Berpikir Sejenak sebelum Anda Menyantap Daging Ayam

Berpikir Sejenak sebelum Anda Menyantap Daging Ayam

Ilustrasi (resepkalkun.wordpress.com)

Menyeruput kopi dan menikmati malam yang dingin bersama ribuan gerimis adalah peribadatan saya yang paling hakiki.

Minimal dengan berdiam diri merasakan sentuhan anak gerimis di kulit dan mendengar keluhan geng motor yang jatuh di depan rumah, membuat saya sadar hidup begitu bermakna.

Namun, malam itu, saya menikmati keheningan bersama Sero, teman sejati yang diciptakan Tuhan dalam bentuk binatang bernama berang-berang.

Saya memilih menghabiskan hari yang menenangkan bersama Sero daripada manusia. Karena saat ini saya lebih percaya Sero, meski tidak dididik dan dibentuk kurikulum nasional, tetapi lebih toleran.

Kami bercakap tentang pergantian tahun. Tentunya dengan harapan baru seperti orang lain, berganti kesejahteraan, kebahagiaan bahkan mungkin berganti mertua. Percakapan ini dilatarbelakangi karena 2017 jatuh pada shio Ayam Api.

Ayam bagi setiap orang tentu memiliki cara pandang berbeda. Apalagi saya yang memang terlahir dari keluarga peternak ayam, tentu memiliki ketertarikan tersendiri pada binatang yang selalu hadir di meja makan ini.

Hal lain yang membuat saya tertarik dengan ayam, tiada lain karena memiliki kenangan indah dengan ayam bangkok tua saya yang bernama Jack.

Jack adalah ayam bangkok tua yang latah dengan paruh agak bengkok ke kiri. Namun percayalah, dia tidak kekiri-kirian. Otaknya jauh dari paham sosialisme maupun komunisme. Dia lebih paham puisi untuk merayu ayam betina genit daripada berpikir tentang Hegel.

Mata Jack plus karena usia tua, dan tubuhnya sedikit mengalami pengeroposan tulang. Namun jangan tanya jika bertemu ayam muda lainnya. Dia akan selalu merasa superior, padahal dengan dua kali gebrakan dia langsung lari ke kaki saya.

Namun sayang, Jack mati akibat cintanya ditolak ayam Serama tetangga. Ceritanya pada suatu malam, dia naik ke atas atap rumah untuk membaca puisi, tetapi karena fobia ketinggian dia terjatuh tepat di kandang anjing tetangga.

Sudahlah.

Jika menilik akar kesejarahan peradaban manusia di Nusantara tidak akan pernah lepas dari eksistensi ayam. Ayam dalam masyarakat kita, pun dunia, bukan hanya sebatas produk daging dan telur yang tersaji di meja makan.

Ayam adalah simbolisasi kehidupan, cermin berjalan yang diciptakan Tuhan untuk mengasah kekuatan dan kepekaan hidup manusia.

Ayam dipandang sebagai makhluk disiplin taat dan patuh pada waktu. Tidak ada cerita ayam keluar dari kodratnya bangun kesiangan. Tidak ada dongeng ayam pemalas. Dirinya wujud kemandirian.

Lihat saja anak ayam, meski belum sekolah, dirinya langsung mencari nafkah sendiri. Atau, pernahkah ada dalam cerita anak ayam merengek minta pulsa apalagi minta saham? Nggak pernah, kan?

Namun terkadang ayam pun menjadi bencana mental untuk manusia, seperti saya. “Bangun siang terus. Rejeki tuh abis dipatok ayam!” Ucapan itu sering keluar dari mulut orangtua, jika saya bangun terlambat.

Sejak saat itulah, saya berusaha bangun subuh, tidak ingin level sebagai makhluk paripurna kalah sama ayam.

Pada sisi lain, ayam memiliki kekentalan sejarah dengan manusia. Coba ingat kembali dongeng Sangkuriang yang sedemikian marahnya menendang perahu sampai berubah menjadi gunung akibat ayam berkokok.

Pernahkah mendengar cerita Cindelaras yang berhasil mempertemukan ayahnya yang seorang raja dengan ibunya, akibat menang dalam sabung ayam? Pernahkah mendengar julukan Ayam Jantan dari Timur?

Atau, coba pelajari kenapa simbol Negara Prancis itu ayam? Lalu, ada apa dengan sejarah ayam kalkun di Eropa? Kenapa dalam sesaji ada ayam bekakak? Bagaimana dengan ayam pelung dari Cianjur yang begitu terasa ningrat?

Ada apa juga dengan simbol ayam di gereja? Atau bahkan dengan sosok ayam cemani yang begitu mistis dan harganya fantastis? Bahkan mungkin anda tidak sadar, jika sedang menikmati mie apapun jenisnya, mangkuk yang ada pegang terdapat simbol dua ekor ayam jantan yang gagah.

Terlepas dari persoalan di atas. Ayam menjadi salah satu binatang yang paling banyak mengalami kekerasan. Setiap detik darah dan nyawa ayam bercucuran di seluruh dunia.

Coba bayangkan berapa juta pasar tradisional di Jakarta yang setiap satu pasar memotong ratusan ekor ayam? Saya membayangkan setiap subuh ratusan juta ruh ayam melayang lepas oleh ketajaman pisau.

Bayangkan jika kita menjadi ayam dan berada dalam kurungan yang sama. Kemudian para penjagal dengan bahagia menyayat leher teman kita di hadapan kita semua. Lalu melemparkan tubuh sekarat itu pada air mendidih. Mencabuti bulu dan memotong setiap jengkal tubuh kita di hadapan mata sendiri.

Hal lain yang paling membuat saya ngeri adalah ketika menyaksikan seorang teman memberi makan ularnya dengan anak ayam. Bayangkan, bagaimana anak ayam yang lucu itu di hadapkan ke mulut predator ganas?

Pernahkah melihat anak ayam yang ketakutan, menangis, dan tersudut di ujung akuarium? Pemandangan yang luar biasa mengerikan bagi saya.

“Shio para cagub dan cawagub DKI apa yah?” tanya Sero membuyarkan lamunan, sambil menikmati lagu blues yang menyakitkan.

“Mari kita liat di abah Google,” ucap saya seraya membuka hape.

Dari beberapa situs saya mendapatkan informasi itu. Ahok terlahir dengan shio Kuda Api. Sesuai dengan shio-nya, dia memiliki karakter lincah dan panas (galak).

Agus Harimurti terlahir sebagai shio Kuda Tanah, mewarisi sifat dasar kuda yang menyenangi kebebasan, tidak mau terikat norma-norma yang berlaku umum dan mempunyai insting tajam. Sementara Sandiaga Uno terlahir pada shio Ayam dan Elemen Tanah yang teliti, disiplin, dan sistematis.

“Napa emang kamu nanya shio mereka?”

“Dalam tradisi masyarakat Sero alias Berang-berang. Hari ato taun kelahiran akan membentuk karakter seseorang. Sekali-kali harus ada penelitian masalah shio ato weton alias pasaran pada orang yang mau jadi pejabat. Jangan hanya urusan akademisi dan kekayaan aja. Kita mengadopsi pola barat, sementara kita berpijak di tanah timur,” ucap Sero.

“Emang apa yang ingin kamu tahu?”

“Minimal kalo mereka jadi pemimpin. Kita akan tau bagaimana cara dia memimpin dan tentu sifatnya seperti apa? Dengan tau shio, minimal kita mengetahui nasib serta mempelajari dampak yang besar pada kehidupan.”

“Sudahlah mau apapun shio-nya pemimpin kita. Asal bener, sayang, dan ga korup. Dan, yang jelas ayam itu simbol kekuasaan, kegagahan, dan kedisiplinan.”

Sero terdiam. Dia berpikir keras mencari sanggahan. Saya tetap tidak peduli. Bahkan saya tega membiarkan baligo yang melambai meminta pinjaman selimut untuk tubuhnya yang membeku.

Bagi saya, malam ini milik kaum ayam seperti halnya tahun yang sedang dijalani sekarang. Karena ayam bisa dilihat dari berbagai aspek, tergantung dari sisi mana melihatnya. Apakah dari sisi kekuasaan, kutukan, kesuburan, ekonomi, sosial, bahkan aspek klenik dan mistis.

Toh, mungkin saja, kaum manusia yang sebenarnya terlalu berlebihan memaknai ayam. Kita tidak pernah berinteraksi langsung dengan ayam. Menanyakan secara benar kenapa ayam begitu bermakna untuk manusia?

Ingin sekali waktu jika Tuhan memberikan keajaiban bisa berbicara pada ayam. Saya akan mengajak ayam untuk mogok bertelur dan berhenti mengurus diri agar manusia tidak terlalu merendahkan martabat ayam.

Cobalah sedikit bijak untuk menyembelih ayam dengan penghormatan agama para manusia. Minimal kalau menyembelih para ayam dengan bersembunyi dan menutup mulutnya dengan lakban. Setidaknya para ayam tidak terlalu menyakitkan mendengar suara sahabatnya meregang nyawa.

Revolusi ayam dengan mogok bertelur dan diet bersama sebuah pilihan luar biasa. Sayang sekali ayam bertelurnya banyak. Jika saja ayam mengikuti keluarga berencana alias KB, dengan hanya bertelur satu tahun sekali. Tentunya ayam akan dijaga dan menjadi hewan dilindungi Undang-undang manusia.

Entah kenapa pikiran saya melantur jauh ke wilayah yang seharusnya tidak dipikirkan. Padahal, kali pertama merenung memikirkan shio Ayam Api pada 2017 ini.

“Lalu bagaimana dengan ayam kampus?” tanya Sero.

“Ha…” saya termenung. Bagaimana membahas hal seperti ini pada Sero yang masih remaja?

Hahaha…

Tapi saya jadi berpikir keras bagaimana kalau ada peternakan ayam kampus?

Akh, terlalu jauh berpikir.

Sementara saya harus bangun pagi bertemu Sisiphus untuk bawa parem kocok untuk tangannya yang pegal akibat mengangkat batu terus.

Absurd memang sahabat satu itu, nganggur dijadikan profesi…

  • Lukas

    sebuah tulisan yang bernas…
    terlebih lebih dengan peternakan ayam kampus 🙂