Calistung, Pendidikan ‘Balap Karung’, yang Nggak Penting-penting Amat

Calistung, Pendidikan ‘Balap Karung’, yang Nggak Penting-penting Amat

papasemar.com

Dulu saya mengajar Bahasa Inggris. Lima tahun di kursus franchise ternama dan dua tahun di kursus spesialis persiapan untuk sekolah ke luar negeri. Mungkin banyak yang belum menyadari, TOEFL dan IELTS bukan semata tes Bahasa Inggris, melainkan tes intelektual dalam Bahasa Inggris.

Beberapa pertanyaan disusun sedemikian pintarnya. Banyak jebakan. Tapi, dengan begitu, nilainya bisa menunjukkan intelektualitas, sosial, dan emotional intelligence. Urutan kesulitannya adalah reading, listening, writing, dan speaking. Yang paling mudah reading, karena hanya butuh skill pasif. Bisa dibaca lebih lambat dan berulang-ulang.

Yang lebih sulit dari reading adalah listening, karena ada faktor lafal, aksen, dan kecepatan si pembicara. Writing lebih sulit lagi, karena kalau tanpa sering membaca dan mendengarkan, kita tak akan punya bahan untuk menulis. Dan, terakhir, yang paling sulit adalah speaking, karena kita harus punya bahan pembicaraan dan harus berpikir cepat.

Nah, pernah ada murid TOEFL saya, kebetulan sarjana universitas swasta ternama di Bandung, yang ingin S2 di luar negeri. Saat proses belajar mengajar, saya sempat nyeletuk begini:

Saya: Menurut kamu, dari reading, listening, writing, dan speaking, mana yang paling sulit? (pertanyaan godaan jebakan)

Murid: Reading, Miss. (tau aja saya mantan miss kelurahan)

Saya: Hah? Kenapa reading? (sok galak, tapi tetep cantik)

Murid: Karena saya nggak suka baca.

Saya: Gimana caranya kamu lulus psikologi, kalau kamu nggak suka baca?

Murid: Saya dan teman-teman minta dosennya yang baca, terus nerangin ringkasannya di kelas.

Murid saya itu adalah produk sekolah swasta top di Bandung generasi 80-90an yang ‘bergizi’ baik dengan suplemen susu bubuk mahal yang sudah diperkaya AHA, DHA, dan HAHAHA lainnya. Dia pun sudah diajarkan membaca, menulis, dan berhitung (calistung) bahkan mencongak kata dan angka sejak TK.

Belum lagi dia juga menikmati mainan-mainan canggih yang katanya melatih otak dan otot motorik, plus banyak mengecap les privat mata pelajaran, les musik, les Bahasa Inggris, les gambar, dan sebagainya. Jadi sia-sia kan?

Saya sendiri belajar di sekolah swasta yang tergolong top di Bandung dan beberapa kali pernah juara kelas. Itu kenapa saya punya sebarisan mantan. Tapi setelah usia saya melewati kepala 3, anda tahu apa yang saya sesalkan, yang tidak saya dapatkan selama belasan tahun sekolah dan kursus?

Lulus kuliah saya tidak siap menghadapi dunia kerja. Memang saya langsung diterima mengajar, karena ijazah cum laude saya (uhuk), tapi… alamak! Ternyata saya tidak tahu cara mengajar.

Lebih tepatnya, saya tidak tahu cara berpenampilan, cara berkomunikasi, cara membuat murid menjadi semangat belajar, juga cara menghadapi konflik dengan atasan, rekan kerja, dan murid yang bermasalah. Ya walaupun sekarang sudah mendingan paham sih. Setidaknya penampilan okelah (kasih rating di kolom komen!). Komunikasi juga lancar, meski kadang nyinyir dan suka gemezzz…

Situasinya jelas berbeda saat kuliah. Kita tidak lagi bisa menghindari tugas yang sulit dengan menyogok teman untuk membuatkannya. Atau, melarikan diri dari dosen ‘killer’ dengan membolos dan menunggu sampai semester depan supaya bisa ganti dosen.

Kenapa bisa begitu? Kenapa orang-orang yang justru menikmati pendidikan ‘bergizi’, yang sudah diajarkan calistung sejak TK, les ini-itu, tapi sudah gede hanya bisa baca, nggak hobi membaca? Benarkah kita sudah terjebak sedemikian lama dalam “perlombaan siapa paling cepat dia dapat”? Tak hanya pendidikan, mulai dari cepat-cepatan di perlombaan tujuhbelasan, cepat-cepatan kawin, punya anak, sampai pertemanan di media sosial.

Ada kursus baca kilat yang menjanjikan bisa melahap 3-5 buku dalam 2 jam. Konon bisa menangkap isinya seperti sudah membaca 6 kali. Ada pula kursus gitar dan piano 1 bulan mahir. Kursus cepat belajar Bahasa Inggris dalam 1 hari. Kursus main harpa sampai bisa. Kalau harpa sih, kursus ke saya ajahh… Dijamin, hati tangan pedih.

Balik ke adu cepat-cepatan. Perlombaan itu nyatanya bukan hanya untuk kategori 21+. Maksudnya hanya untuk orang dewasa saja. Anak-anak pun ditarik masuk dalam pusaran. Khawatir anak-anaknya tertinggal dari yang lain, para orang tua gelisah, jika anaknya belum bisa calistung pada usia 6 tahun. Menangis, ketika anaknya tidak berhasil masuk sekolah favorit. Tapi bahagia menikmati pendidikan berbasis ‘balap karung’ tersebut.

The American Academy of Child and Adolescent Psychiatry pernah melakukan penelitian di sebagian distrik yang menerapkan pelajaran calistung sebagai syarat masuk TK. Hasilnya? Jumlah anak-anak dan remaja yang sangat tertekan di Amerika meningkat menjadi 3,4 juta orang atau 5% dari jumlah anak muda. Akibatnya? Selama 1980-1997, jumlah anak-anak usia 10-14 tahun yang bunuh diri melonjak 109%.

Di Jepang lebih parah lagi. Selama 1972-2013, ada 18 ribu anak sekolah yang bunuh diri. Angka bunuh diri paling tinggi selalu terjadi pada akhir Agustus-awal September, yang mana merupakan awal semester baru setelah libur musim panas.

Begitu juga yang terjadi pada pertengahan April atau semester baru setelah libur musim semi. Pada 2014, terdapat 4.600 kasus bunuh diri pada anak usia 10-24 tahun dan 157 ribu pasien yang dirawat karena percobaan bunuh diri.

Sebenarnya, selama ini ada yang penting, tapi sering kita lupakan: belajar mencintai proses belajar. Menikmati membaca dan bermusik. Telaten meriset, berlatih, dan bereksperimen, meski ribuan kali gagal. Mengapa tak pernah ada kursus belajar mencintai proses belajar?

Bagaimana cara belajar mencintai proses belajar, selain juga belajar berkomunikasi, menghadapi konflik, dan lain-lain? Tentu bukan dari mainan educational yang mahal, flash cards, dan program komputer yang katanya akan merangsang otak. Bukan itu intinya.

Dari dulu sebelum ada materi pendidikan canggih dan menjadi bisnis besar, sudah lahir banyak tokoh filsuf, penemu, dan penjelajah jenius yang membuat kita sekarang tampak sangat payah dan pemalas.

Sebagai orangtua atau juga sebagai mahasiswa, keadaan kita banyak yang tidak seideal yang kita harapkan. Ada yang kondisi finansialnya cekak, ada yang kedua orangtuanya harus bekerja dan terpaksa meninggalkan anaknya dengan kakek-nenek atau pembantu, ada pula keluarga broken home. Apakah yang demikian itu pasti tak akan bisa lebih sukses daripada keluarga yang mapan dan bahagia? Belum tentu…

Ada banyak macam buku tentang metode pendidikan yang baik, dari metode yang sifatnya bermain dan belajar seperti Einstein Never Used Flash Cards, sampai cara disiplin keras seperti buku Tiger Mom. Dari berbagai macam itu, saya menemukan dasar yang sama: Peran keluarga sangat lah besar.

Dari keluarga lah anak-anak pertama belajar berinteraksi, berkomunikasi, team work, termasuk conflict and anger management. Jadilah orangtua atau pengasuh – jika anda berdua harus bekerja – yang menikmati dalam membimbing proses belajar anak. Membacakan buku, mengajak membuat kue, menghitung belanjaan, mengajak anak bercakap-cakap, bahkan tentang hal-hal ajaib khas logika anak-anak.

Secara alami, si anak akan belajar calistung. Orangtua atau pengasuh yang tidak sabaran – juga yang terlalu sibuk dengan gadget – akan menularkan kegelisahannya pada anak. Hasilnya? Anak-anak yang cepat bosan dan cepat menyerah.

Jika orangtua atau pengasuh tidak doyan sayuran, maka akan sangat sulit untuk membujuk anak memakan sayur. Demikian juga jika orangtua atau pengasuh tidak telaten dalam pekerjaannya, akan sulit bahkan cenderung mustahil untuk mencetak anak yang teguh kukuh berlapis baja menjalani proses belajar dan kehidupan.

Balita anda juara lomba gambar, nyanyi, modeling, sempoa, piano, baca puisi Bahasa Inggris, pidato Mandarin, dan menghafal ini-itu seperti di iklan susu formula? Anda tentu boleh bangga. Tapi hal tersebut hanyalah 10 menit pertama dari pertandingan sepak bola. Masih banyak variabel relatif yang mungkin terjadi dalam 80 menit kemudian, dan menjadi faktor penentu menang atau kalahnya tim.

Anak anda bisa di-tackle sesaat sebelum masuk kotak gawang atau terlalu egois nggak mau ngoper bola sehingga selalu terebut lawan. Atau, justru anak anda yang menjungkalkan lawan sehingga diberi kartu merah dan dipaksa keluar lapangan. Yang parah, kalah mental dan melakukan blunder parah semacam gol bunuh diri. Bisa juga dibeli mahal oleh tim lain, lalu malah terus-terusan dijadikan pemain cadangan.

Daripada pendidikan berbasis ‘balap karung’, jauh lebih penting jika belajar menyukai membaca buku bermutu sepanjang hayat, belajar disiplin masuk kuliah dan menyerahkan tugas tepat waktu, menyelesaikan pekerjaan dengan baik walau bos tidak ada, terus riset walau eksperimen sudah gagal ribuan kali.

Lalu belajar bertanggung jawab atas kesalahan sendiri, tetap setia pada passion walau kurang berhasil secara finansial, tekun mengurus bisnis walau kadang sepi atau pernah ditipu, cerdik berdiplomasi dan negosiasi, sabar mengantre, dan tidak buang sampah sembarangan.

Oh ya, sampai lupa. Biasakan tidak mengklakson ketika lampu lalu lintas baru hijau, terus berlatih main biola walau leher pegal jari pedih dan kuping sengsara karena masih fales terus, terus berlatih bola walau sakit badan dan tendangannya masih sering meleset, terus menulis artikel di Voxpop meskipun sering ditolak, dan lain-lain.

Sungguh benarlah ungkapan ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberikan daya kekuatan. Keluarga lah yang harus memberi contoh di rumah, bukan hanya guru di sekolah. Jadi jangan sampai ada lagi guru yang dipolisikan karena mencubit muridnya.

Bagaimana jika anda adalah mahasiswa, yang ingin belajar menjadi tekun, disiplin, dan tahan banting tapi kurang beruntung mempunyai keluarga yang mendukung? Bergaulah dengan teman-teman yang demikian. Teman yang tekun tapi mesra? Itu lebih baik lagi!