Bersepeda, Cara Alternatif Mengasihi Tuhan dan Manusia

Bersepeda, Cara Alternatif Mengasihi Tuhan dan Manusia

bike2workscheme.co.uk

Saya sekeluarga beragama Kristen, dan sudah menjadi kewajiban pada hari Minggu untuk pergi ke gereja menjalankan ritus agama. Tak boleh ada kegiatan yang menghalangi kami untuk beribadah. Kalaupun ada, tetap akan kami sempat-sempatkan ke gereja.

Bagi kami, ini bukan sekadar kewajiban, tetapi lebih kepada ucapan syukur atas banyaknya berkat yang telah Ia berikan. Sudah diberikan banyak berkat tapi tidak mengucapkan terima kasih, kurang ajar betul namanya.

Dalam setiap ibadah tak lupa juga jemaat diingatkan kembali akan hukum kasih yang menjadi pedoman menjalani kehidupan. Jika anda belum tahu bunyi dari hukum kasih itu, ada baiknya saya jelaskan di sini. Ini bukan Kristenisasi lho ya… Jadi selow aja.

Pada intinya, hukum yang pertama dan paling utama itu mengasihi Tuhan, Allahmu, dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi. Kedua, mengasihi sesama manusia seperti mengasihi dirimu sendiri. Kira-kira itu yang dimaksud dalam Matius 22 : 37-40.

Setelah diingatkan hukum kasih ini, maka kemudian jemaat dimohon untuk  merenungkan kembali, apakah dalam setiap langkah kehidupan sudah mengamalkan hukum ini atau belum? Jika dirasa belum ataupun kurang maksimal, jemaat akan diminta untuk memohon ampun kepada Sang Pencipta.

Mengasihi memang susah, tapi ya tidak susah-susah amat. Mengasihi sesama tidak berarti anda harus memberikan sebagian besar penghasilan anda untuk orang-orang miskin, kaum janda, ataupun anak yatim.

Mengasihi sesama tidak berarti anda harus seperti Yohanes Paulus II yang memaafkan pelaku penembakan atas dirinya, atau seperti Bunda Theresa yang dengan sukarela merawat para penderita kusta di Kalkuta, India.

Saya bukan pendeta, bukan ahli agama, ataupun mahasiswa teologi. Tapi setelah saya renungkan, ternyata ada banyak hal kecil di dunia ini yang bisa kita lakukan agar menjadi manusia yang mengasihi Tuhan dan sesama manusia. Salah satunya adalah dengan bersepeda.

Berikut beberapa alasan yang membuat bersepeda dapat menjadi alternatif untuk mengasihi Tuhan dan sesama manusia:

1. Tuhan Tak akan Patah Hati

Kehidupan yang serba bergegas dan aktivitas yang padat membuat kita jarang bersantai untuk menikmati hidup serta berolahraga. Maka tidak heran banyak orang yang depresi, stres hingga bunuh diri, lalu penyakit-penyakit seperti obesitas, diabetes, jantung koroner, dan berbagai penyakit berat lainnya.

Jika mengalami hal-hal di atas, itu tandanya kita tidak menghargai kehidupan yang telah diberikan. Tidak menghargai pemberian Tuhan (kehidupan) sama dengan tidak mengasihi-Nya. Ibaratnya kamu punya pacar. Pacar kamu sudah mempercayakan sesuatu kepada kamu, tapi kamu malah merusak kepercayaan itu.

Tuhan juga punya hati, Ia juga berhak untuk patah hati. Dan, bersepeda adalah salah satu kegiatan yang tepat agar kita memperoleh kesehatan serta menghargai kehidupan yang diberikan-Nya.

Bersepeda selama setengah jam dengan kecepatan 19-22 km/jam dapat membakar kalori sebanyak 235 kalori. Sedangkan jika bersepeda selama satu jam akan membakar kalori sebanyak 500 kalori. Itupun jika bersepeda di jalan yang lurus-lurus saja. Jika jalannya menanjak akan lebih banyak lagi kalori yang terbakar.

Bersepeda juga dapat dilakukan di mana saja, termasuk di alam terbuka seperti daerah pegunungan ataupun perbukitan. Kita akan bisa menikmati indahnya pemandangan ciptaan Tuhan, serta menghirup udara yang segar tanpa polusi. Dengan demikian, hati dan pikiran kita menjadi tenang. Stres pun hilang.

2. Merasakan Jadi Minoritas yang Ditindas

Bersepedalah ke pusat kota pada waktu jam pulang kerja, maka kamu akan merasakan menjadi minoritas yang sedang ditindas. Jalanan pada saat jam pulang kerja ibarat medan pertempuran yang bisa menghilangkan nyawa.

Mengendarai motor maupun mobil hanya urusan gas dan rem semata. Tidak ada lagi yang namanya jalur sepeda ataupun trotoar, semua sama saja. Jika masih memungkinkan untuk dilewati, maka trabas saja!

Tidak ada kata peduli lagi untuk sesama. Kamu juga tidak usah heran manakala kamu di klakson oleh orang-orang yang ada di sekitarmu. Karena bagi mereka, kamu adalah penghalang menuju jalan pulang.

Dengan kondisi seperti itu, bersepeda merupakan kegiatan yang cocok untuk melatih kesabaran dan sebagai sarana yang tepat untuk memaafkan para pengendara yang tidak sabaran itu.

Buat pengendara mobil dan motor yang nggak sabaran, tak ada salahnya mencoba supaya merasakan bagaimana menjadi minoritas yang ditindas. Berani? Ah, saya tak yakin. Bukankah menindas itu adalah sarana untuk bersenang-senang?

3. Tidak Korup

Jalanan sudah diatur sedemikian rupa, sehingga para penggunanya memperoleh porsi yang adil. Trotoar untuk para pejalan kaki, jalur sepeda digunakan untuk mereka yang bersepeda, sedangkan jalan raya untuk mereka yang berkendara menggunakan motor maupun mobil. Tapi namanya juga aturan, mungkin hakikatnya memang untuk dilanggar.

Motor dengan seenaknya mengambil jalur trotoar dan membahayakan para pejalan kaki. Jalur sepeda tak lagi dipedulikan oleh para pengendara motor dan mobil, peraturan mereka abaikan, yang penting cepat dan segera sampai tujuan.

Tapi, jika kita menggunakan sepeda, kita tak bisa sembarangan. Coba saja kamu bersepeda di trotoar, pasti kamu akan kena timpuk oleh para pejalan kaki. Ya minimal dipelototin lah.

Lalu, apa kamu mau pindah ke jalan raya, kalau di situ tak ada jalur khusus sepeda? Hati-hati. Kamu pasti akan kena klakson dan disuruh minggir, karena kamu dianggap sebagai penghalang. Jalurmu saja – kalau ada – hampir pasti dikudeta, kamu berani-beraninya mengkudeta jalur lain.

Bersepeda mengajarkan kepada kita untuk konsisten dan mencukupkan diri atas apa yang kita punya. Intinya kita tidak mengambil hak yang bukan milik kita. Andaikata pengendara yang suka menyerobot jalur itu menjadi pejabat, pasti bakal korup. Untungnya mereka nggak jadi pejabat. Semoga.

Ya begitulah beberapa alasan yang membuat bersepeda dapat dijadikan alternatif bagi kita semua yang ingin mengamalkan hukum kasih. Jadi ada baiknya, setelah kamu membaca tulisan ini, segera ambil sepedamu. Kalau tidak ada, ya pinjamlah sepeda temanmu, tetanggamu, atau saudaramu.

Kemudian rencanakan mau bersepeda di mana? Saya sarankan bersepedalah di jalan raya kota besar, seperti Jakarta, pada saat jam masuk dan pulang kantor. Selamat menikmati…