Burung Gereja, Agamamu Apa?

Burung Gereja, Agamamu Apa?

satujam.com

Dear burung gereja…

Pagi ini aku bangun dengan kepala pening. Seperti biasa, aku membuka-buka ponsel dan mencari penghiburan di sana. Salah besar. Media sosial tak lagi menyajikan kegembiraan. Banyak kemarahan yang membunuh akal sehat.

Aku beranjak membuat roti dan kopi. Lalu duduk di teras belakang. Makan perlahan sambil memutar CD. Hati ini biasanya tenang setelah mendengar gamelan. Ada yang ajaib dari nada-nada melayang gamelan yang antara ‘ada dan tiada’ dalam range tangga nada piano.

Delapan tahun aku belajar piano klasik. Tak pernah sekalipun merasa ada nada gamelan yang menyimpang. Tak ada lantunan nada yang mengusik keyakinan bermusik. Gamelan, sungguh menakjubkan, meski tak bisa membuatku berpindah aliran. Bagimu aliranmu, bagiku aliranku, bukan?

Gamelan bukan semata soal not. Ia, falsafah dan budaya. Identitas diri. Semua instrumen punya peran masing-masing. Tak ada konflik, tak ada yang ingin lebih terdengar. Rebab yang demikian akan terasa menyebalkan karena menusuk telinga.

Tak ada pula yang ngotot ingin lebih eksis. Bayangkan, kekacauan macam apa yang terjadi, kalau gong ingin terkesan jago improvisasi?

Semua instrumen punya karakter, bahkan ritme yang unik. Mandiri, tapi selaras. Terkesan jalan sendiri-sendiri, namun terasa harmonis. Berbeda-beda, tapi tetap satu. Bersama bahu-membahu membangun satu tujuan: musik yang indah.

Ah burung gereja, kalian tertawa dengar ceritaku ya? Tertawa ingin menghibur atau menertawakan kebodohan? Kamu ingin menasihati? Sudahlah, kebebalan terlanjur lestari. Aku jadi geli sendiri.

Hey burung gereja… Suara kalian memang multitafsir gitu ya? Hanya kalian dan ahli kitab tafsir bahasa burung yang tahu maksud sebenarnya? Baiklah, yang paling penting suara kalian tetap enak didengar. Menyejukkan. Sungguh kalian mahir mengatur susunan not dan intonasi.

Aku pun jadi lahap menghabiskan roti ini, menyerap hingga ke sari-sarinya. Dipadu dengan seruput kopi hitam, aku berharap pening di kepala cepat minggat. Dengan begitu, aku tetap bisa menjaga kewarasan berpikir.

Kalian melompat-lompatlah dengan riang! Ramai bercengkerama di dahan pohon, bagai musik latar alunan gamelan. Eh tapi bercengkerama atau berdiskusi? Apa malah rapat koalisi? Aku tak mau ambil pusing, asal kalian tidak melakukan permufakatan jahat. Tetaplah damai.

Aku paham burung gereja bisa jadi sangat agresif, kalau berurusan dengan teritorial. Daerah kekuasaan. Tentu itu untuk menjamin kelangsungan hidup, juga keamanan sarang. Aku jadi penasaran, apakah burung petahana dan pendatang tetap waras ketika bergulat soal teritori?

Para burung yang menantang pakai argumen apa ya, untuk menebar kebencian kepada burung gereja? Dengan jahil, aku membayangkan para burung tersebut punya akun medsos. Bentuk akunnya kayak apa kira-kira? Akun buku muka (Facebook) dengan foto profil burung berkicau (Twitter)? Hahaha… kok jadi ambigu gitu ya?

Lalu di sana ramai menggiring opini mengeroyok si burung petahana. Mereka mengorek-ngorek informasi – meski hoax, bikin cocoklogi, dan sampai pada kesimpulan dengan headline: ‘Burung pipit ternyata Kristen’. Isi beritanya: Burung pipit ternyata nama lain dari burung gereja.

Narasi kemudian diperluas, karena pada zaman dulu, mereka sering membuat sarang di bangunan tinggi. Dan, satu-satunya bangunan tinggi di zaman itu adalah… gereja. Mereka berlindung di gereja. Bahkan membuat sarang di bahu Yesus yang disalib.

Dasar burung munafik! Usir burung pipit! Usir juga burung-burung lain yang tidak mau ikut mengusir burung pipit!

Ah burung gereja, kalian kok hanya tertawa mendengar khayalanku? Merasa terhibur atau sinis? Kalian para burung dengan otak seukuran dadu kok paham?

Kalian berjuang mencari jodoh dengan atraksi. Bertengkar sedikit, wajar. Tapi tak pernah sampai membunuh. Apalagi kepikiran membunuh sebanyak-banyaknya dengan ritual pengantin menjemput bidadari.

Kok tiba-tiba saya jadi iri ya, sama kalian? Otak sederhana, hidup sederhana. Tak ada ambisi. Makan secukupnya. Kawin secukupnya. Burung gereja bahkan tidak mengenal poligami.

Aku sendiri ingin seperti kalian, hai burung gereja… Walau rupa kalian tak rupawan, suara kalian tak layak masuk kontes pencarian bakat, tapi kehadiran kalian selalu membawa kegembiraan. Paling tidak di tamanku. Hampir tiap pagi aku kemari. Sarapan roti, mendengarkan gamelan dan kalian, sebelum memulai hari.

Nih, aku kasih remah-remah roti ya, sebagai rasa sayang. Aku sungguh lega, kalian nggak pernah ribut nanya rotinya merk apa. Roti, ya roti. Yang penting bukan hasil mencuri.

Ngomong-ngomong soal roti dan burung gereja, aku jadi ingat dulu waktu masih ikutan grup reguler Bupati Purwakarta kang Dedy Mulyadi, keliling kampung. Aku ingat menunggu acara mulai. Duduk di panggung, pakai celana pendek, di atas sawah yang baru beres panen.

Burung-burung diusir dengan berbagai cara, tapi tidak dibasmi. Perlu tetap ada jatah untuk kelangsungan hidup burung, karena mereka berguna untuk membasmi hama serangga. Ya, sebetulnya kita yang berbeda-beda bulu ini, we are all connected. Berbeda-beda tapi dihubungkan rangkaian kosmis. Satu musnah, keseimbangan terganggu.

Dalam tim itu, aku satu-satunya yang bukan suku Sunda dan bukan muslimah. Tapi salah satu lagu kesukaanku adalah Asmaul Husna versi slendro, buatan gitarisnya. Alat musikku? Kecapi Tiongkok.

Kami tampil diiringi penari-penari ala sufi yang berputar-putar. Dua tahun kami keliling kampung, tiga kali seminggu. Tiap kali main Asmaul Husna, tak pernah aku merasa bosan.

Sebelum mulai lagu, aku punya ritual: duduk hormat, menarik nafas dalam, menutup mata, melupakan apa dan siapa, lalu menajamkan telinga mendengarkan kawan-kawan membangun ombak yang akan mendorongku naik turun dalam harmoni.

Jenis lagu dengan melodi sederhana dan pola berulang, merupakan jenis musik mantra. Menentramkan hati, mengembalikan konsentrasi dan keseimbangan. Baik mantra bergaya dan berbahasa Arab, Tionghoa, India, Jawa, Bali, Sunda, Dayak, Indian, berbeda-beda namun semua bernafaskan sama: Beragam suara dibuat berkelindan menjadi satu.

Lagu sufi, biksu, biarawan, bahkan gamelan… aku cinta.

Selama dua tahun itu, sering aku bawakan roti dari Bandung. Roti tanpa kemasan merk, tapi cukup legendaris: Djie Seng. Rasanya jauh lebih enak dibandingkan roti warungan di tengah kampung terpencil.

Harganya pun relatif murah, sekitar Rp 2000-an. Beli satu plastik besar, isi 20-25. Dibagi-bagiin buat para kru panggung yang kecapekan dan tak jarang kehujanan. Plus satu dus vitamin.

Para kru, baik yang ganteng maupun yang sangar penuh tato, gembira berbinar-binar tiap kali melihat mobil Carry berpoled bunga-bungaku hadir.. Tak pernah ada yang tidak sopan, menghina, atau mengajak bertengkar dan diakhiri pertanyaan bagai bom yang seketika menghancurkan persahabatan: Agamamu apa?

Sembari menunggu waktu, kami bergurau atau saling curhat. Kalau hujan turun di tengah acara (Pak Bupati tidak suka pakai tenda), dengan sigap siaga kru mengamankan kecapi Tiongkok-ku masuk sarang.

Semua kru dari dekorasi, lampu, katering, sound system, cleaning service, sampai tim musik, harus kompak bahu membahu berkelindan dalam kosmis kami. Seperti aku yang bukan muslimah, tapi berkhidmat memainkan Asmaul Husna. Sebaliknya kawan-kawan tim string dan brass section yang muslim juga khidmat mengaransemen dan memainkan lagu Natal.

Dear burung gereja… Doaku sederhana. Semoga kami bisa seperti kalian. Tetap riang menggembirakan semua yang mendengarkan.

Oh ya, semoga tak ada seorang pun dari kami manusia yang mengusir kalian dari gereja karena tidak punya IMB, apalagi mem-bully akun medsos kalian dengan pertanyaan: Agamamu apa?

  • Sis, gue suka banget-banget-banget tulisan yang ini. Di Voxpop, ini tulisan lu yang paling gue favoritin 🙂