Bijak Memahami Perempuan Bercadar: (Bukan) Modus Ngajak Mantan Balikan

Bijak Memahami Perempuan Bercadar: (Bukan) Modus Ngajak Mantan Balikan

tarekfatah.com

Jika Tuhan memang menugaskan saya sekadar menjadi perantara bagi mantan-mantan pacar agar menjadi manusia yang lebih baik, saya bisa apa?

Anggapan bahwa mantan pacar seringkali tampak lebih cantik pasca (me/di) putuskan ternyata bukan isapan jempol. Mereka akan tampak lebih mahir mengombinasikan gincu, eyeliner, eyeshadow, maskara, pensil alis, pemulas pipi, atau apalah itu namanya.

Bahkan ketika kamu berupaya membuatnya menyesal dengan foto hasil jepretan aplikasi B16 yang kamu unggah di Facebook, ia sudah kepalang digandeng oleh lelaki lain. Pupus sudah kesempatan untuk balikan.

Sampai di situ, kecuali membanggakan diri kepada teman sepermainan bahwa dia pernah jatuh di pelukanmu, sebetulnya kamu hanyalah seorang pecundang. Mending kalau pernah berpelukan, kalau tidak?

Tapi bagi saya, peduli apa pada mantan-mantan, terutama bagi mereka yang tiba-tiba mutusin dengan alasan klise seperti, “Kamu terlalu baik bagi perempuan seperti saya.” Bagi saya, mereka cuma onggokan masa lalu.

Meski begitu, ada seorang mantan sebagai pengecualian, satu-satunya mantan yang membuat saya menyadari bahwa saya tidak lebih dari butiran debu. Namanya Jane, sebut saja begitu. Seperti mantan-mantan yang lain, saya pun sebetulnya heran kenapa ia bisa jatuh hati pada saya. Kaya? Nggak kok. Tinggi berisi? Kalau tambun, iya. Ganteng? Cuma mamakku sih yang bilang begitu.

Jane itu perempuan baik. Semasa ta’aruf dahulu, ia mengambil alih semua tugas yang bisa dilakukan seorang ibu kepada anaknya yang baru saja akil baligh: membangunkan saya untuk sholat subuh, menanyakan saya sudah makan atau belum, menyarankan saya untuk puasa Senin-Kamis, dan memperingatkan saya bahwa tidak ada  penjual es kelapa di neraka.

Ia juga perempuan yang cantik, tinggi semampai, bergigi gingsul, putih, jago bikin puisi dan lagu. Tapi ketika saya mengutarakan hendak mengkhitbahnya. Eh, ia menilai sebaiknya kami berpisah. Tapi ya sudahlah…

Sementara saya cuma kuasa melakukan apa yang biasa dilakukan ‘Gerakan Lelaki Gagal Move On’ pada umumnya, yakni diam-diam stalking medsosnya. Belakangan, ia ternyata sudah bermetamorfosis menjadi perempuan yang anggun nan religius.

Saya tidak kaget melihat transformasi tersebut, tapi kenekatannya memutuskan untuk mengenakan cadar adalah suatu hal yang tidak pernah saya sangka sebelumnya. Selidik punya selidik, Jane mengatakan bahwa keputusannya mengenakan cadar merupakan murni sebagai bentuk kepatuhan seorang hamba terhadap Tuhan.

Mengenakan cadar bak seorang ninja tentu saja suatu hal yang mudah, jika kamu tinggal di Planet Namex atau sekalian membangun rumah di tengah hutan Amazon. Tapi masalahnya kamu tinggal di bumi, yang sampai saat ini orang-orang kerapkali mempergunjingkan bentuknya.

Saya betul-betul heran, dia sebetulnya cukup respek dan berlaku baik terhadap orang lain, persetan bumi ini berbentuk lonjong atau bujur sangkar. Nyatanya, bumi ini memang bukan lagi menjadi tempat yang nyaman.

Di Prancis, dengan dalih sekulerisme, pemerintah setempat melarang burkini dikenakan saat berenang di pantai. Di Kota Cannes, siapa pun yang tertangkap melanggar larangan burkini, diancam denda sebesar 38 euro atau sekitar Rp 550 ribu. Tapi sebelum didenda, mereka akan diminta untuk mengganti burkini dengan kostum renang lain atau pergi dari pantai.

Di Amerika, yang katanya negara paling liberal, masih juga lahir sosok seperti Donald Trump yang memarjinalkan kaum minoritas pada setiap kampanyenya. Begitu juga di kota saya, Sampang, Madura, Jawa Timur.

Seperti daerah-daerah kebanyakan di negeri ini, Sampang juga didominasi oleh satu aliran agama. Jadi cenderung tertutup bagi perayaan keberagaman atau menjadi beda bukan suatu hal yang gampang serupa meniup balon.

Masih ingat konflik Sunni-Syiah beberapa tahun yang lalu? Sampai saat ini jamaah Syiah tak bisa kembali pulang ke tanah asalnya. Tapi maaf, saya tidak akan banyak ngomong perihal Syiah, bisa-bisa nanti digeruduk rumah saya. Barangkali itu pula mengapa sampai saat ini, tidak ada Klenteng dan Gereja secara resmi didirikan di Sampang.

Begitu juga risiko bagi mereka yang mengenakan cadar. Stigma yang dilahirkan media turut menyudutkan perempuan yang mengenakan kain penutup muka ini. Mereka diidentikkan dengan kelompok radikalis. Mereka dicurigai terasosiasi dengan kelompok teroris.

Meskipun Jane tidak atau belum sampai diusir dari kampung kami, tapi tidak sekali dua kali ia mendapatkan cemoohan, cibiran, pandangan sinis oleh orang-orang sekitarnya. Seolah-olah ada bom yang ia sembunyikan di balik pakaiannya yang bisa ia ledakkan kapan saja semaunya.

Di kota Sampang, sebetulnya pernah lahir seorang pluralis yang menjunjung tinggi toleransi bernama Ahmad Wahib. Di dalam buku catatan hariannya yang berjudul Pergolakan Pemikiran Islam, beliau bilang, “Toleransi berarti menghormati sesama manusia dalam keseluruhan adanya, manusia harus dipandang dalam kemanusiaannya yang utuh.”

Ia juga berpendapat, “Untuk mencapai tingkatan penghargaan semacam itu, kita harus memandang kehidupan rohani orang lain sebagai hak pribadinya yang tidak dapat diganggu gugat atau dikendalikan dari luar.”

Saya menafsiri bahwa toleransi dapat diperoleh dari pelepasan identitas yang menghalangi orang dalam memandang manusia secara apa adanya. Bukan dari latar belakang agama, etnis, aliran, cadar, burkini, atau apa pun yang dipakainya. Begitu nggak sih?

Beberapa saat yang lalu sebagai bentuk kekhawatiran, saya coba menghubungi Jane dan bertanya, “Apakah kamu tidak takut dan sudah tahu risiko besar yang bakal dihadapi?” Tapi sebetulnya pertanyaan itu sekaligus kode dari kalimat modus ini, “Apakah kamu, wahai mantan, tak butuh seorang pelindung atau pembela?”

Tapi boro-boro ia mengerti maksud pertanyaan jebakan saya. Ia malah menjawabnya dengan mantap dan jelas, “Allah menjaga saya.” Jawaban yang membuat saya tampak kecele sebagai seorang yang berusaha pasang badan berlagak jadi ksatria baja hitam. Saknoo….