Bersiap Merayakan Kebangkitan Anti-Hero!

Bersiap Merayakan Kebangkitan Anti-Hero!

ign.com

Saya berani menyatakan bahwa tahun ini adalah awal atau bahkan bisa menjadi puncak dari kebangkitan karakter anti-hero. Tahun-tahun sebelumnya, perayaan anti-hero tak berlangsung seperti sekarang. Misalnya, tahun lalu, hanya ada satu film yang saya rasa memiliki karakter tokoh anti-hero, yakni Max, yang berjuang dan menghalalkan segala cara setelah hidup di zaman post-apocalypse dalam film ‘Mad Max’.

Sebelum itu, saya masih ingat bagaimana orang awam seperti saya bisa jatuh cinta sama karakter sadistis seperti Joker. Dan, tentu saja, karakter seperti Jack Sparrow dalam film ‘Pirates of the Caribbean’, serta Dominic Toretto di film ‘The Fast and the Furious’.

Tahun ini, ada kisah seorang karakter konyol bernama Deadpool yang sudah tayang pada bulan Februari. Sementara itu ada kisah segerombolan berandalan yang mendaku dirinya sebagai Suicide Squad yang akan tampil pada bulan Agustus.

Semuanya saya pandang sebagai karakter anti-hero. Kalau mendengar sekilas kata anti-hero memang tampak seperti peran antagonis atau kebalikan dari hero. Padahal, anti-hero sebenarnya juga sebuah peran protagonis. Namun, harus diakui, sosoknya tak mencerminkan karakter heroik seperti idealisme, moral, dan lainnya.

Mendebat perihal baik atau buruknya, bisa dilakukan belakangan. Namun, mengenai anti-hero, jelas bisa dinikmati dengan penuh apresiasi. Mereka selalu tahu di mana kaki berpijak dan siapa yang harus mereka bela, dengan cara yang tentunya tidak konvensional atau bahkan terkadang menerabas aturan.

Anti-hero menunjukkan dirinya yang sungguh manusiawi, dengan hasrat dan ego yang ada, jauh dari pandangan utopis pada karakter superhero. Ia menggambarkan diri kita, yang sungguh sangat kompleks. Ia adalah sebuah enigma, layaknya kita, dan manusia pada umumnya.

Superhero tak mampu melakukan hal seperti itu. Superhero harus berpegang pada asas-asas yang berbau utopis. Seperti jangan melukai, berdamai dengan semua pihak, namun pada akhirnya pula dipaksa harus memusnahkan kejahatan bahkan jika harus melanggar asas-asasnya sendiri. Superhero kemudian malah terjebak dalam hipokritas atau kemunafikan yang luar biasa demi memegang panji-panji perdamaian.

Suka atau tidak, sinema berhasil membuat kita jatuh cinta dengan anti-hero. Persis seperti sandera yang malah melindungi dan menyayangi perampok di Stockholm, yang kemudian dikenal sebagai ‘Stockholm Syndrome’. Semua orang memiliki pesan yang benar, bahkan orang yang dipandang jahat sekalipun. Itulah yang saya tangkap sebagai pesan dalam komodifikasi sinema anti-hero.

Karena merupakan karakter yang tak baik dan penuh ego, maka hal baik dengan landasan kuat yang menjadi tujuannya menjadi begitu dihargai. Maka, ketika sudah jelas Rangga mengabaikan Cinta karena ia harus kuliah di luar negeri, tetap saja gadis-gadis sampai ibu-ibu bergetar dan meleleh ketika menyaksikannya.

Bahkan sekalipun sudah tahu Rangga itu melakukan hal-hal yang tidak disukai perempuan: dicuekin oleh seorang lelaki introvert yang hanya berteman dengan buku dan penjaga sekolah. Sangat tak seksi di zaman tersebut dan bahkan zaman sekarang. Tapi di situ Rangga justru menang banyak. Misteri mengenai seorang lelaki introvert dan lika-liku hidupnya ini kemudian membuat kita berharap besar bahwa keduanya bisa bersama.

Sosok anti-hero sebenarnya sudah diperkenalkan lewat karya-karya penulis dan novelis semacam Franz Kafka. Atau, bagi penyuka novel karya Albert Camus dan Jean Paul Sartre, sosok anti-hero bisa kita temukan. Dalam perkembangannya bahkan sosok anti-hero kerap hadir sebagai tokoh utama dalam berbagai film, serial, komik, maupun novel.

Film ‘Deadpool’ dan nantinya ‘Suicide Squad’ yang saya katakan menyuguhkan karakter anti-hero cukup mewakili sebuah enigma dalam diri kita tentang kebenaran dan hal yang pantas dilakukan. ‘Deadpool’ menggambarkan kebebasan, sedangkan ‘Suicide Squad’ menampilkan keliaran akibat ketimpangan sosial.

Narasi-narasi anti-hero ini kemudian berhasil masuk ke dalam diri kita dan mewakili kita dalam proses simulasi layar kaca, dengan manusia yang penuh kekurangannya dan teramat takut ini. Mereka bahkan diidolakan dan dijadikan role-model.

Tapi film tetaplah film. Kita hanya mampu menerima karakter anti-hero sebagai antitesis sebuah hiperealitas atau kelebayan superhero. Sementara di dunia nyata, hal tersebut akan sangat sulit terjadi. Dunia adalah milik pemenang dan mengamini apa kata Harvey Dent, seorang jaksa luar biasa di dalam komik Batman, “You either die hero, or live long enough to become villain.”

Hal ini menegaskan bahwa dunia hanya mengenal dua hal: pemenang atau pecundang, pahlawan atau lawan. Karena sebagaimana yang diutarakan Zen RS, sejarah hanya milik para pemenang. Begitu pula di lingkungan sosial kita.

Perihal mengapa kita mencintai seorang anti-hero di sinema adalah informasi yang tersaji secara eksplisit. Semua informasi di dalam film mengalir dan membuat kita lambat laun mengerti tentang apa yang terjadi dengan sang anti-hero. Sementara di dunia nyata, narasi tentang anti-hero tersembunyi dalam hal-hal yang berbau implisit.

Anti-hero di dunia hanyalah preferensi pribadi. Bagi saya sendiri, tentu Tan Malaka adalah seorang anti-hero. Atau, menurut narasi Hinayana yang saya setuju, Gus Dur juga seorang anti-hero. Namun, apakah hal tersebut dipandang sama oleh masyarakat? Tidak, tak ada yang benar-benar sepakat seorang pantas dinobatkan sebagai anti-hero seperti layaknya di sinema.

Anti-hero itu bersifat abu-abu. Dan, perihal yang abu-abu sendiri kerap dianggap sebagai hal yang negatif di masyarakat kita. Maka, merayakan anti-hero dalam realitanya seringkali merupakan perayaan sendiri-sendiri dan penuh kontroversi.

Tentu ada sebuah wujud eksepsional. Seperti ibu-ibu Rembang yang menyemen kakinya sebagai simbol perlawanan terhadap pembangunan pabrik semen. Atau, Salim Kancil dan persoalan tanah pada tahun lalu. Atau bahkan Munir, yang berbicara jujur, yang saat itu sungguh tak konvensional, lalu dieksekusi dan entah bagaimana kasusnya hingga saat ini.

Mereka dihargai karena semua orang tahu perjuangan mereka. Mereka lah anti-hero yang dirayakan oleh masyarakat secara luas, meski kebanyakan berakhir tragis. Sangat berbeda dengan karakter anti-hero di film Hollywood, Bollywood, atau bahkan Indowood kalau ada.

Walupun begitu, saya harus akui, anti-hero itu seksi sekali. Bagi yang menyaksikannya, mereka bisa menemukan seorang karakter yang kuat dan berprinsip yang mampu mewakili diri mereka yang lemah atau bahkan menemukan karakter mereka yang kuat dalam anti-hero.

Sejumlah sinema atau kejadian yang hadir dengan ide pokok anti-hero pada tahun ini harusnya membuat kita sadar satu hal: berpijak pada diri sendiri lebih baik daripada selalu bergantung pada orang lain. Maka dari itu, rayakanlah tahun ini sebagai tahun anti-hero. Semoga kelak, banyak pula anti-hero yang berani lompat ke dunia nyata dan menjadi idola kita semua.