Black Panther yang Lebih Keren daripada Black Panther Ala Marvel

Black Panther yang Lebih Keren daripada Black Panther Ala Marvel

Black Panther (Marvel Studios-Walt Disney Studios)

Aksi jagoan super Marvel terbaru dalam Black Panther menuai pujian, sekaligus cercaan. Pujian paling tinggi dialamatkan karena film ini mengangkat pentingnya representasi dan identitas, dengan sutradara dan jajaran pemain yang mayoritas kulit hitam dalam bisnis Hollywood yang serba kulit putih.

Soal bagus enggaknya cerita, tentu ini bisa diperdebatkan. Black Panther sendiri mengikuti kisah T’Challa yang diperankan Chadwick Boseman setelah peristiwa Captain America: Civil War. Ia pulang kampung ke Wakanda untuk mengambil posisi sebagai raja.

Namun, musuh lama muncul kembali. T’Challa diuji sebagai seorang raja sekaligus sosok Black Panther untuk menyelamatkan nasib Wakanda dan seluruh dunia.

Kisahnya sendiri emang agak klise, tapi ini bukan yang jadi alasan cercaan tadi. Lebih karena kekhawatiran Black Panther hanya akan diingat sebagai ikon kulit hitam dalam budaya populer di film Marvel.

Padahal, Black Panther bukan hanya nama tokoh komik, melainkan ada memori kolektif tentang perlawanan melampaui rasisme dan melawan imperialisme dalam nama tersebut.

Wajar-wajar saja jika ada yang mencerca, bahkan sampai ngamuk-ngamuk, karena Black Panther sendiri juga merupakan nama organisasi kulit hitam yang sangat penting.

Black Panther (Marvel Studios)

Black Panther yang dimaksud adalah organisasi yang didirikan pada Oktober 1966 oleh Huey Newton dan Bobby Seale. Organisasi politik kulit hitam yang militan ini tersohor pada akhir 1960-an dan menarik dukungan luas di kalangan pemuda kulit hitam perkotaan.

Soal kostum, mereka enggak kalah keren dengan Black Panther-nya Marvel. Dengan jaket kulit hitam, topi baret di kepala, dan bedil, organisasi ini punya peran penting dalam gerakan hak-hak sipil dan kampanye kesetaraan ras.

Segala andil Black Panther tetap penting karena beberapa alasan berikut…

Pertama, mereka mengingatkan kita bahwa masalah kebrutalan polisi telah lama ada bersama kita. Kulit hitam dianggap warga kelas dua dan tempelan beragam stereotip yang menghalalkan polisi bertindak sesuka hati. Menembak mati warga kulit hitam nggak masalah, karena mereka dianggap biang kriminal dan pengedar narkoba. Polisi yang harusnya mengayomi malah jadi sumber teror.

Kedua, Black Panther menawarkan model aktivisme dan ideologi akar rumput yang baik dalam praktiknya. Meski kelompok tersebut sempat terbelah oleh konflik internal, Black Panther terus melakukan pekerjaan penting. Program mereka menarik perhatian orang-orang Afro-Amerika yang hidup dalam kemiskinan.

Organisasi Black Panther (Huffington Post)

Warga kulit hitam yang tidak dapat bergantung pada pemerintah daerah untuk bantuan apapun tertarik bergabung. Yang paling penting, Black Panther mengaitkan program dan edukasi gratis mereka ke proyek politik yang lebih besar. Campuran cerdik yang praktis dan visioner.

Black Panther juga membuktikan tempat latihan penting bagi aktivis perempuan Afro-Amerika, seperti Kathleen Cleaver dan Elaine Brown. Seperti Gerakan Hak Sipil, anggota perempuan melakukan banyak pekerjaan di Black Panther.

Retorika mereka cukup progresif. Pada Agustus 1970, Huey Newton menjadi salah satu pemimpin Afro-Amerika pertama yang mengungkapkan solidaritas terhadap gay dan lesbian Amerika.

Meski kepemimpinan kelompok tersebut tetap sangat dominan laki-laki, dan perempuan kadang jadi sasaran pelecehan fisik dan verbal, Brown dan perempuan perempuan lain dalam Black Panther mengukir ruang dan memberi kontribusi kuat pada organisasi tersebut.

Aksi-aksi protes dan ideologi radikal Black Panther membuat polisi dan FBI khawatir. Black Panther disasar FBI dan disebut sebagai sebuah kelompok militan nasionalis kulit hitam dengan aktivitas yang berpotensi menyulut tindakan-tindakan rawan kekerasan.

Black Lives Matter (frank.jou.ufl.edu)

FBI menjadi garda depan dalam memberangus Black Panther, namun warisan mereka masih bisa dilihat dalam gerakan Black Lives Matter saat ini. Namun, seperti gerakan Black Power dan Hak Sipil, gerakan Black Lives Matter masih harus juga berkali-kali berhadapan dengan liputan media yang negatif.

Hari ini, lima puluh tahun lebih setelah pendiriannya, Black Panther harus diingat lebih dari sekadar baret dan senapan hitam mereka. Black Panther secara langsung dan transformatif menjadi visi politik yang kuat, menganjurkan aliansi multiras melawan rasisme, kapitalisme, dan imperialisme.

Apakah memori kolektif tentang catatan perlawanan ini akan digantikan oleh budaya populer yang cuma mencatatnya sebagai film penting dengan jajaran pemain dominan kulit hitam? Jadi, Black Panther mana yang lebih keren?

1 KOMENTAR

TINGGALKAN PESAN