Boy Si Anak Jalanan dan Pilkada Jakarta
CEPIKA-CEPIKI

Boy Si Anak Jalanan dan Pilkada Jakarta

7uplagi.com

Tahun 2016 ditutup dengan kabar duka yang begitu mendalam bagi seluruh rakyat Indonesia: Boy si Anak Jalanan, pemimpin Gang Warrior, mengalami kecelakaan dan akhirnya meninggal dunia.

Tidak ada kata yang bisa menghibur duka seluruh rakyat Indonesia. Bahkan, usaha Sandiaga Uno berdiri satu kaki di atas jembatan bambu di Kebon Pala yang sangat menghibur itu tak mampu membendung isak tangis dari ruang keluarga.

Jalan hidup Boy si Anak Jalanan memang penuh liku dan menyedihkan. Pernah mencintai Adriana sepenuh hati, tapi Adriana malah meninggalkannya dan memilih Bei yang kaya walau sudah berumur.

Saya alpa mengingat apakah Bei juga membelikan Adriana HRV dan jam tangan Rolex pada hari kedua dan ketiga kencannya dengan Adriana? Yang jelas, Bei itu bukan plesetan dari Rei dan jauh banget sama Benua.

Singkat cerita, Boy justru jatuh ke pelukan Reva, gadis pemberontak yang sialnya adalah anak Bei. Sial dua kali tentu saja buat Boy. Jika para jomblo punya semboyan ‘kalau jodoh gak akan ke mana, akhirnya ketemu juga di pelaminan… sebagai tamu kondangan’, maka Boy justru bertemu kembali dengan mantannya sebagai calon ibu mertua.

Kalau ketemu di kondangan sih mending, masih bisa ngemut-ngemut lengkuas. Lha, kalau beneran sampai jadi mertua, mau ngemut apaan?

Kematian mungkin bukan jawaban terbaik, tapi sepertinya memang begitulah nasib artis yang kontraknya tidak diperpanjang lagi. Boy menempuh jalan yang dulu juga pernah dilalui Haji Sulam di Tukang Bubur Naik Haji.

Kisah ruwet cenderung njlimet bukan cuma ada di sinetron cinta-cintaan anak muda saja, bahkan bisa terjadi di ajang pilkada.

Hubungan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dengan ormas paling happening tahun 2016, FPI, bagaikan Tom and Jerry. Susah akurnya. Ada kabar burung kalau ormas tersebut diam-diam memberikan dukungannya kepada mas Agus Harimurti. Namun, itu dibantah FPI.

Tapi memang kalau lihat di televisi, kita disuguhi berita di mana ada Ahok, di situ ada FPI. Di sidang Ahok, FPI tidak pernah tidak hadir. Di kampanye Ahok, FPI bahkan selalu ada di barisan terdepan. You jump, I jump-lah pokoknya. Kalau kata Lie Mo Chow di serial Kembalinya Pemanah Rajawali, “Tanyakan pada dunia, apa itu cinta?”

Tentunya bukan ya, Bib.

Belakangan, Anies Baswedan tiba-tiba mendatangi markas FPI. Ormas yang berhasil menghimpun tujuh juta orang di Monas itu seperti ‘cewek cakep di sinetron’. Yang jatuh cintanya sama siapa, tapi jalan barengnya sama siapa. Yang naksir sama dia entah siapa lagi.

Tak pelak, aksi mas Anies itu kemudian menuai beragam tanggapan dari netizen di media sosial. Yang menghujat tentu tidak sedikit. Tapi begitulah cinta, ceritanya tiada akhir, bukan?

Pandji Pragiwaksono yang setia mendukung Anies pun ketiban pulung, kelimpungan menjelaskan aksi cagub yang didukungnya itu. Tapi begitulah, semua pendukung cagub memang akan kelimpungan membela sang idola pada waktunya.

Teman Ahok kesulitan membela mulut kasar Ahok, simpatisan Agus bingung mencarikan alibi buat Agus yang gak mau ikut debat terbuka, dan mungkin sekarang giliran Pandji yang pusing disodori kata-katanya sendiri soal FPI dan anak-anak yang gak mau sekolah.

Lalu di mana Sandiaga, wakil Anies, di pusaran yang ruwet ini? Mungkin masih repot mencari alasan untuk menjelaskan grafiti yang gak sengaja kejepret di foto aksinya berdiri di atas satu kaki tadi.

Cerita cinta memang tidak ada yang sederhana. Ini bukan mau mbelain yang jomblo, toh mereka sudah bahagia, karena malam tahun baru jatuh pada malam minggu. Jadi ada alasan buat malam mingguan, walaupun gak ada yang ngajak dan tetap sendirian juga.

Tapi kalau diperhatikan, cerita cinta yang diingat banyak orang justru cerita cinta yang ruwet. Sampek Engtay, Romeo Juliet, Cleopatra, Siti Nurbaya, dan lain-lain. Mungkin kalau sederhana lebih cocok jadi nama warung nasi rames.

Pilkada serentak – bukan cuma Jakarta – tidak akan lama lagi. Khusus Jakarta, sangat menarik untuk menonton apakah FPI nantinya akan di-Boy-kan atau di-Haji-Sulam-kan oleh para calon gubernur yang sekarang berebut meminta dukungannya?

Soalnya biasa begitu sih. Pas pacaran aja mesra, pas udah kawin apa-apa disuruh angkat sendiri. Pas pilkada aja sowan, pas udah jadi boro-boro.

Ngomong-ngomong, kalau Pilkada Jakarta mirip sinetron Anak Jalanan, terus yang jadi Adriana yang oportunis, Reva yang pemberontak, dan – yang lebih penting – yang jadi Bei yang tajir itu, siapa ya?

Kalau saya malah kasihan sama yang jadi Boy sih, ganteng, baik, disukai banyak orang, eh modyar. Tujuh koma delapan juta orang bisa berurai air mata. Jakarta bisa tenggelam, dan gak enak bacanya di koran: gara-gara air mata.

Tapi hubungan cinta bukan cuma bisa terjadi di sekolah, sinetron, atau pilkada saja, di tempat kerja juga bisa. Kalau kata lawakan jadul, kalau kita gak boleh pacaran sama orang satu kantor (karena banyak banget), kenapa gak nyoba jatuh cinta sama tempat kerjanya aja?

Nah, kalau kata saya, soal hubungan cinta ini, yang benar malah Novel Bamukmin. Setelah hubungannya dengan tempat kerjanya dirasa tidak membahagiakan, beliau akhirnya memutuskan untuk berpisah secara baik-baik.

Seandainya saya jadi beliau, mungkin saya menulis surat pengunduran diri seperti ini:

“Inilah akhirnya, mungkin memang lebih baik kita berfitsah…”

Sambil makan Fitsa Hats, tentunya…