Wahai Bobotoh dan Jak Mania, Lihatlah Maluku dan Afrika Tengah!

Wahai Bobotoh dan Jak Mania, Lihatlah Maluku dan Afrika Tengah!

Ilustrasi suporter sepak bola (sindonews.com)

Awan hitam kembali menaungi sepak bola Indonesia. Seorang suporter harus meregang nyawa usai menyaksikan pertandingan sepak bola. Ricko Andrean tak menyangka bahwa pertandingan Persib vs Persija menjadi pertandingan sepak bola terakhir yang disaksikannya.

Ricko adalah seorang Bobotoh – pendukung Persib – yang meninggal dunia akibat dipukuli oleh sekelompok orang yang ironisnya dari Bobotoh juga. Pemuda yatim piatu yang selama ini bekerja banting tulang untuk menghidupi dirinya sendiri itu sempat dirawat di rumah sakit. Namun, nyawanya tak tertolong.

Dari berbagai informasi yang berkembang, Ricko dikeroyok lantaran dikira sebagai bagian dari The Jak Mania – sebutan untuk pendukung Persija. Selama ini, Bobotoh dan The Jak Mania memang kerap bentrok.

Bagian kalian yang masih punya rasa kemanusiaan, walaupun hanya sedikit, pasti miris mendengar bahwa seseorang tewas digebuki. Terlebih, itu terjadi pada dunia sepak bola yang seharusnya menjadi perayaan kegembiraan.

Sungguh ironis seironis-ironisnya melihat bagaimana kekerasan terjadi di cabang olahraga yang sudah diakui dunia sebagai medium perdamaian ini. Lha kita di sini masih saja baku hantam dan terus berduka entah sampai kapan, Ya Allah!

Tapi, baiklah, bagaimanapun kondisinya, kita harus tetap optimis. Begitu kan? Meski itu tak pernah dilandasi dengan kesadaran penuh dan tindakan nyata. Optimis sih, tapi tak tahu harus berbuat apa.

Saya pernah membaca sebuah artikel di majalah National Geographic Indonesia edisi Mei 2017. Judulnya “Kobar Jantung Afrika”. Artikel tersebut mengisahkan tentang Afrika Tengah yang didera konflik berkepanjangan. Konflik ini melibatkan Seleka dan Anti Balaka, yang berimbas terhadap kondisi sosial masyarakat Afrika Tengah.

Dari artikel tersebut, ada secuil kisah yang menarik bagi saya. Kisah tentang seorang bernama Ibrahim Bohari yang menggunakan sepak bola untuk memulihkan situasi pelik tersebut.

Ibrahim Bohari adalah mantan kapten timnas sepak bola Afrika Tengah. Selama ini, masyarakat Afrika Tengah menganggap timnas sepak bola merupakan sesuatu yang dapat mempersatukan bangsa.

Bohari merasa harus berbuat sesuatu untuk menyembuhkan negerinya. Konflik membuat Bohari kembali dari perantauannya di Eropa. Ia memutuskan untuk menggunakan sepak bola sebagai alat perdamaian.

Kesadaran itu muncul setelah Bohari melihat sekelompok anak-anak yang bermain sepak bola. Ia sadar bahwa orang tua anak-anak itu telah tewas atau pergi karena konflik.

Bohari yang dibantu badan amal Swiss pun mencoba mengadakan pertandingan perdamaian yang para pemainnya adalah campuran dari pemuda-pemuda yang berasal dari kelompok terimbas konflik.

Untuk membuat pertandingan ini bukanlah pekerjaan mudah. Pertandingan perdamaian itu butuh persiapan berminggu-minggu. Butuh diplomasi dengan otoritas untuk memudahkan perekrutan pemain. Belum lagi menjalin koordinasi dengan penjaga keamanan PBB dan meminta dana dari para pelaku usaha.

Bohari sangat optimis dengan pertandingan sepak bola ini. Optimisme yang dilandasi dengan kesadaran penuh dan tindakan nyata, tentunya. “Ini bukan hanya soal pertandingan. Ini menunjukkan kepada masyarakat gambaran hidup rukun dan bekerja sama,” tegas Bohari.

Namun, sejumlah kalangan menanggapi optimisme Bohari dengan wajah pesimis. “Pertandingan sepak bola tidak bisa mengembalikan orang yang sudah mati. Tidak bisa mengubah perasaan orang. Tidak bisa menciptakan lapangan kerja.” Begitu kata mereka.

Pada akhirnya pertandingan perdamaian itu bisa diselenggarakan. Di lapangan, mereka menyatu dan melupakan sejenak faktor pemicu konflik yang selama ini jadi sekat-sekat penghalang kerukunan. Di tepi lapangan, mereka saling membaur jadi satu kerumunan untuk merayakan kegembiraan sepak bola.

Bohari bukanlah satu-satunya orang yang menjadikan sepak bola sebagai jalan perdamaian. Di Indonesia, ada Sani Tawainella, orang yang melakukan hal serupa dengan apa yang dilakukan Bohari di Afrika Tengah.

Sani mencoba meredakan konflik yang berkecamuk di Maluku beberapa waktu lalu lewat sepak bola. Awalnya, ia mengajak anak-anak untuk bermain sepak bola sebagai upaya menjauhkan anak-anak dari pusaran konflik.

Lalu, tim sepak bola yang dibentuknya berkembang pesat menjadi simbol perdamaian bagi masyarakat Maluku.

Apa yang dilakukan Sani berhasil membuka mata banyak orang usai kisahnya diangkat ke dalam sebuah film yang berjudul “Cahaya dari Timur: Beta Maluku”. Sani menyadarkan kita bahwa sepak bola lebih dari sekadar permainan. Dari tendang-menendang bola, perdamaian bisa tercipta.

Jauh sebelum Bohari dan Sani, pada hari Natal tahun 1914, para tentara Inggris dan Jerman yang tengah terlibat peperangan memutuskan genjatan senjata sesaat untuk bermain sepak bola bersama.

Mereka meletakan senjata dan memilih menendang bola bersama-sama. Peristiwa monumental itu kemudian dikenal dengan sebutan Christmas Truce.

Di pertandingan sepak bola yang sering kita saksikan di layar kaca pun banyak sekali pesan perdamaian yang tak boleh diabaikan. Pesan seperti Fair Play hingga Say No To Racism sebaiknya diresapi maknanya. Bukan untuk keren-kerenan saja.

Dan, kematian Ricko semestinya menjadi pelajaran penting untuk kesekian kalinya. Evaluasi besar perlu dilakukan federasi selaku penyelenggara pertandingan sepak bola agar kejadian serupa tak terjadi pada masa depan.

Para suporter juga seharusnya mulai sadar bahwa rivalitas bukanlah alasan untuk melakukan tindak kekerasan terhadap suporter tim lawan. Fanatisme sempit sering kali membutakan mata dan hatimu.

Sepak bola terlalu agung untuk sekadar menjadi arena konflik. Sepak bola terlampau suci untuk dinodai dengan darah dan nyawa. Sepak bola adalah bahasa perdamaian, bukan sebaliknya.

Mari buktikan bahwa mereka tidak mati sia-sia…

  • Zig Ziglar

    mudah mudahan para suporter indonesia yang sering bertikai sadar yah.

  • Setiaw Ari

    jaga sprortifitas baik diluar maupun didalam lapangan, baik untuk pemain maupun seporternya… mudah sepak bola indonesia semakin jaya amin…