Bersenang-senang dalam Tenang di Luang Prabang

Bersenang-senang dalam Tenang di Luang Prabang

telegraph.co.uk

“Hurry… Hurry! Moving now!” seru kenek bus dalam Bahasa Inggris yang patah-patah. Teriakan itu mengembalikan lamunan saya pada kenyataan. Sore itu, sekitar pukul tiga, bus yang saya tumpangi telah sampai di Kota Houay Xai.

Houay Xai menjadi pintu gerbang memasuki Laos dari Thailand Utara. Tampak bendera dengan kombinasi warna merah-biru-merah berkibar-kibar seolah menyambut kami.

Setelah memastikan semua penumpang melewati imigrasi dan kembali ke tempat duduk masing-masing, bus pun kembali melaju. Saya pijat-pijat kaki dan pundak sendiri, sambil dalam hati berkata, “Hei, baru tiga jam, masih tersisa 14 jam lagi. Please jangan encok dan kram ya! Belum saatnya berulah seperti emak-emak, ok?”

Memang tak banyak yang bisa dilakukan saat harus menghabiskan waktu selama 17 jam di dalam kotak kecil bertuliskan bus internasional, yang melintasi jalan berkelok-kelok dan tidak rata.

Alhasil, saya hanya bisa tidur-tidur ayam dan melamun, sebelum akhirnya bokong saya melayang 5 cm di atas tempat duduk atau tubuh tiba-tiba terdorong ke arah kiri atau kanan seiring dengan bus yang berbelok. Tapi, jangan salah, perjalanan ini berbonus pemandangan indah selagi matahari masih bersamamu.

Lamunan membawa saya ke kali pertama mendengarkan cerita tentang kota kecil yang manis ini. “Apa kota favoritmu di Laos?” tanya saya pada teman pejalan, yang jam terbangnya sudah semacam punya pintu Doraemon.

“Luang Prabang. Saya bahkan mampu mengelilingi kota itu dengan menutup mata. Saya akan kembali mengunjunginya. Harus! Oh… Taruhan kamu pun pasti menyukainya,” ucap dia penuh semangat. “Tak ada yang tak jatuh cinta di sana.”

Suasana kota (youtube.com)
Suasana kota (youtube.com)

Beberapa tahun kemudian, saya bahkan sampai dua kali ke Luang Prabang dalam selang waktu kurang dari setahun. Kota kecil yang dicanangkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO sejak 1995 ini memang begitu mempesona.

Luang Prabang tergolong kota tua di Republik Demokratik Rakyat Laos. Kota itu terletak pada ketinggian sekitar 700 meter di atas permukaan laut, diapit oleh dua sungai, Nam Khan dan Nam Mekong. Dalam bahasa Laos, nam berarti sungai.

Kota yang juga terletak di antara pegunungan ini pernah menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Lan Xang sebelum akhirnya dipindahkan ke Vientiane oleh pemerintahan komunis Laos.

Bersama dengan mentari pagi yang mulai muncul malu-malu, bus yang saya tumpangi tiba di Terminal Kiew Lot Sai Nuan atau lebih dikenal dengan nama Northern Terminal. Bersama dengan beberapa penumpang lain, kami bersepakat menggunakan tuk-tuk untuk menuju ke pusat kota.

Tuk-tuk adalah transportasi lokal semacam becak motor dengan kapasitas mencapai lima orang. Untuk perjalanan sekitar 15 menit menuju pusat kota, kami membayar 15 ribu kip atau setara Rp 25 ribu. Harga ini sedikit lebih mahal dari yang saya baca, tapi siapa yang ingin berdebat di pagi buta dengan kepala yang begitu berat?

Mendekati kota dari kejauhan, barisan biksu berjubah jingga dengan keranjangnya masing-masing telah memenuhi Jalan Sisavangvong, jalan utama di kota tua Luang Prabang. Tak bat atau alms giving merupakan salah satu tradisi yang menjadi kebanggaan dan masih terus dijaga di Luang Prabang.

Tak bat atau alms giving (tourismlaos.org)
Tak bat atau alms giving (tourismlaos.org)

Setiap pagi, pada pukul 06.00-07.00, para biksu dengan keranjang atau tempayan kosongnya berduyun-duyun keluar dari biara menuju jalanan. Warga akan duduk sembari bersimpuh di pinggir trotoar. Ketika para biksu melintas, warga akan memasukkan nasi, kue, buah, dan apa saja yang mereka ingin sumbangkan ke dalam keranjang para biksu.

Melihat pemandangan tersebut, meski bukan untuk yang pertama kali, tetap saja menghangatkan hati. Ritual ini berjalan cepat. Semua dilakukan dalam diam, tanpa satu pun kata dipertukarkan. Hanya ketulusan hati yang terus bergulir dalam keranjang-keranjang penerimaan dan kepasrahan.

Keranjang tersebut adalah makan siang sekaligus perjamuan terakhir para biksu dalam sehari. Pasalnya, mereka tak boleh makan berat lagi selepas pukul 12 siang. Setidaknya ada sekitar 34 kuil dan biara yang dilindungi oleh UNESCO di Luang Prabang. Secara keseluruhan, kuil dan biara ini dihuni sekitar 1.000 biksu.

Hal yang membuat saya rindu dengan Luang Prabang adalah ketenangannya. Di kota ini, waktu berjalan begitu santai, perlahan. Semua tempat bisa dijangkau dengan berjalan kaki. Tak ada yang terlalu jauh untuk disinggahi: toko-toko kecil, kafe-kafe lucu, dan tentu saja kuil-kuil yang nyempil di antara rumah-rumah penduduk.

Suasana malam (Natalia Oetama)
Suasana malam (Natalia Oetama)

Keindahan bangunan tua percampuran budaya Laos dan Prancis menjadi ciri khas lain di tempat ini. Berjalan kaki atau bersepeda di sini seperti permainan mencari harta karun, selalu ada harta baru yang bisa ditemukan.

Sore hari, kota yang secara harfiah namanya berarti gambaran dari Budha ini, bisa dinikmati dengan berjalan-jalan menyusuri pinggiran Sungai Khan atau Sungai Mekong. Pemandangannya sungguh aduhai.

Matahari terbenam dari kuil yang terletak di atas Gunung Pho Si juga pasti mampu membuatmu tersenyum, apalagi setelah ratusan tangga kecil yang perlu didaki.

Pasar malam di kota tua merupakan bagian lain dari Luang Prabang yang tenang. Di sini dijual segala macam pernak-pernik yang kebanyakan hasil kerajinan tangan. Bagi pecinta barang-barang etnik, percayalah, kamu sampai di surga yang tepat.

Komunikasi dan tawar-menawar biasanya dilakukan dengan kalkulator, dan uniknya pedagang di sini tidak ngotot, sehingga proses mencuci mata akan terasa lebih nyaman. Lihat dulu semuanya sebelum memutuskan untuk membeli. Saya pun masih harus belajar untuk tidak kalap saat berbelanja.

Luang Prabang mengingatkan saya untuk menikmati hidup dengan perasaan senang dan tenang. Bersama dengan suapan khao soi – mie kuah khas Laos bagian utara – lagi-lagi saya jatuh cinta malam itu…