Cak Imam Nahrawi, Mengapa Kau Hapus Tradisi Menpora Berkumis?

Cak Imam Nahrawi, Mengapa Kau Hapus Tradisi Menpora Berkumis?

Kautsar Halim MTVN

Sampai saat ini masih terngiang di telinga, pekikan komentator di TV yang bikin merinding setelah pasangan ganda campuran Indonesia, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir, menundukkan pasangan Malaysia, Chan Peng Soon/Goh Liu Ying, di partai final bulutangkis Olimpiade Rio, Brasil.

“Ini kado terindah saat seluruh rakyat Indonesia merayakan hari kemerdekaannya. Tontowi dan Liliyana berhasil menjaga tradisi medali emas olimpiade setelah sebelumnya sempat terputus!” seru sang komentator TV, yang diamini mbak Susi Susanti penuh sumringah dan tampak menahan sedikit haru.

Tiba-tiba, jam dinding di rumah saya berdentang 12 kali menandakan tepat pukul 12 malam, seolah ini menjadi tanda bahwa semesta mendukung kemenangan pasangan Tontowi/Liliyana pada detik-detik terakhir pergantian tanggal antara 17 Agustus dan 18 Agustus 2016.

Suasana haru semakin dalam, ketika tiba saatnya semua saksi sejarah di Stadion Riocentro, Rio de Janeiro, maupun penonton layar kaca di Tanah Air harus terdiam. Hening. Sang saka Merah Putih akhirnya berkibar di antara bendera Malaysia dan China, meski tanpa pasukan pengibar bendera.

Lagu Indonesia Raya pun berkumandang cetar menggetarkan hati Tontowi/Liliyana, yang melakukan gerakan hormat tak kalah sakralnya upacara bendera di Istana Negara. Sebuah gerakan hormat yang mengangkat kehormatan bangsa, dari pasangan yang telah membuka lebar-lebar mata kita tentang arti toleransi. Pasangan beda etnis ini adalah contoh paling manis dari keberagaman Indonesia, yang belakangan mendapat banyak masalah.

Seperti sepenggal lirik lagu We Are The Champions yang berkumandang setelah lagu Indonesia Raya di Stadion Riocentro, “We are the champions, my friends. No time for losers.” Sebuah lagu lawas milik Queen yang masih enak didengar, ya setidaknya dibanding lagu barunya AM Hendropriyono yang dinyanyikan setelah upacara bendera di Istana. #eaaaa…

Balik lagi ke Tontowi/Liliyana. Mereka memang berhasil mengembalikan tradisi medali emas Indonesia pada cabang bulutangkis di olimpiade, setelah sempat terputus di Olimpiade London pada 2012. Ketika itu, Indonesia tak membawa satu medali pun di cabang favorit ini.

Medali emas yang disumbang Tontowi/Liliyana adalah medali emas ketujuh Indonesia di ajang olahraga dunia empat tahunan tersebut. Secara tradisi, seluruh medali emas yang diraih oleh Indonesia sejak Olimpiade Barcelona 1992 semuanya berasal dari cabang bulutangkis.

Seluruh rakyat Indonesia berbahagia, termasuk Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Imam Nahrawi. Sebelum laga final, selain menjanjikan bonus Rp 5 miliar, Imam Nahrawi yang akrab disapa Cak Imam sempat berseloroh, “Kita doakan saja mereka berhasil dapat emas. Jika mereka dapat emas, saya cukur rambut dan kumis.”

Saya sempat pesimis soal kata-kata politisi yang selalu bilang, “Saya akan titik-titik, kalau titik-titik.” Ah, bukankah para politisi di republik ini memang suka omong besar? Tapi kali ini rupanya berbeda. Sebagai rasa syukur, Cak Imam benar-benar potong rambut dan kumis, beberapa saat setelah Tontowi/Liliyana menggondol medali emas. Mungkin tantangannya lebih ringan dibanding politisi yang omdo mau lompat dari puncak Tugu Monas atau potong tangan dan telinga.

Cak Imam hanya tersenyum lebar dengan penampilan barunya: botak nanggung minus kumis. Ya bukan hanya cowok ABG yang baru jadian saja yang punya penampilan baru, Cak Imam juga bisa. Pria alumni IAIN Sunan Ampel Surabaya berusia 43 tahun ini terlihat ganteng nan segar. Siap bersaing dengan yang muda-muda, ya cak?

Kalau Owi dan Butet, sapaan akrab Tontowi/Liliyana, berhasil menjaga tradisi medali emas bulutangkis di ajang olimpiade, Cak Imam justru menghapus tradisi Menpora yang sudah berlangsung beberapa periode. Ya betul, tradisi Menpora berkumis!

Entah kebetulan atau tidak, Menpora sebelum Cak Imam semuanya berkumis. Dimulai dari Adhyaksa Dault, lalu berlanjut ke Andi Mallarangeng, Roy Suryo, dan Cak Imam sendiri. Siapa yang menasbihkan tradisi Menpora berkumis itu? Ya siapa lagi kalau bukan netizen republik jagat maya Indonesia. Masih ingat meme kocak yang memamerkan deretan foto Menpora berkumis? Atau, guyonan yang bilang kalau syarat mutlak menjadi Menpora itu harus berkumis?

Sekadar info tambahan, dulu Soeharto juga pernah merekrut seorang pria berkumis menjadi Menpora, yakni Hayono Isman. Bahkan, orang pertama yang menjadi Menpora pada era Soekarno adalah pria berkumis bernama Wikana.

Padahal, jika bicara soal ‘pemuda’, ‘anak muda’, ‘jiwa muda’, ‘janda muda’, dan sebagainya, maka yang ada di kepala saya adalah berbicara tentang sesuatu yang fresh atau menyegarkan. Tanpa bermaksud menganggap pria berkumis adalah pria bermuka tua, tetapi dalam beberapa aspek, pria yang tak berkumis dianggap terlihat lebih fresh.

Saya bekerja di bidang jasa pelayanan dan atasan saya menuntut agar saya mencukur kumis dengan alasan lebih fresh. Nah, pertanyaannya, mengapa selama ini menteri pemuda malah kumisan?

Kemudian, jika merujuk pada kata ‘olahraga’, tampaknya kumis bukan ‘atribut’ favorit para atlet, terutama di era kekinian. Sangat jarang menemukan atlet-atlet Indonesia ataupun internasional yang memelihara kumis tebal-tebal. Sejarah atlet-atlet berkumis paling sensasional, salah satunya tentu dimiliki klub sepak bola Liverpool FC pada rentang tahun 1970-an dan 1980-an. The Reds menjadi salah satu tim besar yang memiliki beberapa pemain andalan yang berkumis.

Kembali soal Cak Imam. Selain nazar cukur kumis, pria kelahiran Bangkalan, Madura ini juga mendobrak tradisi para pejabat atau politisi Indonesia, yang selalu minta dilayani dengan fasilitas terbaik ketika melakukan wisata belanja perjalanan dinas ke luar negeri. Cak Imam dan istri malah memilih tidur menggelongsor di bangku Bandara Internasional Julio Cezar Riberio, Brasil. Mengapa nggak kontak kedubes saja, Cak?

okterus.com
okterus.com

Banyak perdebatan yang terjadi di masyarakat, khususnya di media sosial mengenai foto tersebut. Ada yang bilang bahwa bapak menteri hanya pencitraan. Ada juga yang bilang justru itu sisi kesederhanaan dari Menpora, yang kehidupannya memang tidak banyak neko-neko. Media sosial memang tempatnya berdebat paling asyik. Saking asyiknya nggak bakal selesai sampai tiba hari kiamat.

Lupakan perdebatan itu, yang terpenting sekarang ini memastikan janji Cak Imam soal bonus atlet berprestasi di olimpiade bisa benar-benar terlaksana dengan baik. Nilai kali ini tergolong besar. Peraih medali emas dapat Rp 5 miliar, perak Rp 2 miliar, dan perunggu Rp 1 miliar. Jangan lupa, ada dua atlet angkat besi kita, Eko Yuli Irawan dan Sri Wahyuni Agustiani, yang dikalungi medali perak di Olimpiade Rio 2016.

Hal ini penting, kalau berkaca pada kejadian pada tahun-tahun sebelumnya. Pembayaran bonus atlet masih suka terlambat. Sudah bukan rahasia lagi, pemerintah suka telat merealisasikan bonus untuk atlet berprestasi. Seolah ini menjadi tradisi dan akhirnya melestarikan budaya telat bangsa ini.

Pertanyaan kunci, “Apakah Cak Imam Nahrawi akan kembali merusak tradisi tersebut?” Terlebih beliau berasal dari partai yang mengusung nilai-nilai Islam. Dalam ajaran agama Islam, menepati janji itu hukumnya wajib, toh? Atau, tradisi telat itu malah berlanjut dengan alasan manusia adalah tempatnya lupa dan salah?