Belajar Sejarah Tanpa ‘Hoax’ Bersama Bung Jebret

Belajar Sejarah Tanpa ‘Hoax’ Bersama Bung Jebret

Valentino 'Jebret' Simanjuntak (liputan6.com)

Masih ingat dengan Valentino Simanjuntak? Itu lho, si ‘Bung Jebret’, komentator helatan Piala AFF U-18 tempo hari. Setelah empat tahun tak muncul, entah karena membelah lautan atau berlari antar kota antar provinsi, Valen akhirnya jedar, yes..

Terakhir, ia menggedor telinga-telinga penggila bola tanah air pada helatan tahun 2013, saat Evan Dimas dan kawan-kawan mampu menjadi jawara di ajang kompetisi antarnegara Asia Tenggara. Setelah itu, Indonesia terkena banned FIFA, karena kisruh berkepanjangan.

Garuda Nusantara, julukan timnas Indonesia U-18, tahun ini memang gagal melangkah ke final. Kita harus puas menempati posisi ke-3, entah sampai kapan. Mungkin dua tahun lagi. Kalau tidak, tahun berikutnya. Tahun berikutnya lagi, begitu terus sampai Arsene Wenger mundur dari Arsenal.

Tapi, tentu saja, saya tidak sedang membicarakan penampilan timnas di sini, melainkan Bung Valentino ‘Jebret’ Simanjuntak dengan segala umpan yang menembus lambung, hati, dan jantung pertahanan.

Komentar-komentar ‘Bung Jebret’ telah melahirkan istilah-istilah yang bahkan tak terpikirkan oleh JS Badudu dan tim peyusun KBBI. Tentu saja, istilah asmara yang paling banyak menghiasi komentar-komentarnya.

Misalnya, saat umpan ke arah pemain tak terukur, Valen menyebut, “Uuuu… umpan tegaaaa…” Lalu, ketika pemain menembak dari jarak jauh ke arah gawang lawan, ia akan bilang, “Tendangan LDR yang dilepaskan…”

Jika bola berhasil ditangkap kiper, ia menyebut, “Bola meluncur manis dalam dekapan mesra.” Dan, bila terjadi kerumunan di dalam kotak penalti, pemain berhasil menggocek lawan, ia bilang, “Menghancurkan keharmonisan rumah tangga pertahanan.”

Belum lagi beberapa istilah seperti ‘mantan terundang’, ‘heading sang mantan yang tak mengena di hati’, dan istilah lain di antaranya ‘peluang 24 karat’, ‘kelok sembilan Messi’, hingga ‘gratifikasi umpan’.

Nyatanya tak cuma itu, istilah hukum pun dilontarkan Valen, yang ternyata juga seorang pengacara dan pengajar komunikasi. Jika pemain berhasil membobol gawang lawan dengan sepakan telak, Valen berkata, “Tendangan tanpa amnesti.”

Kalau pemain berhasil mengecoh lawannya, ia tak segan menyebut, “Melakukan gerakan 378.” Memang itu artinya apa? 378 adalah pasal tentang penipuan dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP).

Tapi, tahu tidak, selain istilah-istilah ajaib tadi, ternyata kita juga bisa belajar sejarah dari ‘Bung Jebret’. Tentunya ini bukan sejarah yang dibangun berlandaskan hoax, melainkan fakta di lapangan. Nggak percaya?

Valen kerap memberikan julukan kepada sejumlah pemain. Misalnya, bek Nurhidayat Haji Haris dan gelandang bertahan Asnawi Mangkualam yang dijuluki ‘Benteng Rotterdam’. Bukan sesuatu yang ngasal ketika Valen menjuluki mereka.

Nurhidayat dan Asnawi adalah pemain PSM Makassar dan berasal dari sana. Salah satu ikon kota tersebut adalah Fort Rotterdam. Benteng ini memiliki sejarah panjang.

Benteng Rotterdam dibangun oleh Kerajaan Gowa-Tallo pada 1545. Benteng itu disebut Benteng Ujung Pandang dan merupakan markas pasukan katak Kerajaan Gowa. Ketika kerajaan itu takluk oleh Belanda lewat sebuah perjanjian, benteng tersebut diambil Belanda dan diubah namanya menjadi Fort Rotterdam.

Valen juga sering mengutip lirik pada lagu-lagu nasional secara emosional, ketika anak-anak muda Indonesia mampu membobol gawang lawannya. Salah satu yang ia kutip adalah lagu Maju Tak Gentar ciptaan Cornelis Simanjuntak. “Bergerak! Bergerak! Serentak! Serentak! Menerkam! Menerjang! Terkam!”

Ah, ternyata untuk menjadi seorang nasionalis dan pancasilais tak harus nonton film G30S/PKI edisi lawas maupun milenial nantinya. Sebab, selain mengutip lagu nasional, Valen kerap memompa semangat para penonton dengan ungkapan-ungkapan tokoh nasional.

Tokoh-tokoh nasional yang kerap dikutip, antara lain pejuang emansipasi perempuan RA Kartini, tokoh pejuang Surabaya Bung Tomo, Presiden pertama Indonesia Bung Karno, dan Jenderal Soedirman.

Dari RA Kartini, Valen pernah mengutip, “Teruslah bermimpi, teruslah bermimpi, bermimpilah selama engkau dapat bermimpi! Bila tiada bermimpi, apakah jadinya hidup!” Kutipan ini biasanya keluar kala timnas U-18 terkepit lawan dan dalam keadaan sulit menjebol gawang.

Valen juga sering melontarkan kata-kata Bung Tomo, tokoh pembangkit semangat rakyat Surabaya dalam melawan ancaman kembali penjajahan Belanda melalui tentara NICA, yang berakhir dengan pertempuran hebat pada 10 November 1945 dan kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan.

“Selama banteng-banteng Indonesia masih mempunyai darah merah, yang dapat membikin secarik kain putih menjadi merah dan putih, selama itu kita tidak akan mau menyerah kepada siapapun juga!” Biasanya, ungkapan ini dilontarkan Valen di tengah pertandingan yang seru, saat terjadi jual-beli serangan.

Ungkapan dari panglima besar Jenderal Soedirman yang tak kalah menggelora juga dipekikkan oleh Valen. “Robek-robeklah badanku, potong-potonglah jasad ini, tetapi jiwaku dilindungi benteng merah putih, akan tetap hidup, tetap menuntut bela, siapapun lawan yang aku hadapi.”

Ungkapan dahsyat yang sanggup memompa semangat juga datang dari sebuah ungkapan Presiden Soekarno. “Kita belum hidup dalam sinar bulan purnama, kita masih hidup di masa pancaroba, tetaplah bersemangat elang rajawali.”

Ungkapan itu dilontarkan Bung Karno saat pidato HUT Kemerdekaan RI pada 1949. Biasanya, Valen melontarkan kata-kata itu saat pertandingan akan dimulai.

Oh ya, pada akhir laga melawan Myanmar di ajang perebutan juara ke-3 Piala AFF U-18, Valen pun mengutip ungkapan dari Siddhartha Gautama. Begini kutipannya, “Ribuan lilin dapat dinyalakan dari sebuah lilin, dan usia lilin tersebut tidak menjadi lebih singkat. Kebahagiaan tak akan pernah berkurang karena dibagikan.”

Ungkapan dari Siddhartha Gautama seolah menyiratkan harapan. Timnas Garuda Nusantara jangan berhenti bermimpi. Meski hanya meraih posisi ke-3, masih ada langkah jauh selanjutnya yang akan mereka tempuh. Terdekat adalah helatan kualifikasi Piala Asia U-19.

Dengan ungkapan-ungkapan dari para pahlawan tadi, Valen seolah ingin membuktikan bahwa lapangan bola bukan sekadar permainan antara 11 melawan 11. Valen ingin menunjukkan, lapangan bola adalah arena pertempuran. Membela harga diri bangsa. Menjaga marwah garuda di dada.

Tapi apakah kids jaman now menyadari itu?

Jangan-jangan, anak sekarang memang lebih akrab dengan istilah-istilah asmara yang dilontarkan Valen, semacam ‘mantan terundang’, ‘heading sang mantan yang tak mengena di hati’, mirip kisah asmaramu yang pahit itu kan?

Uuuh… uuhhh… uhhh… Ya ampuuuuuunnnnn!!!

Jebret..!

  • Rynaldi Ramadhan

    komentator favorit

  • Irfan Hidayat

    tendangan tanpa amnesti

  • RegenciPedia Blog

    Dia memanh salah satu komentator terbaik di Indonesia

  • gayanya sebenarnya mirip komentator bola amerka latin. yg paling guwe seneng pas goollll ogolllogolllll….