapkan dupa atau hio. Sayang, kondisi stana ini sudah agak lusuh.

Menurut dugaan para ahli, fungsi candi ini sama dengan Candi Ceto, yakni sebagai peruwatan untuk membebaskan seseorang dari dosa bagi umat Hindu. Hal ini didasarkan dengan temuan arca kura-kura yang dikaitkan dengan mitologi dalam agama Hindu, yakni Samudramanthana.

Samudramanthana jika diterjemahkan berarti pengadukan samudra susu. Kisah ini adalah bagian dari sekumpulan kisah mitologi agama Hindu, yang tergabung dalam naskah Adiparwa, parwa pertama di Mahabharata.

Kisah ini diibaratkan usaha para dewa dalam memperoleh air keabadian amerta dari pengadukan samudra susu. Selain di candi-candi Jawa, kisah ini juga terkenal di kerajaan yang mendapat pengaruh Hindu lainnya, seperti Kamboja dan Thailand. Sayangnya, arca kura-kura itu sekarang sudah raib entah ke mana.

Para ahli yang ikut dalam penelitian Candi Kethek menganalisa bahwa masa pendirian candi ini bisa diketahui dengan membandingkan temuan arca dan bentuk bangunan punden berundak dengan candi-candi di lereng barat Gunung Lawu.

Diperkirakan candi ini dibangun semasa dengan pembangunan Candi Ceto, Sukuh, Planggatan, dan Menggung pada abad ke-15 hingga 16 Masehi. Dua candi yang disebutkan terakhir, Planggatan dan Menggung, juga kurang populer di kalangan wisatawan. Namun, belum dapat dipastikan siapa yang membangun candi itu.

Di candi ini juga tidak ditemukan relief, prasasti, dan artefak di candi ini. Ukuran candi ini sekitar 30 meter, dan sebagian badan candi masih tertutup tanah. Batu untuk membangun candi ini tekstur dan jenisnya sepintas lalu berbeda dengan batu di Candi Sukuh dan Ceto. Batunya seperti batu kali yang tak ditata rapi.

Popularitas Candi Kethek seakan tenggelam oleh ketenaran Candi Ceto. Di tengah rindangnya hutan lindung milik Perusahaan Hutan Negara Indonesia (Perhutani), Candi Kethek seakan “kesepian”. Candi ini juga seakan dilupakan dan tak terurus. Di depan candi, ada timbunan sampah yang dibiarkan menumpuk begitu saja. Pengunjung juga seakan tak peduli pada masalah kebersihan dan kesopanan di sini. Tak ada pula penjaga keamanan atau setidaknya pengurus khusus candi yang berdiam di sekitar Candi Kethek.

Tapi, jika Anda berkesempatan jalan-jalan ke Candi Ceto, tak ada salahnya Anda juga mampir ke candi yang sunyi ini.

Tips

  • Cari informasi sebanyak-banyaknya mengenai objek wisata ini.
  • Sedia obat-obatan pribadi, makanan dan minuman, serta uang secukupnya.
  • Jika Anda memiliki kerabat atau teman di Solo, ada baiknya meminjam atau ditemani menggunakan kendaraan pribadi.
  • Sebaiknya menggunakan sepeda motor, karena walau akses ke sana sudah beraspal, medannya turun-naik lumayan berat.
  • Isi bahan bakar kendaraan dan cek kondisi mesin sebelum berangkat.
  • Biasakan tawar menawar jika Anda ingin menyewa ojek.
  • Siapkan stamina sebaik-baiknya, karena medan yang dilewati dengan berjalan kaki jauh dan menguras energi.
  • Jika Anda sudah lelah dan hari sudah gelap, sebaiknya cari penginapan yang aman dan nyaman di sekitar Candi Ceto.
  • Selalu menjaga kebersihan dan kesopanan di area candi.