Bukan Warga Jakarta Kok Berisik?

Bukan Warga Jakarta Kok Berisik?

123hdwallpapers.com

Beberapa hari lalu, di bawah guyuran hujan deras, saya naik sepeda motor melewati Jalan Sudirman, Jakarta. Melewati jalan protokol yang kesohor itu seperti melewati sungai kecil. Entah karena hujan yang kelewat deras atau gara-gara kabel yang nyangkut di gorong-gorong. Derita masih ditambah dengan cipratan mobil orang kaya dari kiri dan kanan. #AkuRapopo #AkuHanyaBasah

Seandainya bersamaan dengan saya lewat pula pak Yusril dan mas Ahmad Dhani, saya yakin mereka lebih ngebet untuk menjadi gubernur DKI Jakarta. Atau, setidaknya termotivasi untuk ngebut agar cepat sampai di rumahnya yang mewah-mewah itu.

Perkara naik sepeda motor di jalan nan tergenang sejatinya bukan ihwal luar biasa bagi saya. Selain di Jalan Sudirman, saya juga pernah mengarungi kali jadi-jadian di sekitar Jalan Pramuka dan Percetakan Negara. Nah, selain yang dua itu, saya juga pernah merasakan penuhnya air di jalanan Cimahi dan Cikarang, Jawa Barat.

Melibas genangan setinggi pantat orang dewasa lagi telungkup dipijet di dua tempat yang saya sebut terakhir itu terbilang penting. Sama pentingnya dengan jalan protokol di ibukota yang serasa air sungai warna cokelat itu.

Di Cimahi, sambil jalan silakan hitung jalanan bolongnya. Jalanan bolong itu mengajarkan pengendara untuk berjudi. Lho?! Bukan apa-apa. Ketika melibas jalanan tergenang, kita nggak tahu ada apa di balik air yang rata. Bisa jadi jalanan mulus, bisa pula lubang 20 sentimeter, bisa juga kenangan mantan yang tersembunyi.

Cikarang lain lagi. Kalau lagi hujan deras banget dan memang sedang musim hujan, jalanan di kawasan industri menjelma menjadi sungai arung jeram. Lebay ya? Teman-teman saya yang tinggal mepet sama kali begitu sabar mengelus dada, ketika air kemudian pelan-pelan masuk rumah. Itu baru ngomong Cikarang, belum bicara Pebayuran, Cibitung, hingga Babelan.

Hampir tiga tahun tinggal di Cikarang, bikin saya hafal siklus hidupnya. Dimulai dari jalan mulus-hujan-genangan-banjir-jalanan mulai rusak-semakin rusak-rusak banget-baru dibenerin-eh rusak lagi. Ah, dari tadi saya belum memperkenalkan bahwa Cikarang, Cibitung, dan teman-temannya itu masuk ke dalam teritorial Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.

Sekarang marilah kita menatap ke Sarolangun, Jambi. Cobalah tanya teman-teman yang ada di Sarolangun, bagaimana pedihnya kebanjiran? Atau, tanyakan kepada keluarga pak Hamzah di Desa Lae Sipola, Aceh Singkil, bagaimana pedihnya kehilangan keluarga, karena disapu banjir bandang? Mungkin bisa tanya juga CEO Voxpop, Kokok Dirgantoro, pernah nggak kebanjiran di BSD sono?

Jadi, tadi saya menyebut DKI Jakarta, Kota Cimahi, Kabupaten Bekasi, Kabupaten Sarolangun, dan Kabupaten Aceh Singkil. Bonus satu Provinsi Banten. Sekadar mengingatkan, enam daerah itu bersama dengan 90-an daerah lainnya bakal menggelar Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak tahun depan.

Sekarang ini kan agak lucu, meski ulah media juga yang membuatnya semakin lucu. Banjir di Jakarta begitu terekspos, meski itu hanya 40 cm. Sedangkan di Aceh Singkil hanya masuk running text. Walhasil, Ahok lagi Ahok lagi yang kita lihat di televisi. Bukan pak Safriadi, bupati Aceh Singkil.

Dampak berikutnya, sebagian orang Jakarta marah, sebagian lagi belain Ahok. Masalahnya nggak sampai di situ. Sebagian orang Banten ikut marah-marah, sebagian lagi belain Ahok. Sebagian orang Cimahi juga marah, sebagian lagi belain Ahok. Sebagian orang Kabupaten Bekasi pun marah, sebagian lagi teriak-teriak dukung Ahok. Berantem urusan Ahok, lupa urusan daerah sendiri.

Karena pernah tinggal di Kabupaten Bekasi, jadi di linimasa saya ada beberapa teman yang tinggal di Cikarang dan Cibitung. Beberapa yang ekstrem itu hobi nge-share ceceritaan soal banjir Jakarta dan Ahok baik dalam perspektif suka maupun geram. Tapi kagak nge-share pengalamannya barusan pulang ke rumah setengah modar gara-gara hujan bonus jalan rusak. Yang macam itu nggak cuma satu dan nggak peduli lulusan SMA atau S2, samimawon.

Ahok itu urusan kurang lebih 10 juta manusia yang tinggal maupun bekerja di Jakarta. Kebijakan apapun yang dibuatnya, nggak akan bikin Pebayuran di Kabupaten Bekasi jadi bebas banjir. Mau Ahok itu berpasangan dengan Mulan Jameela sekalipun, banjir di Aceh Singkil nggak akan kena pengaruh sama sekali.

Sungguh saya cemas kita ini begitu fokus pada ngkoh Ahok, om Yusril, mas Sandi, dan mas Dhani. Hanya melek ke tokoh-tokoh yang kesorot sama televisi, bikin kita sibuk tarik urat syaraf sana sini untuk berantem hingga kehilangan teman.

Kalau zaman Jokowi vs Prabowo masih mending, urusannya nasional, yang menang ya jadi presiden kita. Lah, Ahok vs Yusril berbaju Mickey? Siapapun yang menang akan jadi gubernur DKI Jakarta. Kalau situ tinggal di Cikarang, Sarolangun, Aceh Singkil, atau daerah lainnya, kok berisik?

Maka, wahai kawan-kawan, baik pendukung Ahok maupun bukan, sudahilah berantem nggak jelas di linimasamu itu. Biarkan penduduk ber-KTP Jakarta berjibaku mendukung Teman Ahok kalau memang mereka mau. Biarkan anak-anak muda berkaraoke di Masterpiece-nya mas Dhani. Biarkan pula pak Yusril pakai baju Mickey sambil beli pete. Biarkan semuanya itu, jika memang kamu bukan warga Jakarta.

Okelah, kalau kamu bukan warga Jakarta, tapi warga Surabaya yang pilkadanya sudah kelar. Monggo deh ikutan cari-cari masalah dengan pro-Ahok maupun kontra-Ahok. Tapi kalau situ warga Cimahi, Cibitung, Sarolangun, Aceh Singkil, dan Banten, sebaiknya salurkan energi untuk berdebat tentang orang-orang yang akan memimpin kota, kabupaten, atau provinsimu.

Sekarang ini kita bahkan lebih kenal ‘Wanita Emas’ daripada orang yang akan menantang bu Neneng di Kabupaten Bekasi. Dan, sebelum kita keburu terlalu sibuk pada Ahok, kabarnya anaknya bu Atut juga sudah mendaftar penjaringan calon gubernur Banten. Mantep toh?

Jadi kak, terutama yang tahun depan bakalan pilkada bareng DKI Jakarta, plis sudahilah berdebat soal Ahok, Yusril, Sandi, Dhani, hingga ‘Wanita Emas’. Berisik… Kalaupun terlalu seksi untuk diabaikan media massa, tapi semoga kita tetap sadar bahwa mereka adalah masalah warga Jakarta, bukan masalah kita semua.