Bukankah Kodrat Kopi Adalah Pembawa Kebahagiaan?

Bukankah Kodrat Kopi Adalah Pembawa Kebahagiaan?

Memang benar kalau kopi bukanlah minuman biasa. Secangkir kopi bahkan memiliki seribu makna. “The powers of a man’s mind are directly proportionate to the quantity of coffee he drinks”. Ungkapan itu keluar dari mulut Sir James Mackintosh, pria asal Skotlandia yang dikenal sebagai ahli hukum dan sejarah, jurnalis, hakim, profesor, filsuf, serta politikus.

Ungkapan itu menggambarkan betapa penting dan hebatnya kopi bagi dirinya. Bahkan, tokoh legendaris dunia seperti Napoleon Bonaparte juga mengamininya. Penguasa Prancis era 1805 tersebut pernah berkata bahwa seribu meriam tidak akan membuat dia mundur dari peperangan, tetapi satu ujung pena telah membuat dia berpikir seribu kali untuk melawan.

Saat tengah tergolek lemah di atas ranjang, Napoleon Bonaparte meminta sesendok penuh bubuk kopi untuk ditelan begitu saja tanpa diseduh. Ia memilih untuk menyambut kematian ditemani bahan minuman favoritnya. Hasil otopsi pun menunjukkan adanya ampas kopi di dalam perut sang kaisar. Sebegitu cintanya Napoleon dengan kopi hingga mati pun harus bersama dengan kopi.

Bagi saya pribadi, kopi adalah senjata utama sebelum kuliah pagi, setelah malam harinya berkutat dengan insomnia. Kopi juga bisa menjadi doping yang mujarab untuk menghadapi rutinitas perkuliahan. Kopi adalah teman terbaik.

Kopi juga begitu mudah dicintai, karena anda bisa menemukan kopi di berbagai kelas masyarakat. Dari kopi hitam ala tukang ojek hingga kopi dengan hiasan di atasnya ala kaum urban.

Wajar, jika masyarakat Indonesia gemar dan menaruh cinta terhadap kopi. Indonesia sendiri adalah salah satu penghasil kopi tebesar di dunia. Hanya kalah oleh Brasil saja.

Selain itu, kopi juga memiliki manfaat yang tak kalah hebat dengan minuman-minuman lainnya. Dalam tulisan di jurnal ‘Biological Psychiatry’, para peneliti mengklaim kafein bisa berfungsi sebagai obat anti depresan ringan, karena meningkatkan hormon dan sinyal-sinyal lain di otak yang terkait dengan suasana hati.

Dari penelitian terhadap 208.424 orang, tim peneliti menemukan, mereka yang mengkonsumsi dua atau tiga cangkir kopi setiap hari memiliki risiko 45% lebih rendah untuk bunuh diri, dibandingkan responden yang minum kurang dari satu cangkir. Sedangkan bagi mereka yang menghabiskan lebih dari empat cangkir per hari risikonya 53% lebih rendah.

Bisa disimpulkan kalau meneguk segelas kopi sama halnya meneguk segelas kebahagiaan. Maka berbahagialah wahai para penikmat kopi. Hidup anda sungguh nikmat.

Lantas bagaimana jika kopi menjadi medium penjemput ajal? Bukankah kodrat kopi adalah pembawa kebahagiaan? Di situ, kopi seakan memberontak dari apa yang sudah melekat erat dalam dirinya.

 

Malang betul Wayan Mirna Salihin, gadis cantik berusia 27 tahun, saat datang ke sebuah restoran di pusat perbelanjaan di Ibukota Jakarta. Niatnya mau ngerumpi sembari ngopi malah harus menghadap sang Ilahi.

Mirna mengalami kejang-kejang sesaat dan mulutnya mengeluarkan buih-buih busa setelah menyeruput segelas Vietnamese coffee. Mirna pun segera dibawa ke rumah sakit. Namun naas, Mirna tak sempat diselamatkan, karena meninggal saat dalam perjalanan ke rumah sakit.

Menurut dugaan, kopi yang diminum oleh Mirna terdapat zat beracun, yaitu sianida. Polisi menemukan sebanyak 15 gram sianida terlarut dalam kopi yang diminum Mirna. Bahkan, dengan dosis seperti itu, bisa menewaskan hingga 25 orang.

Entah manusia macam apa yang tega memasukkan zat beracun semacam sianida ke dalam kopi. Kurang ajar betul pelakunya! Membayangkannya saja mengerikan. Jadi teringat sebuah scene dalam film ‘Pintu Terlarang’ karya Joko Anwar. Scene dimana Gambir meracuni semua orang-orang terdekatnya saat makan malam. Sadis.

Wayan Mirna Salihin (kanan)
Wayan Mirna Salihin (kanan)

Lalu apakah racun sianida? Bagi penggemar komik, manga, atau anime Detective Conan tentu saja tak asing dengan nama racun sianida. Dalam serial Conan, racun tersebut sering dijadikan alat pembunuh yang mematikan.

Gejala yang ditimbulkan selalu sama di Detective Conan dan kehidupan nyata. Korban biasanya pusing, mual, muntah, kehilangan kesadaran, dan kesulitan bernapas bahkan meninggal dengan mulut mengeluarkan busa. Sama seperti yang dialami Mirna.

Di serial Conan atau kehidupan nyata, racun sianida dalam kasus pembunuhan biasanya dioleskan pada pinggir gelas, botol minum, atau disuntikkan ke dalam batu es.

Tahun 2004, World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa sianida sebagai zat beracun yang amat berbahaya dan mematikan. Pada dosis tinggi, sianida dapat menyebabkan kematian dengan cepat hanya dalam hitungan menit.

Dari perkembangan terbaru dari pihak kepolisian, kasus tewasnya Mirna sudah menjurus dan hampir valid kasus ini adalah kasus pembunuhan. Dengan adanya kejanggalan-kejanggalan selama penyelidikan, semisal tempat duduk yang diduga sudah diatur posisinya, kesaksian pelayan restoran, dan bukti ada kandungan sianida sebanyak 15 gram.

Malang betul nasib Mirna. Ketika orang-orang meneguk segelas kopi untuk melepas penat, mengusir depresi, dan kebahagiaan, Mirna justru menjemput ajalnya.

Ironis. Sungguh ironis.

Foto: print.kompas.com