Bike Bike Adja: Sensasi Membelah Gunung

Bike Bike Adja: Sensasi Membelah Gunung

Ini bukan komunitas pesepeda biasa. Ini komunitas sepeda gunung. Hobinya main di trek off road turunan, seperti ‘all mountain’ (AM) dan ‘down hill’ (DH). Sebut saja mereka, Bike Bike Adja (BBA).

Bermula dari kesamaan hobi, komunitas goweser ini berdiri pada 21 September 2012. Ketika itu, sekelompok pesepeda yang berasal dari Jalur Trek Jatiasih (JJ) Bekasi dan Jalur Trek Pipa Gas (JPG) BSD bertemu dan ngegowes di satu trek di daerah Puncak, Jawa Barat.

JJ dan jalur JPG itu sendiri merupakan trek sepeda off road dengan karakteristik cross country (XC). Akhirnya disepakati buat komunitas sepeda bernama BBA (Bike Bike Adja), yang berarti Gowes Saja atau Gowes Terus (tetap semangat bersepeda untuk selalu sehat).

Komunitas ini juga identik dengan kebersamaan, sampai-sampai logonya menggambarkan orang yang sedang bersepeda secara beriringan. Ini menandakan kebersamaan untuk selalu bergerak ke depan. Kalau di trek istilahnya ‘Pergi Bareng Pulang Bareng’.

Saat ini, BBA sudah buka cabang di Jatiasih (Bekasi), Bintaro, dan BSD (Tangerang Selatan). Jumlah anggotanya sekitar 50 orang, yang berasal dari bermacam-macam profesi, seperti pengusaha, karyawan swasta, BUMN, wartawan, pedagang, polisi, dan lain-lain.

“Sekali dalam seminggu, terutama week end, kami biasanya gowes bareng di trek-trek lokal. Tapi kalau gowes ke luar kota bisa 1-2 bulan sekali,” tutur Ketua BBA Imam Bahtiar.

Gowes di luar kota jelas sangat berbeda dengan trek lokal. Dari sisi pengalaman, gowes di daerah penuh sensasi. Trek turunannya bak membelah gunung. Menembus kabut dan hutan-hutan.

Contohnya Gunung Bromo, situs megalitikum Gunung padang (Cianjur), puncak (jalur Nura, KTH, RA), Garut, Baturaden (Purwekerto), Kaligua (Bumiayu), Cidampit (Serang), Cihideng (trek DH di Bogor), Sebex (trek DH Sentul), Pangheotan (Purwakarta), Bukit Aquila (Cipanas-Cianjur), Cikole (Bandung), dan lain-lain.

“Trek luar kota sangat menantang. Ada yang jatuh, ketinggalan sepeda, tersesat di trek sampai malam, sampai ketinggalan pesawat,” ujar Imam.

Bagi anggota BBA, jatuh dalam bersepeda gunung itu wajar. Yang penting komunitasnya mengutamakan aspek keselamatan. Setiap goweser wajib menggunakan helm, pelindung lutut (knee), pelindung tangan (elbow), dan perlengkapan P3K.

“Ada yang jatuh sampai patah, ada yang jatuh kelingkingnya sampai bengkok, ada yang jatuh turunan tawon, ada yang jatuh bego,” canda Imam. Meski tidak ada target khusus, namun beberapa anggota BBA pernah mengikuti kejuaraan. “Tapi belum ada yang meraih podium,” kata dia sambil tertawa.

Bagi BBA, mempererat silaturahmi antar goweser sangat penting. Kegiatan BBA juga kerap dibarengi dengan kegiatan sosial, seperti baksos. Misalnya di Garut. Di sana, anggota BBA membagikan sembako ke masyarakat tidak mampu. Dananya saweran anggota saja.

Imam pun berharap semakin banyak orang yang hobi sepeda gunung untuk bergabung di BBA. Komunitas ini sedang menyiapkan rencana untuk menjajal beberapa trek. Apakah ada rekomendasi gunung mana yang menantang? (jm)