Percayalah, Bunuh Diri juga Mengintai Kita, Tak Hanya Jonghyun

Percayalah, Bunuh Diri juga Mengintai Kita, Tak Hanya Jonghyun

Jonghyun (Facebook.com/pg/shinee)

Seno Gumira pernah menulis: “Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak mengunggah semangat, dan kehidupan yang seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa.”

Kini agaknya ujaran tersebut bisa diubah pada bagian akhirnya menjadi: berakhir dengan kematian.

Pada 18 Desember 2017, Kim Jong-hyun, vokalis utama SHINee, tewas setelah sempat dibawa ke rumah sakit di Seoul. Sebelumnya, ia ditemukan tak sadarkan diri di apartemennya, dimana juga didapati briket batubara yang masih menyala.

Beberapa saat kemudian, Nain9 – sahabat Jonghyun – merilis pesan terakhir Jonghyun. Di sana, Jonghyun menceritakan rasa sakit dan depresi yang terus dirasakannya.

Jonghyun bunuh diri akibat depresi.

Kematian Jonghyun mengejutkan seantero Korea Selatan dan kembali menimbulkan kritikan pada kerasnya industri K-Pop. Sebelumnya sudah banyak selebriti Korea yang juga bunuh diri, semisal Lee Eun-ju, Kim Daul, dan U;Nee.

Ada banyak faktor pendorong bunuh diri, namun sebab utamanya adalah kondisi kehidupan yang penuh stres.

Korea Selatan adalah salah satu negara dengan tingkat bunuh diri tertinggi di dunia. Rata-rata 40 orang bunuh diri setiap hari di Korsel.

Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Korsel mengestimasi 90% dari pelaku bunuh diri mengalami gangguan mental, seperti depresi dan kegelisahan, kondisi-kondisi yang ditimbulkan oleh stres.

Selain para artis yang hidup di industri hiburan yang jelas dipenuhi berbagai tekanan, kelompok rentan lainnya di Korsel adalah anak (usia 10-19 tahun) dan lansia (di atas 60 tahun). Anak-anak dan remaja mengalami stres terkait pendidikan, sementara lansia akibat hidup sendiri dan kemiskinan.

Kenapa stres begitu berbahaya dijelaskan dalam buku Teknik Menghilangkan Stres dari Otak karya Arita Hideho. Sensei Arita adalah profesor di Fakultas Kedokteran Universitas Toho.

Bahaya utama dari stres adalah merusak siklus dan keseimbangan alami tubuh dan mental manusia. Manusia memiliki siklus alami yang memungkinkannya hidup sehat dan bahagia, asalkan gaya hidupnya seimbang. Makan makanan sehat secara teratur, istirahat yang cukup, olahraga, terkena sinar matahari, bersosialisasi dengan banyak orang, dan sebagainya.

Jika semua itu terpenuhi, maka seseorang tidak rentan. Namun sebaliknya, jika faktor-faktor di atas tidak terpenuhi, manusia menjadi rentan dan stres bisa mengklaim nyawanya, baik secara cepat maupun lambat.

Depresi adalah cara stres membahayakan nyawa secara lambat. Karena mengalami sakit dan penderitaan terus-menerus dalam jangka panjang, fisik dan mental manusia menjadi hancur. Untuk mengakhiri siksaan luar biasa ini, orang lalu melakukan bunuh diri.

Depresi bukanlah penyakit abstrak. Ia bukanlah kondisi mengada-ada dan tanda kelemahan serta kecengengan, seperti stigma yang sering dipercayai kalangan awam.

Ia adalah kondisi medis fisik yang nyata, yang terletak di otak. Ia juga menimbulkan akibat-akibat kesehatan yang jelas, semisal penurunan kekebalan tubuh, pelemahan memori dan kendali diri, serangan jantung, stroke, dan lain-lain.

Mari kita lihat sejenak soal insomnia, yang terkait erat dengan depresi.

Jika seseorang tidur cukup dan berkualitas, ia akan merasa segar dan sehat. Karena tidur memberi satu-satunya kesempatan istirahat bagi korteks prefrontal, area otak yang terus aktif sepanjang hari.

Selain itu, saat tidur juga terjadi pencucian hormon dan protein yang bersifat racun bagi tubuh, semisal kortisol dan beta amiloid. Jantung pun mendapat istirahat. Ini lalu berakibat baik bagi kesehatan dan kekebalan tubuh.

Sebaliknya, jika manusia kurang tidur berkepanjangan, muncul berbagai efek buruk. Terjadi penurunan berbagai fungsi krusial untuk hidup sehari-hari, semisal memori, pengambilan keputusan, dan pengendalian emosi.

Zat racun tidak tercuci dan semakin menumpuk di otak. Jantung menerima beban berlebih dan makin melemah. Sekujur badan lemas dan nyeri.

Terjadi rasa sakit di otak dan tubuh. Ia tidak terlihat dari luar, sehingga orang lain cenderung meremehkan dan tidak menyadarinya, tapi ia ada. Dan penderita insomnia, selain mengalami depresi dan kegelisahan, juga mengalami siksaan rasa sakit luar biasa dalam jangka panjang.

Nah, mari kita lihat penyembuhnya : yakni keberadaan hormon dan penghantar saraf positif di otak dan tubuh manusia. Mereka menjaga kesehatan tubuh dan otak manusia, serta muncul dalam pola hidup seimbang.

Contohnya, untuk tidur dibutuhkan hormon melatonin. Bahan melatonin adalah serotonin, salah satu penghantar saraf positif. Serotonin dihasilkan secara alami dalam berbagai kondisi baik.

Semisal, banyak bergerak dan olahraga, terpapar sinar matahari (terutama saat pagi), bersosialisasi secara tatap muka dengan orang-orang dekat, dan sebagainya.

Dan, di sinilah inti masalahnya.

Gaya hidup modern, terutama di area urban, menghalangi hal ini. Jam kerja padat dan berdurasi panjang serta utamanya duduk di meja, sehingga sulit meluangkan waktu berolahraga. Pergi pagi dan pulang larut, sehingga sulit terkena sinar matahari.

Kemacetan membuang waktu dan memangkas waktu tidur. Sekolah dan kerja penuh tugas dan target, sehingga hormon stres menumpuk. Komunikasi utamanya melalui gawai dan tidak tatap muka, sehingga saraf serotonin melemah.

Inilah fakta mengerikan itu. Bahwa gaya hidup modern secara inheren membuat manusia menjadi rentan dan mudah terkena stres serta depresi. Ini adalah fenomena global yang nyata.

Ia bisa membunuh secara lambat maupun cepat. Depresi adalah cara lambat. Cara cepatnya yakni membunuh secara tiba-tiba dan seketika. Ini bisa ditimbulkan oleh karoshi, yakni kematian akibat kelebihan kerja yang ekstrem.

Karoshi juga melibatkan berbagai faktor insomnia dan depresi seperti disebutkan di atas, namun dalam beban jauh lebih besar dan jangka waktu jauh lebih cepat. Jika depresi menghisap nyawa dalam hitungan bulan atau tahun, karoshi membunuh dalam hitungan hari. Melalui serangan jantung, stroke, atau bunuh diri.

Karoshi sudah dikenal luas, terutama di Jepang.

Contoh kasus yang terkenal adalah Miwa Sado dan Matsuri Takahashi. Miwa, jurnalis berusia 31 tahun, tewas akibat gagal jantung. Dia bekerja lembur 159 jam pada bulan sebelum kematiannya. Sementara itu, Matsuri Takahashi – pekerja periklanan usia 24 tahun – bunuh diri. Dia bekerja lembur lebih dari 100 jam pada bulan sebelum bunuh dirinya.

Di Indonesia, kasus yang segar di ingatan adalah kematian Mita Diran, seorang copywriter yang tumbang setelah bekerja sekitar 30 jam tanpa tidur. Ia sempat dilarikan ke rumah sakit, namun kondisinya tidak tertolong lagi.

Selain tidak tidur dan beban kerja berlebih, Mita juga menjalani diet OCD dan mengkonsumsi minuman energi, yang berakibat fatal bagi dirinya.

Di sini, mari kita istirahat sejenak dan berpikir dengan tenang.

Kini kita tahu gaya hidup modern yang tidak seimbang memang merentankan hidup manusia. Tapi, dari sini juga kita bisa mencari cara untuk mengakalinya.

Berusahalah menjaga pola hidup seimbang, memaksimalkan akhir pekan untuk istirahat, dan meluangkan waktu berkumpul dengan teman dan keluarga. Bisa juga menyusun rencana mencari pekerjaan lain. Kita selalu punya berbagai pilihan.

Sudah jelas, uang tidak bisa membangkitkan orang mati.