Harusnya Bosmu Berterimakasih pada Ibu-Bapakmu

Harusnya Bosmu Berterimakasih pada Ibu-Bapakmu

Ilustrasi (resilience.org)

Tidak murah membesarkanmu. Ibu-bapakmu mati-matian mengumpulkan uang untuk keperluan makananmu, pakaianmu, mainanmu, dan yang paling besar untuk sekolahmu. Tapi selain kamu, ada pihak lain yang numpang enak ikut-ikutan menikmati jerih payah ibu-bapakmu.

Ibu-bapakmu adalah orang tua yang sangat bertanggung jawab. Bagi mereka, harus ada jaminan yang baik untuk kehidupanmu kelak. Harapan mereka sungguh mulia. Agar hidupmu lebih baik dari hidup yang mereka jalani. Penghasilan yang lebih besar dari yang mereka hasilkan, rumah yang lebih bagus dan lebih luas dari yang mereka miliki, dan harapan mulia lainnya.

Minimal, kehidupanmu nantinya tidak tertinggal dari kehidupan teman-temanmu. Kalaupun terpaksa tertinggal, ya tidak jauh-jauh amatlah.

Mungkin mereka tidak pernah mengucapkan harapan itu, sebab tak ingin menjadi beban. Yang sanggup mereka ucapkan hanyalah, agar kehidupanmu bahagia lahir dan batin. Ucapan itu didengungkan menjadi doa-doa setiap saat.

Ibu-bapakmu bukan pemalas yang hanya pandai berdoa. Mereka mengerahkan daya dan upaya menyiapkan kebahagiaanmu. Menurut mereka, untuk mencapai kebahagiaanmu, kamu harus sekolah setinggi-tingginya sehingga bisa berkarir dengan bagus.

Karena itu, mereka mulai menyiapkan biaya sekolahmu. Bahkan sebelum kamu sanggup menendang perut ibumu dari dalam, bapakmu sudah menyisihkan uang untuk sekolahmu. Itu dilakukan dengan penuh perhitungan dan pertimbangan.

Ibumu bertemu dengan bapakmu di sebuah pabrik pakaian jadi skala besar pada pertengahan tahun 1980-an. Saat itu terjadi boom investasi. Di dalam negeri, bank-bank mengucurkan pinjaman dan pasar modal memuncratkan dana setelah digali dengan berbagai pengendoran aturan finansial.

Dari luar negeri, investasi bergulir ke dalam negeri. Salah satunya disebabkan peningkatan biaya produksi, terutama tenaga kerja, di berbagai negara industri seperti Jepang, Taiwan, dan Korea Selatan. Pabrik-pabrik baru bermunculan seperti jamur di musim hujan, yang disuburkan oleh upah yang masih murah di negeri ini.

Ibu-bapakmu meninggalkan desa masing-masing dan bekerja di sana bersama lebih dari 63 ribu pekerja di 565 pabrik pakaian jadi skala besar lainnya saat itu. Teman-teman ibu-bapakmu saat itu ada juga yang bekerja di pabrik serupa berskala kecil. Ada sekitar 22 ribu pekerja di lebih dari 2.900 pabrik pakaian jadi skala kecil.

Sewaktu melamar kerja ke pabrik, ibu-bapakmu tak berbekal ijazah sekolah. Untuk lulusan SD seperti ibu-bapakmu, asal bisa menjahit atau punya tenaga lebih, sudah cukup untuk bekerja di pabrik. Maka bertahun-tahun lamanya, karir ibu-bapakmu mentok menjadi buruh rendahan.

Ibu-bapakmu menikah beberapa tahun setelah perjumpaan itu. Kemudian ibumu keluar dari pabrik menjelang kelahiranmu, lalu membuka jasa jahit di rumah. Keduanya bersusah payah untuk mengisi tabungan biaya sekolahmu. Perhitungan ibu-bapakmu untuk menabung biaya sekolah sangat tepat, tak meleset.

Dekade 1990 adalah tahun-tahun yang hebat. Tahun 1991 sumbangan sektor industri pada nilai pasar barang dan jasa yang diproduksi negeri ini sudah mengalahkan sumbangan sektor pertanian.

Meskipun waktu itu berbagai industri manufaktur di negeri ini dianggap masih muda, namun menurut ibu-bapakmu, justru di situlah peluangmu. Industri muda digadang-gadang menjadi dewasa untuk menyokong angka pertumbuhan ekonomi negeri ini. Upayanya, dengan penguasaan teknologi dan pengetahuan demi kelangsungan dan keberlanjutan produksi serta daya saing internasional.

Upaya itu mendatangkan pesanan tenaga kerja terpelajar ke gedung-gedung sekolah dan perguruan tinggi. Saat itu, kamu mulai sekolah. Masa depanmu sepertinya cerah. Ada lebih dari 50 juta anak sepertimu yang sekolah di lebih dari 250 ribu sekolahan.

Makin tinggi jenjang sekolah yang kamu tapaki, semakin ibu-bapakmu mengirit-irit uang makan harian. Setiap bulan lebih dari setengah masuk ke pos uang sekolahmu. Maklum, ibu-bapakmu termasuk dalam pekerja berupah rendah, salah satu penyubur untuk pertumbuhan investasi di sini.

Kelak ketika kamu sudah pandai berhitung, kamu akan menemukan angka yang mengejutkan tentang sejumlah uang yang dibutuhkan untuk membesarkanmu. Periset akan memberitahumu, andai kamu lahir tahun ini, ibu-bapakmu membutuhkan lebih dari Rp 2 miliar untuk membiayaimu sampai mandiri pada usia 21 tahun. Maka konversikanlah jumlah uang itu ke tahun saat kamu tumbuh.

Tapi itu tidak mengapa buat ibu-bapakmu, bukan hal berat. Terlebih bagi mereka, membesarkanmu adalah investasi. Meski mereka tak mengharap balas apapun darimu.

Keduanya sudah cukup tenang melihat jalanmu semakin terang sebagai calon tenaga kerja terdidik, tidak seperti keduanya yang bekerja tanpa ijazah. Ibu-bapakmu cukup yakin dengan janji-janji di gedung perguruan itu. Bahwa dengan gelar intelektual yang disematkan oleh perguruan, kamu dijamin sukses dalam pekerjaan.

Lalu tugas ibu-bapakmu, selain mengisi pos uang sekolahmu, juga harus menjaga semangatmu. Agar kamu mampu berkompetisi dalam mendapatkan gelar intelektual yang berfungsi sebagai tiket kesuksesanmu itu. Sainganmu tidak sedikit, dengan kualitas kepintaran yang tidak bisa diremehkan.

Pada akhirnya kamu lahir sebagai lulusan yang menggenggam ijazah penguasaan pengetahuan dan teknologi. Ibu-bapakmu bercucuran air mata haru menatapmu saat wisuda. Perjuangan mereka membelikanmu tiket kesuksesan tuntas sudah. Kini tinggal giliranmu berjuang.

Kamu berhasil, ya kamu bisa menembus lubang persaingan yang amat sempit. Setiap tahun, lulusan perguruan sepertimu sekurangnya 10 juta orang. Hanya 8% saja yang bisa bekerja sepertimu.

Kamu menjadi salah satu sekrup dalam mesin produksi perusahaan industri. Berkat penerapan pengetahuanmu, industri-industri muda di negeri ini terus bergerak menuju kedewasaan.

Orang-orang sepertimu terus dibutuhkan, maka terus dipesan ke sekolah-sekolah dan perguruan. Kamu tekun, patuh, tidak suka protes, dan berdedikasi tinggi di tempat kerja.

Itu semua berkat ibu-bapakmu. Yang merintis jalan keluarga menjadi sekrup-sekrup mesin produksi. Yang beririt-irit makanan setiap hari. Yang menanggung hampir seluruh biaya untuk membuatmu besar dan berisi. Yang menyiapkanmu agar sanggup bersaing di segala sudut kehidupan yang kini telah menjadi industri.

Sementara bosmu.., ya bosmu dengan kuasanya tinggal ikut menikmati jerih payah ibu-bapakmu saja. Dengan kuasanya, bosmu mencomotmu dan memasangmu di mesinnya untuk membesarkan keuntungannya.

Dengan penuh perhitungan pula bosmu membayarmu. Hanya sedikit lebih tinggi dari ketentuan minimal. Itupun dengan segala upaya agar batas minimal terus ditekan. Sampai-sampai kamu kurang bisa mengurus ibu-bapakmu yang kian hari kian renta.

Ngomong-ngomong, apa bosmu mengenal ibu-bapakmu?

Yang tidak pernah protes kepadamu, meski hanya membelikannya pakaian setahun sekali. Yang tidak pernah mengeluh, meski kamu tak pernah membagi penghasilanmu, lantaran ibu-bapakmu tahu upahmu hanya pas untuk memenuhi tuntutan hidup.

Harusnya bosmu berterimakasih kepada ibu-bapakmu…