Brexit, Breshit. Kita Break dulu ya, Oh Shit!

Brexit, Breshit. Kita Break dulu ya, Oh Shit!

lifesitenews.com

Inggris keluar dari Uni Eropa, kita ikutan ramai. Apalagi kalau nanti timnas Inggris tersingkir di Piala Eropa? Pasti urusannya drama banget. Tapi ya begitu. Faktanya banyak orang suka drama. Itu kenapa rating sinetron Anak Jalanan begitu tinggi, jauh melampaui tayangan Piala Eropa 2016.

Mungkin itu pula alasan Voxpop sampai menayangkan dua edisi soal ultras sinetron Anak Jalanan dan Piala Eropa. Tapi, saya nggak mau ikut-ikutan soal itu. Biarkan saja mas Bram Sitompul cuit-cuitan sama Arif Utama di Twitter. Saya lebih tergelitik ikut meramaikan Brexit atau Britain Exit.

Kemarin, istilah Brexit tiba-tiba memenuhi linimasa, bahkan sempat masuk trending topic. Sungguh, sulit untuk dipercaya, istilah Brexit yang semula asing mendadak sangat akrab di telinga orang Indonesia. Bahkan anak-anak alay ikut berkomentar. Tentunya tak lupa memasang tagar #Brexit. Keren sekali, bukan?

Istilah Brexit sebenarnya sudah lama muncul. Bagi saya yang bekerja di dunia jurnalistik, sebelum Brexit sudah muncul lebih dulu Grexit alias Greek Exit. Istilah Grexit mengemuka, ketika muncul wacana Yunani (Greek/Greece) keluar dari Zona Euro.

Oh ya, Zona Euro dan Uni Eropa itu berbeda. Zona Euro merujuk pada negara-negara Eropa yang menggunakan Euro sebagai satu-satunya mata uang resmi. Kalau Uni Eropa semacam organisasi antar-pemerintahan beberapa negara Eropa.

Selama ini, Inggris memang bagian dari Uni Eropa, tapi tidak bergabung ke dalam Zona Euro. Itu mengapa Inggris tidak menggunakan mata uang Euro, tapi tetap cinta sama Poundsterling-nya, yang sekilas terdengar mirip nama pemain timnas sepak bola Inggris, Raheem Sterling.

Balik lagi soal Brexit. Istilah itu kembali ramai diperbincangkan bukan tanpa sebab. Ini gara-gara hasil referendum warga Inggris, Irlandia, dan sekitarnya yang menyatakan keluar dari Uni Eropa. Inggris sebenarnya pernah menggelar referendum serupa pada 1975. Tapi hasilnya tetap harus satu atap di rumah besar bernama Uni Eropa.

Setelah 41 tahun berlalu, Inggris akhirnya bisa mengakhiri hubungannya dengan Uni Eropa. Ya betul, kita putus. Setidaknya break dulu lah untuk sementara waktu. Kalau nanti mau jalan lagi, ya bisa saja. Toh, hasil referendum Brexit tidak telak-telak amat. Sebanyak 51,9% suara memilih keluar, sisanya 48,1% masih ingin bertahan.

Lalu, kenapa Inggris akhirnya memilih untuk berpisah? Karena sebagian golongan merasa Uni Eropa terlalu mengontrol kehidupan sehari-hari mereka. Sama saja dengan hubungan asmara anda. Kalau punya pacar atau gebetan, suami atau istri, yang terlalu mengekang, bagaimana? Males banget kan?

Selain terkekang, sebagian rakyat Inggris juga merasa bahwa negaranya terbebani oleh Uni Eropa. Banyak peraturan yang membatasi bisnis di Inggris. Uni Eropa juga telah menarik uang untuk biaya keanggotaan hingga miliaran dolar, tapi Inggris hanya merasakan sedikit keuntungan.

Nah, ini juga pelajaran buat kalian yang hobi banget bilang nggak boleh ini-nggak boleh itu. Jadi pacar, istri, apalagi hanya gebetan jangan terlalu posesif. Apalagi sampai “rekeningmu rekeningku, rekeningku rekeningku”. Sudah begitu cuma dikasih kening doang. Semakin males banget kan? ((kode BO alias bimbingan orang tua))

Apakah cuma itu saja? Kok saja? Masih ada alasan lainnya, yakni persoalan prinsip “Free Movement” yang membawa banyak imigran datang dan menetap di Inggris. Sebenarnya menampung imigran untuk alasan kemanusiaan itu sungguh mulia. Yang repot, kalau ada banyak imigran yang datang tanpa alasan jelas. Banyak orang Inggris tak rela berbagi begitu saja.

Ya sama juga dengan kamu-kamu yang tak rela ada “orang lain” dalam hubungan asmara. Saya tak yakin kamu bisa benar-benar tulus berbagi pacar atau berbagi suami/istri. Lho? ((kode D alias dewasa))

Andai saya orang Inggris, saya pun pasti akan memilih keluar dari Uni Eropa. Memang susah kalau sudah bawa-bawa perasaan prinsip. Tapi perpisahan ini tentu ada konsekuensinya. Saya nggak akan bicara bagaimana nilai tukar Poundsterling jatuh ke level terendah selama 30 tahun terakhir atau dampaknya terhadap ekonomi Indonesia. Ada contoh kecil yang menarik, terutama bagi kalangan ultras. Tentang bagaimana nasib Gareth Bale di Real Madrid.

Dengan keluarnya Inggris dari Uni Eropa, maka Bale yang aslinya dari Wales – masih termasuk Britania Raya – akan menjadi pemain non-Uni Eropa di Real Madrid. Tim superior di Eropa itu hanya diperbolehkan memiliki tiga pemain non-Uni Eropa di skuatnya. Saat ini, sudah ada tiga pemain non-Uni Eropa di Madrid, salah satunya James Rodriguez.

Madrid bahkan dikabarkan menunda kontrak baru Bale. Ya nggak usah bersedih kangmas Bale, bukankah kangmas mau ditarik ke Manchester United? “Make MU great again!” Setidaknya begitu kata para pengikut ‘Setan Merah’.

Konsekuensi serupa juga akan diterima oleh kalian yang memilih berpisah dari pasangan. Status jomblo, duda, atau janda sudah pasti. Tapi kalau sampai kehilangan ATM berjalan, bagaimana? Yang tergantung siapa pasangan baru nantinya. Apakah bisa seperti Gareth Bale yang kabarnya akan dipinang klub tajir sekelas MU atau malah jadi jomblo ngenes nan kere?

Yang pasti, setiap drama perpisahan, selalu saja ada orang yang kepo. Lalu ada yang sok kasih semangat, ada yang ikut patah hati, baper, sampai ada yang menjadikan ini peluang untuk masuk. Kandidat calon presiden Amerika Serikat dari Partai Republik, Donald Trump langsung menyatakan bahwa ia mendukung Brexit. Apakah anda termasuk golongan Donald Trump, yang mendukung kalau ada teman anda berpisah dari pasangannya?

Atau, seperti pejabat beberapa negara Uni Eropa, semisal Wakil Kanselir Jerman Sigmar Gabriel, Kanselir Austria Christian Kern, dan Menlu Polandia Witold Waszczykowski, yang menganggap perpisahan sebagai kabar buruk dan menyedihkan? Sebuah kabar yang rasanya ingin memberi puk-puk kepada teman kita yang baru saja bubaran?

Tapi, tentu saja, ada golongan orang yang malah mengompor-ngompori, membanding-bandingkan, kalau ada temannya yang bubaran. Ini sama saja dengan apa yang dilakukan oleh politisi ultra-kanan Belanda Geert Wilders dan pemimpin Front Nasional Prancis Marine Le Pen. Mereka berdua ingin Belanda dan Prancis menggelar referendum seperti Inggris.

Yang lebih unik, ada orang yang justru melihat ini sebagai sebuah kesempatan untuk masuk. Mungkin sudah lama kesemsem. Ini mirip dengan sikap baper Presiden Turki Tayyip Erdogan, yang menganggap Uni Eropa tak kunjung menerima Turki sebagai anggota baru mereka, karena mayoritas penduduk Turki adalah muslim.

Tapi begitu Inggris berpisah, Erdogan ingin rakyatnya mengambil keputusan, apakah Turki akan melanjutkan negosiasi dengan Uni Eropa atau tidak? Itu Turki, lain Prancis, lain pula Belanda. Yang pasti, bagi rakyat Inggris, perpisahan ini mungkin jalan yang terbaik. Begitu juga dengan hubungan asmara. Kalau Inggris keluar dari Uni Eropa disebut Brexit, kalau asmara saya beri istilah Breshit alias… “Kita break dulu ya… Oh Shit!”

  • Kevin91

    Abis keluar dari uni eropa, lalu tersingkir dari Piala Eropa. Tapi ya begitulah Inggris. Suka nggak suka mereka punya sejarah yg panjang di eropa 🙂