Bersepakat dengan Goenawan Mohamad dan Melupakan Pram

Bersepakat dengan Goenawan Mohamad dan Melupakan Pram

Ilustrasi (normantis.com)

Siapakah Pramoedya Ananta Toer? Masih perlukah kita mengingatnya?

Dengan tidak mengesampingkan karya-karyanya yang lain yang terbit di Indonesia maupun di mancanegara, kita bisa mengenal Pram dari karyanya yang paling terkenal bertajuk ‘Tetralogi Pulau Buru’ atau ‘Tetralogi Bumi Manusia’. Cerita tentang pembelaan kaum miskin oleh seorang keturunan bangsawan, Minke.

Kisah Minke memang menjadi inspirasi bagi banyak pembaca sampai saat ini. Menjadi pembela kaum miskin dan ikut menyuarakan masalah-masalah mereka, meski sebagian ada yang sambil ngopi-ngopi cantik atau sekadar kasih tanda jempol, love, atau share berita di media sosialita sosial.

Tapi agaknya menjadi ‘Minke’ bukan pilihan bagi Luthfi Assyaukanie, salah seorang pendiri Jaringan Islam Liberal (JIL). Bagi seorang Luthfi, membela kaum miskin adalah sama dengan membiarkan mereka agar tetap dan terus miskin. Suatu pandangan ilmiah alamiah yang patut dihargai. Kita hidup di zaman yang realistis, dimana modal menentukan kehidupan manusia. Nyaris semua ada harganya. Jadi hargailah.

Dengan membela kaum miskin, berarti membiarkan mereka tetap menjadi kelompok-kelompok yang ditindas oleh penguasa. Membiarkan mereka tetap menjadi kaum inferior yang menjadi obyek eksploitasi penguasa. Membiarkan mereka tetap menjadi kaum, yang dalam istilahnya Antonio Gramsci, “subaltern”. Sebagaimana yang dikicaukan sastrawan tersohor sekelas Goenawan Mohamad (GM), “Can’t the subaltern speak?”

Kita lalu diajak berpikir kritis tentang siapa sebenarnya yang sah untuk mewakili orang miskin. Kaum yang secara umum terbatas aksesnya pada percakapan di tingkat elit.

Dan karenanya, alih-alih menjadi pembela kaum miskin, kita lalu diajak untuk mengamini gagasan GM tentang perlunya menyiapkan dan mendidik mereka untuk dapat mengartikulasi hasrat dan kepentingan mereka sendiri.

Hal itu dilakukan agar kita tahu bahwa dalam tatanan demokrasi, kaum miskin tidak merasa dikesampingkan. Dengan adanya pendidikan dan penyiapan ini, nantinya mereka bisa turut serta dalam percakapan kaum elit. Adapun nantinya suara mereka tetap dikesampingkan, itu akan menjadi pertarungan yang riil.

Gagasan itu bisa jadi sangat relevan, meski tidak cemerlang amat. Karena dengan begitu, kaum terpelajar dan elit tak perlu lagi merasa terbebani untuk susah payah memperjuangkan nasib kaum miskin. Bisa kembali sibuk sendiri dengan urusan duniawinya masing-masing. Gagasan ini sangat relevan. Relevan bagi sebagian kaum terpelajar dan elit.

Namanya juga terpelajar dan elit, kalau bisa semua persoalan harus diselesaikan di ruangan berhawa sejuk, di pusat kota metropolitan seperti Jakarta, lengkap dengan makanan prasmanan beraneka menu. Mendidik kaum miskin bisa lewat seminar-seminar atau proyek serupa. Setelah itu diharapkan kaum miskin bisa tercerahkan. Lalu akan bangkit? Nggak, kekenyangan.

Jika sudah begitu, kita tidak perlu lagi menjadi ‘Minke-Minke’ masa kini. Tidak perlu lagi repot-repot perang opini dan advokasi-advokasi lainnya terkait problem kaum miskin. Tidak butuh jargon-jargon populer, seperti ‘Mendidik rakyat dengan pergerakan, mendidik penguasa dengan perlawanan’.

Kita juga tidak perlu lagi mengutip Pram bahwa kau terpelajar, cobalah bersetia pada kata hati, meskipun pada akhir pemikiran logisnya GM tetap menyimpan pertanyaan seperti dalam caping-nya tentang “subaltern”, siapa yang akan mendidik? Lalu kita bisa pura-pura lupa pada jawaban Pram atas pertanyaan itu. “Apakah sebangsamu akan kau biarkan terbungkuk-bungkuk dalam ketidaktahuannya? Siapa bakal memulai kalau bukan kau?”

Logika GM adalah logika yang sama dengan logika pemerintah tentang pembangunan kekinian. Bahwa masyarakat – dalam hal ini kaum miskin – adalah obyek pembangunan.

Pembangunan dilakukan untuk kemudian mengarahkan masyarakat keluar dari kemiskinan. Tentunya dengan pola hidup yang bukan lagi standar kaum miskin, tapi pada standar hidup kaum elit. Dengan demikian, kabahagiaan dan kesejahteraan terpenuhi.

Dalam logika seperti itu, kemiskinan tidak lebih dari kotoran dan noda pembangunan. Oleh karenanya harus dibersihkan sesegera mungkin, walaupun tanpa advokasi dan pembicaraan yang setara. Kita pun diajak untuk tidak perlu repot mengutip Pram, “Kami memang orang miskin. Di mata orang kota, kemiskinan adalah kesalahan. Lupa mereka lauk yang dimakannya itu kerja kami.”

Beberapa waktu lalu, kita dihebohkan dengan pembangunan pabrik semen di Rembang, penggusuran kampung di Pasar Ikan, dan area lain, serta reklamasi Pantai Utara Jakarta. Itu semua tentunya beranjak dari niat baik pemerintah untuk memajukan daerah dan masyarakatnya. Karena selain kaum miskin, masyarakat juga terdiri atas horang-horang kaya.

Dan siapa tahu, kata GM dalam caping berjudul ‘Serakah’, hanya dengan itu – bukan dengan semangat “pemerataan” – Indonesia bisa maju. Tak peduli bahwa sila ke lima Pancasila berbunyi, “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.”

Pada hari-hari seperti ini, dimana perlawanan kaum miskin dan pembelaan terhadapnya dimaknai sebagaimana pendapat Luthfi Assyaukanie dan Goenawan Mohamad, kita dihadapkan pada pilihan untuk bersepakat atau tidak.

Semoga Pram tidak bangkit dari kubur hanya untuk berteriak, “Kalau kemanusiaan tersinggung, semua orang yang berperasaan dan berpikiran waras ikut tersinggung, kecuali orang-orang gila.”

  • adul

    Bukan Antonio Gramsci, tapi Gayatri Spivak

    • Istilah ” Subaltern” pertama kali diperkenalkan oleh Antonio Gramsci. Kemudian, sejarawan India Ranajit Guha dari Kelompok Kajian Subaltern mengadopsi gagasan Gramsci untuk mendorong penulisan kembali sejarah India. Gayatri Chakravorty Spivak lalu (acara tidak sengaja) mempopulerkan istilah ini, lewat jurnalnya bertajuk ” Can the Subaltern speak.” Yang di sitir oleh GM dalam caping “Subaltern” edisi 14/4, dan cuitanny yg viral.
      Thanks for coming. CMIIW. 🙂

  • Imam B. Carito

    Istilah ” Subaltern” pertama kali diperkenalkan oleh Antonio Gramsci. Kemudian, sejarawan India Ranajit Guha dari Kelompok Kajian Subaltern mengadopsi gagasan Gramsci untuk mendorong penulisan kembali sejarah India. Gayatri Chakravorty Spivak lalu (acara tidak sengaja) mempopulerkan istilah ini, lewat jurnalnya bertajuk ” Can the Subaltern speak.” Yang di sitir oleh GM dalam caping “Subaltern” edisi 14/4, dan cuitanny yg viral
    Thanks for coming. CMIIW. 🙂

  • Pingback: Surat Cinta untuk Penulis dan Pembaca Voxpop | Voxpop Indonesia()