Bersikap Adil kepada Jilboobs dan Halalkan Dewi Perssik

Bersikap Adil kepada Jilboobs dan Halalkan Dewi Perssik

algerie-dz.com

Saya termasuk orang yang terkejut melihat iklan Zoya, salah satu brand busana muslim di Indonesia, yang promo jilbab model terbaru. Sebenarnya nggak baru-baru banget, karena cuma dibumbui dengan sertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Ini jelas sebuah gebrakan baru di negara dengan penduduk beragama Islam terbesar di dunia. Rupanya stempel halal sudah merambah ke dunia fesyen, karena selama ini berkutat pada produk makanan, minuman, dan kosmetik. Luar biasa.

Setelah beberapa saat yang lalu muncul ada warung yang menggratiskan pengunjungnya makan dengan syarat harus membaca Al Quran, sekarang muncul jilbab berlabel halal. Sebagai seorang muslim, saya harus mendukung 100%, meski semua orang tahu ini menguntungkan bisnis tertentu.

Tapi sebelum dukung mendukung, kriteria jilbab berlabel halal itu seperti apa ya? Apa yang panjangnya sampai menyentuh dengkul? Atau yang menutupi muka? Atau jilbab yang terbuat dari bahan-bahan yang halal? Saya sangat berharap ada penjelasan yang transparan dari MUI selaku sang penentu halal-haram. Bukan apa-apa, ini menyangkut kepentingan umat.

Saya tinggal di keluarga muslim. Nenek saya muslim. Beliau juga pakai jilbab. Selama ini halal-halal saja, nggak pernah ribut. Ini jilbab dibuat dari apa? Ada gelatin babinya nggak? Abis ngembat di jemuran tetangga bukan? Dibeli pakai uang hasil korupsi nggak?

Dulu model jilbab cuma dua. Slobokan yang tinggal masukin kepala ke bolongan jilbab atau jilbab ribet yang harus dibentuk agar bisa tampil owow banget. Tren ini sudah masuk ke kalangan ABG. Di Gresik bahkan ada komunitas Hijabers.

Sebenarnya untuk apa juga bikin komunitas jilbab ya? Untuk tukar informasi cara pakai jilbab yang bagus? Bagus belum tentu baik dan halal. Lalu pakai jilbab yang dimodel-model, tapi tujuannya pamer. Nggak ikhlas itu. Nanti bisa diceramahin ustad Felix Siauw.

Ah, saya jadi semakin bertanya-tanya. Jadi apa urgensinya jilbab berlabel halal, selain untuk kepentingan bisnis? Kenapa MUI mudah sekali kasih label halal? Apakah kalau pakai jilbab merek lain, jadi haram gitu? Bukankah Zoya bikin tagline besar-besar bertuliskan, “Yakin Jilbab Yang Kita Gunakan Halal?”

Kalau begitu, saya ingin kasih saran ke MUI agar keluarkan label halal dan haram juga untuk klub sepak bola. Misalnya halal mendukung klub asli, bukan klub abal-abal semacam Surabaya United. Atau, misalnya mendukung MU itu haram, karena logonya bergambar ‘Setan Merah’. Nanti fans MU di Indonesia digiring untuk memuja setan lagi, kan syirik.

Lalu bagaimana dengan jilboobs? Bapak-bapak di MUI sudah tahu kan, kalau belum silakan googling pak. Bagaimana kalau jilboobs pakai jilbab dan busana yang terbuat dari bahan halal, tapi memamerkan kesemokan? Nggak apa-apa dong jilboobs, yang penting halal. Lagian situ aja yang ngeres…

Oh ya, bicara halal-halalan, pikiran saya kok langsung tertuju juga ke Dewi Murya Agung. Itu lho, Dewi Perssik, salah satu biduan dangdut terseksi di negeri ini. Belakangan ini, mbak Dewi Perssik lagi giat-giatnya ngomong ‘Halalin Aku’. Kalau muncul di infotainment nggak jauh-jauh dari “Halalin aku”, sambil pasang muka memelas plus mata sayu.

Wajarlah mbak Dewi lagi promo sinetron yang dibintanginya, ‘Centini Manis’. Cerita soal pembantu rumah tangga cantik nan semok yang disukai majikan. Kebetulan lagu berjudul ‘Halalin Aku’ jadi soundtrack-nya. Tapi, selain jargon halal yang bernuansa bisnis, saya rasa ini juga sekalian dimanfaatkan Dewi Perssik untuk menebar pesona. Maklum, janda.

Kasihan mbak yang satu ini. Sudah saatnya halalkan Dewi Perssik sekarang juga agar dunia perhalalan semakin paripurna. Kalau perlu jilbabi Dewi Perssik dengan jilbab berlabel halalan thayyiban. Peduli amat orang mau bilang jilboobs atau tidak, karena boobs adalah milik Dewi Perssik.