Bagaimana Perempuan Bisa Jago Bersolek Sekaligus Intelek

Bagaimana Perempuan Bisa Jago Bersolek Sekaligus Intelek

Ilustrasi (Matheus Ferrero/unsplash.com)

Girls, kalian pernah mengalami ini nggak sih? Mau pergi, bingung mau pakai baju apa, jilbab apa, rok apa, sandal apa. Eh tapi, kalau sandal nggak terlalu bingung deng, soalnya cuma punya satu-dua sandal saja. 🙂

Kalau lipstik? Untungnya cuma punya satu. Pensil alis? Punya, tapi cuma buat koleksi, nggak suka gambar alis karena memang nggak bisa gambar. Blush on, eye shadow, eye liner, atau maskara? Aduh, nggak punya yang kayak begituan.

Apalagi, jika ditanya cara memakainya, ya pasti gak bisalah. Jangankan punya perlengkapan make up ini-itu, punya bedak padat aja nggak. Cuma punya bedak baby, maklum baby face.

Saya pernah bertanya kepada seorang teman, kebetulan kami punya banyak kesamaan. Bedanya, dia punya lipstik tiga dan punya bedak padat. Suatu ketika, dia pernah bertanya, “Kita ini normal nggak sih sebagai perempuan?”

Saya sendiri, kalau mau pergi, paling bedakan terus lipstikan, udah cus… Kan cantik nggak harus menor, kakak? Bedak dan lipstik sudah cukup dan praktis pula dibawa ke mana-mana.

Pada kesempatan lain, saat ingin berpisah karena harus pulang kampung setelah menyelesaikan kuliah, saya bertanya kepada dia. “Sebentar lagi kita berpisah. Apa satu hal yang tak bisa kamu lupakan dari saya?” Dia menjawab, “Selalu bawa lipstik dan bedak di tas ke mana-mana.”

Yup, memakai lipstik dan bedak itu penting untuk menunjang percaya diri ketika tampil di hadapan publik, aihh… Dicatat ya, menunjang percaya diri, bukan untuk menarik mata lelaki. Kalau ada yang tertarik, itu urusannya.

Bahwa setiap perempuan itu cantik dan dia akan lebih cantik jika memakai make up, setidaknya bedak dan lipstik. Ini sangat subjektif sekali. Malah ada kok perempuan yang tidak suka pakai make up sama sekali dan merasa percaya diri. Fine, tidak masalah, yang penting bisa jadi diri sendiri.

Nawal El Saadawi, seorang feminis Mesir, dalam bukunya berjudul Perempuan dalam Budaya Patriarki, mengatakan bahwa kecantikan sejati bila perempuan menjadi dirinya sendiri, yang tidak memalsukan kepribadian lain untuk menyenangkan suaminya agar tidak menceraikan atau meninggalkannya karena perempuan lain.

Kemudian, perempuan yang tidak mengenakan sosok yang bukan miliknya hanya untuk memikat suami dan perempuan yang menolak mengubah tingkah lakunya, keinginan-keinginannya, dan konsep kebahagiaannya yang memuaskan norma-norma masyarakat dengan harapan agar orang-orang tidak memerangi atau menuduhnya tidak normal.

Artinya, jika kamu tampil dengan apa yang kamu inginkan atau tanpa ada orang lain di luar dirimu yang mengatur tubuhmu, maka kamu sudah cantik.

“Kecantikan muncul dari pikiran dan tubuh yang sehat serta kesempurnaan diri. Kecantikan tidak mengambil bentuk dari ukuran pinggul, lekuk tubuh yang montok, lapisan kosmetik yang menutup kegelisahan, dan kurangnya rasa percaya diri,” tutur El Saadawi.

Ia menceritakan bahwa baru sebagian kecil perempuan berpendidikan dan gadis-gadis dalam masyarakat Arab yang lebih memperhatikan pikirannya ketimbang kuku atau bulu matanya.

Namun, itu bukan berarti menunjukkan bahwa perempuan memiliki otak yang rendah, melainkan lebih pada sebuah cerminan pendidikan yang diterima oleh gadis-gadis itu sejak usia dini.

Bahkan, gadis-gadis Arab sejak masa kanak-kanak diajari untuk lebih memperhatikan pakaiannya, wajah dan tubuhnya, daripada kekhawatiran terhadap pengembangan kemampuannya untuk berpikir.

Lantas, kalau di Indonesia bagaimana? Saya pikir tak jauh berbeda. Mereka tidak diajari critical thinking, yaitu bagaimana bisa berpikir secara kritis. Sejak kecil, anak perempuan dibelikan boneka, mainan alat-alat masak, perlengkapan make up, rambut dikuncir dua, segala benda harus berwarna pink.

Ah, sungguh sesuatu yang sangat kaku dan kuno.

Sejak kecil, wajah anak-anak sudah dipoles dengan make up. Mau bukti? Lihat saja ketika memperingati Hari Kartini atau 17 Agustusan, anak-anak TK memakai pakaian adat, anak perempuan wajahnya dipoles dengan make up, bahkan sang ibu membawa anaknya ke salon untuk dirias habis-habisan.

Padahal, sependek pengetahuan saya, Kartini sendiri tidak memakai make up seperti apa yang digambarkan oleh para emak-emak jaman now terhadap anaknya pada Hari Kartini.

Mengapa demikian? Saya hanya berasumsi bahwa dulu Kartini hanya sibuk memperjuangkan hak-hak perempuan agar bisa mengenyam pendidikan, bisa sekolah, membaca buku, menjadi perempuan yang cerdas.

Barangkali, hanya senyumnya yang selalu mengembang. Seperti kata Marilyn Monroe, “Sebuah senyum adalah make up terbaik yang dapat digunakan oleh perempuan.”

Lalu, apa yang salah dalam hal ini? Sudahkah kita membangun nalar kritis itu? Sudahkah kita mengarahkan satu jari telunjuk kepada orang lain, kemudian empat jari lainnya mengarah pada diri kita sendiri?

Baiklah, mungkin Anda tahu Brooke Blair? Video perempuan asal Inggris yang baru berusia 5 tahun ini viral. Video tersebut diunggah oleh ibunya, Holy Matthews, di Youtube pada 2016. Dalam video tersebut, dia mengkritik PM Inggris, Theresa May, yang dianggap tidak becus mengurus rakyatnya.

Saat Blair ke luar rumah, dia melihat banyak gelandangan dan itu membuatnya sangat marah. Dia berharap agar Theresa May memberi bantuan dan menghentikan homeless crisis.

Coba Anda bayangkan, anak usia 5 tahun sudah bisa berpikir kritis seperti itu. Saya pikir, orangtuanya tidak membelikan banyak boneka atau mainan peralatan make up, melainkan mengajarinya critical thinking, mengajak bermain di luar rumah, dan melihat realitas.

Anda juga mungkin sudah mengetahui Malala Yousafzai. Gadis kelahiran Pakistan pada 1997 itu adalah seorang aktivis pendidikan anak perempuan.

Pada 2014, dia mendapatkan Nobel Perdamaian atas jasanya memperjuangkan pendidikan anak perempuan di Pakistan, dimana saat itu kelompok Taliban tidak mengizinkan anak perempuan untuk mengenyam pendidikan.

Atau, kita menoleh ke negara tetangga. Di Malaysia, ada Irene Fernandez, seorang aktivis hak asasi manusia. Dia mendirikan organisasi bernama Tenaganita, yang membela hak-hak pekerja migran dan pengungsi di Malaysia.

Pada 1996, dia ditangkap oleh pemerintah Malaysia karena dituduh menyebarkan berita palsu terkait para pekerja migran. Keberadaannya dianggap sebagai ancaman, sehingga pada 2003 dia dijebloskan ke penjara. Setelah beberapa tahun di penjara, pengadilan akhirnya membebaskan Irene.

Dari kisah-kisah di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa masih banyak yang harus dipikirkan dan diperjuangkan oleh perempuan. Jangan melulu memikirkan nikah muda, dengan jargon “daripada pacaran menimbulkan dosa, mending nikah saja”.

Hello, lo kira nikah enak, jika nol pengetahuan dan tanpa kesiapan mental?

Selain itu, jangan melulu mempertanyakan apa model baju, tas, dan sandal terbaru. Sudah saatnya cara pandangmu itu diperbarui, di-upgrade. Masa kalah sama aplikasi di telepon pintarmu?

Dan, jangan melulu memikirkan diri sendiri! Mari gerak bersama untuk mewujudkan cita-cita Kartini, tokoh emansipasi perempuan di Indonesia.

Kartini akan lebih bangga dan tersenyum di luar sana, jika para perempuan pintar, cerdas, dan berpendidikan. Tak hanya pintar bersolek, tapi juga pintar secara intelek.

Habis bersolek, terbitlah intelek!