Obrolan dengan Pak Bondan ketika Makan Malam di Utrecht

Obrolan dengan Pak Bondan ketika Makan Malam di Utrecht

Bondan Winarno (viva.co.id)

Saya dan mungkin anda terkejut dengan berpulangnya Bondan Winarno, salah satu tokoh kuliner Indonesia. Bagi saya, Pak Bondan bukan hanya seorang food presenter, food reviewer, penulis, tetapi sudah menjadi culinary hero.

Pertama kali mengenal beliau, tentu saja lewat acara wisata kuliner di stasiun TV dan melalui tulisan-tulisannya di media online. Dulu, saya selalu setia menunggu acara beliau, karena sangat informatif dan apa adanya.

Ekspresi Pak Bondan ketika mencicipi makanan di televisi sungguh membuat saya merasa ingin cepat mencoba makanan yang dipesan Pak Bondan. Beliau seperti orang normal pada umumnya yang sedang menikmati makanan enak. Makanan enak membuat orang lupa segalanya.

Ekspresi itulah yang digambarkan Pak Bondan. Jika makanannya maknyus, beliau tidak segan untuk nambah, tidak malu pula untuk menyantap makanan dengan tangan dan mulut blepotan.

Ini berbeda dengan beberapa presenter artis yang berkata enak, tetapi tampak malu-malu dan jaim ketika harus menghabiskan makanan.

Melihat acara wisata kuliner dan membaca tulisan-tulisan beliau membuat pandangan saya tentang makanan berubah. Makanan bukan lagi hanya soal kenyang dan enak, tetapi juga bagian dari perjalanan spiritual.

Pak Bondanlah yang membuat saya berani untuk berani keluar dari comfort food dan berkelana ke berbagai warung di tempat-tempat yang non-mainstream hanya untuk mencoba berbagai makanan dengan berbagai genre.

Gara-gara beliau juga, uang gaji saya untuk porsi tabungan mengecil, karena porsi untuk makan-makan meningkat. Maaf, jadi curhat. 🙂

Tetapi buat saya, pengalaman kuliner itulah yang tak terbeli. Berkat rekomendasi beliau, saya pun mengenal masakan Padang dengan genre peranakan, kari ayam di Glodok yang endang bambang dan tahu apa itu pecak ikan.

Bertahun-tahun hanya bisa mengikuti Pak Bondan di layar televisi dan artikel, saya pikir bertemu dengan beliau adalah kemustahilan, mengingat saya yang hanya apalah-apalah ini.

Tapi, waktu saya kuliah di Belanda dan pas kebetulan beliau sedang di Belanda, saya pun mencoba menghubungi beliau melalui Twitter. Ternyata langsung direspon baik oleh beliau dan ajakan ketemuan langsung diiyakan.

Saya bertemu bersama istri dan beliau juga bersama Ibu Yvonne. Pertama kali bertemu, seperti sahabat yang sudah lama kenal. Tidak ada kesan kesombongan sama sekali.

Beliau langsung bertanya bagaimana kabar saya, sedang kuliah apa, dan tentunya apakah saya lapar? Saya dan istri diajak makan di sebuah restoran di Utrecht.

Selama makan malam, saya pun bertanya banyak hal, salah satunya bagaimana Pak Bondan bisa jatuh cinta dalam dunia kuliner?

Jawaban beliau cukup mengejutkan saya, kira-kira begini: “Indonesia ini cukup kaya makanan, sayang dokumentasinya kurang sekali”.

Beliau menceritakan susah sekali mengetahui sejarah terciptanya makanan atau mengapa daerah ini memiliki makanan yang sangat berempah?

Keprihatinan itu yang coba diangkat beliau melalui budaya pop, saluran yang pas saat itu adalah televisi dan media online. Harapannya dengan artikel dan acara televisi, ada sedikit catatan dan dokumentasi yang disumbangkan untuk dunia kuliner Indonesia.

Unsur sejarah makanan, cerita tentang pemilik tempat makan atau perbandingan dengan makanan di daerah lain hampir selalu disertakan Pak Bondan dalam tulisan-tulisannya. Coba lihat saja tulisan beliau ketika me-review Pecak Gurame Haji Nasun.

Pak Bondan tidak membuka tulisannya dengan betapa enaknya pecak gurame Haji Nasun yang mungkin hampir semua orang juga sudah tahu, tetapi beliau mengambil sisi manusiawi sang pemilik, betapa kuliner Betawi kehilangan sosok Haji Nasun yang hangat dan penuh canda.

Haji Nasun yang tidak malu untuk menghargai tinggi Pecak Guramenya yang memang top markotop, tetapi juga cukup dermawan untuk menyediakan buah-buahan gratis dari kebunnya buat para pengunjungnya.

Gaya tulisan beliau yang taste deskriptif juga sangat membantu pembaca membayangkan enaknya suatu makanan. Siapa yang tidak tergiur mencoba tempoyak pindang patin ketika membaca review seperti ini:

“Kuahnya segar, gurih dengan aroma durian dan kemangi yang sungguh cantik. Hint asamnya pas… Maknyus!”

Inilah yang menjadi pembeda Pak Bondan dengan reviewer lain, beliau tidak hanya menceritakan enak, kurang asin, kurang manis, tetapi mampu menjelaskan secara detail mengapa makanan itu enak, apa saja ingredients dalam makanan itu dan tentu saja apa pengaruh suatu bumbu dalam sebuah makanan.

Pertanyaan lain yang saya ajukan ke Pak Bondan adalah apa cita-cita beliau soal makanan Indonesia?

Topik ini tentu saja dijawab dengan penuh antusias. Salah satu keinginan beliau adalah memiliki dokumentasi resep makanan Indonesia.

Beliau menceritakan susah ditemui resep asli makanan Indonesia. Resep di Indonesia diturunkan turun-temurun secara lisan lewat ibu ke anak perempuannya, tetapi hampir tidak ada yang pernah mencatat.

Proses turun-temurun itu semuanya pakai percobaan berulang kali dengan ukuran perasaaan dan takaran secukupnya. Akibatnya resep asli hampir hilang dan yang ada adalah resep modifikasi.

Beberapa saat setelah pertemuan di Utrecht, terbitlah buku 100 Maknyus yang berisi rekomendasi tempat makan plus resep makanan! Ide beliau akhirnya dieksekusi dengan baik.

Lalu, pertanyaan lain yang saya ajukan bagaimana jika beliau mencoba makanan dan ternyata makanannya tidak enak?

Buat Pak Bondan, tempat makan tidak enak bukan berarti kiamat. Cobalah perhatikan, kalau beliau tidak berkomentar apa-apa tentang suatu makanan berarti standar makanannya masih perlu ditingkatkan.

Buat Pak Bondan, beliau tidak mau mematikan usaha orang dan usaha kuliner adalah usaha yang penuh air mata. Cukuplah dengan tidak memberi rekomendasi, tetapi juga tidak menghakimi.

Setelah ngobrol soal makanan, saya pun bertanya hal yang  saya pikir cukup sensitif. Mengapa beliau mau menjadi caleg dan mengapa melalui Gerindra?

Ternyata jawabannya cukup sederhana: “Yang pertama kali menawari saya Gerindra dan ini kesempatan untuk memajukan dunia kuliner dan pariwisata dengan masuk sistem.”

Lalu saya pun bertanya lagi, apakah beliau tidak takut efek dari pileg yang begitu kejam?

Lagi-lagi jawabannya sangat santai, buat Pak Bondan kesempatan menjadi anggota legislatif adalah sekarang atau tidak sama sekali, karena lima tahun mendatang beliau sudah terlalu tua untuk menjadi wakil rakyat.

Ada beberapa penjelasan personal yang dijelaskan sangat detail dan mendengar penjelasan beliau saya sangat respek dengan pilihan beliau.

Dan, seperti kita tahu hasil akhir dari pileg, Pak Bondan gagal menuju ke Senayan. Bukankah dalam hidup kita harus memilih dan bukankah hasil akhir bukan segalanya?

Memang Pak Bondan sudah pergi dan jasa beliau di dunia kuliner tentu tak akan terlupakan.

Selamat jalan Pak Bondan, di atas sana Bapak sudah ditunggu Henri Gault dan Christian Millau. Mereka berdua sudah menantikan cerita Bapak mengenai betapa enaknya makanan Indonesia.

  • Rendra Kurniawan

    Lhaaa iki tulisane arek e