Berpetualang Bersama Ratu Curug

Berpetualang Bersama Ratu Curug

indonesiana.merahputih.com

Dulu, ketika saya lagi senang-senangnya kelayapan, banyak banget tempat menarik yang belum terkenal sebagai objek wisata. Bukan hal mudah untuk menuju ke sana. Perkara terbesar bukanlah masalah akses, tapi cara membawa diri dan menjelaskan apa tujuan berkunjung ke tempat ‘wisata’ yang tak lazim itu.

Bukan apa-apa, kalau salah bicara bisa dituduh macam-macam. Misalnya, saat mau menelusuri gua-gua di Gombong Selatan, Kebumen, sekitar tahun 2009, saya dan rombongan seringkali dikira penduduk setempat mau ‘ngelmu’ atau bertapa.

Masalah lainnya adalah saya perempuan. Mungkin pada era sekarang jadi traveler perempuan jauh lebih mudah, karena traveling sudah dikenal sebagai bagian gaya hidup. Hashtag #travelercantik atau #pendakicantik yang bertebaran di Instagram mungkin ikut membantu masyarakat melek dan tidak terlalu heran dengan perempuan-perempuan Indonesia yang hobi kelayapan.

Saya menulis demikian karena terkenang kisah petualangan ke Curug Malela, Bandung, pada 2010. Ketika itu diajak seorang teman, yang juga perempuan dan berjilbab, yang hobi sekali berburu curug (air terjun). ”Gie, ke Curug Malela, yuk. Gue liat di internet, katanya itu Niagaranya Bandung!” kata Ate, teman saya, sambil mengirim link informasi tentang curug tersebut.

Ternyata, curug itu sedang tenar di forum-forum backpacker, terutama di kalangan anak-anak muda Bandung. Konon, dari Kota Bandung, kalau naik kendaraan umum, katanya, bisa menempuh waktu lima jam. “Nggak mungkin ah, Te, sampai lima jam. Palingan tiga jam,” ujar saya sotoy, sok yakin kalau Bandung Raya nggak seluas itu.

Setelah membuat rencana perjalanan, kami sepakat bertemu di Jatinangor, tempat saya ngekos dan menimba ilmu saat itu. Ate yang dari Jakarta datang bersama rekannya, Mala. Dari Jatinangor, kami naik bus menuju Kota Cimahi yang menghabiskan waktu satu jam.

Dari Cimahi, kami menunggu angkot ompreng menuju Cililin. Nunggunya itu bisa dibilang bagian terburuk dari jalan-jalan, sampai lumutan, dan berkunang-berkunang. Belum lagi perjalanan menuju Cililin ternyata sangat melelahkan.

Jalan menuju Curug Malela (Maggie NM)
Jalan menuju Curug Malela (Maggie NM)

Dua jam kemudian, kami sampai di Cililin, Kabupaten Bandung Barat. Dari Cililin, harus naik bus jurusan Bunijaya. Sesampainya di Terminal Bunijaya, hari sudah mulai gelap. Dan, yang namanya pedesaan, sebagian besar warung sudah tutup.

“Gimana nih? Masak ke curug gelap-gelapan. Besok aja kali ya,” celetuk Mala mulai resah. “Iya. Nginep di mana ya? Cari warung yang bisa diinepin yuk,” sahut saya.

Awalnya, kami berencana PDKT sama ibu-ibu warung supaya bisa numpang tidur di warungnya. Tapi, ketika melihat sebuah masjid yang cukup besar, rencana berubah. Masjid itu sepertinya cukup layak menampung tiga anak terlantar tapi cantik ini.

Setelah menunaikan sholat Maghrib sekaligus Isya, kami bertiga diajak ngobrol oleh ibu-ibu. Sebagai orang yang hafal satu per satu wajah penduduk di desanya, para ibu itu langsung tahu kalau kami bukan penduduk setempat.

“Dari mana, Neng?”

“Jakarta, Bu.”

“Eleuh… tebih geuning (wah, jauh ya). Mau ke rumah siapa di sini?”

“Nggak ke rumah siapa-siapa, Bu. Main aja, mau ke curug.”

“Curug mana?”

“Malela, Bu.”

“Malela di mana? Aya kitu? Mau apa ke sana, Neng?”

“Ya… jalan-jalan, Bu.”

“Jalan-jalan? Emang ada apa di situ? Kan nggak ada apa-apa Neng.”

Tatapan ibu-ibu makin tajam ditambah alisnya berkerut-kerut.

“Iya, Bu. Sekalian mau nulis,” jelas Ate berinisiatif memberi penjelasan yang lebih cerdas, sementara saya merasa terintimidasi.

Coba bayangkan, jalan-jalan ke curug yang katanya nggak ada apa-apanya. Tiga perempuan. Jauh-jauh dari Jakarta. Malam-malam pula. Saya bingung mau jawab apa lagi. Si ibu sepertinya menganggap jalan-jalan itu bukan hal yang masuk akal untuk kami yang susah-susah datang ke desa mereka.

“Nulis apa?” seorang ibu bertanya lagi.

“Mmmmm… penelitian, Bu. Tentang hidrologi dan potensi wisata,” jawab saya ngibul, berharap ini lebih masuk akal dan menghentikan kebingungan mereka.

“Ohhhhh… mahasiswa ya? Mau malem-malem gini ke sana?”

“Nggak, Bu. Malam ini kayaknya nginep di sini dulu, besok pagi baru naik ojek ke sana.”

“Aduh kasian atuh kalau tidur di sini mah banyak nyamuk. Neng tidur di rumah ibu aja atuh. Lebih aman juga. Besok pagi ibu panggilin ojek,” ujar seorang ibu yang ‘menginterogasi’ kami.

Kami pun setuju bermalam di rumah si ibu. Ia bahkan mengajak kami makan malam bersama keluarganya. “Di rumah anak saya ada kamar kosong satu, kalian tidur di sana aja, ya. Besok pagi ibu ke sana,” katanya.

Selesai makan dan ngobrol-ngobrol, kami diantar si ibu ke rumah anaknya yang juga sudah berkeluarga. Kami bertiga ditempatkan di salah satu kamar. “Hoki juga kita,” celetuk Ate disambut cekikikan saya dan Mala.

“Maaf ya, gue pake boong. Ngeri disangka bertapa lagi, apalagi kalau pada tau kita jomblo semua. Dikira kita ngelmu pelet lagi,” ujar saya.

Keluarga si ibu ternyata luar biasa baik. Pagi-pagi, kami sudah disiapkan sarapan berupa makanan berat dan kue-kue. Bahkan sebelum kami pamitan, si ibu memberi bekal berupa kue-kue yang dibungkus plastik. Tiga tukang ojek pun sudah menunggu di depan rumah. Luar biasa servis si ibu. Semoga rezeki ibu melimpah, ya Bu, kata kami.

Kami harus membayar jasa ojek sebesar Rp 100 ribu untuk sampai ke Curug Malela. Tiga ojek itu akan mengantar, menunggu, dan mengembalikan kami ke desa untuk naik angkot ke Bandung.

Kenapa ongkosnya mahal? Ternyata jalan menuju ke sana minta ampun rusaknya. Dari parkiran ojek saja, masih harus berjalan kaki selama 20 menit untuk sampai di curug, melewati jalan yang cukup licin berlumpur.

“Akhirnyaaaa… Itu curugnya udah keliataaaaannnn…” jerit Ate bahagia, seakan-akan ketemu jodoh. Kalau saya sih nggak terlalu suka juga sama curug, lebih suka lelaki matang yang mencintai apa adanya.

Curug Malela (Maggie NM)
Curug Malela (Maggie NM)

Curug Malela ini sangat fotogenik. Namun, karena tergolong curug hilir (di dataran rendah), airnya agak butek meskipun bersih dari sampah. Puas main air di situ, kami pun pulang. Tukang ojek membawa kami ke sebuah masjid untuk mandi dan sholat sebelum pulang ke Bandung.

Masih pada tahun yang sama, Ate juga sempat mengajak kami ke Curug Bojong Koneng yang terletak di daerah Sentul, Bogor. Saat itu, kami lagi-lagi bertualang bertiga: saya, Ate, dan satu teman lain bernama Vidya.

Untuk menuju curug tersebut, kami harus jalan kaki selama 45 menit, melewati rumah-rumah penduduk dan area persawahan. Seorang perempuan yang sedang merapikan kayu bakar di teras rumahnya menunjukkan jalan kepada kami.

Curug Bidadari/Bojong Koneng (transcity.wordpress.com)
Curug Bidadari/Bojong Koneng (transcity.wordpress.com)

“Mau ngapain ke sana, Mbak?”

“Jalan-jalan.”

“Hih, nggak takut? Kan kalian perempuan semua.”

“Loh, emang ada apaan, gitu?”

“Kan sepi di situ. Cuma ada yang jualan Sabtu sama Minggu. Kalau hari ini nggak ada siapa-siapa di sana.”

Ucapan perempuan itu nggak bikin Ate, si Ratu Curug, gentar. Kami memutuskan tetap ke curug idamannya itu. Benar saja, di curug itu bahkan tak ada penjaga tiket. Curug serasa milik bertiga. Rasanya damai sekali. Alih-alih takut, kami malah kegirangan. Kapan lagi bisa mandi-mandi ala bidadari, yang airnya luar biasa segar tanpa takut selendang kami dicuri Jaka Tarub.

Beda dengan sekarang, si curug yang dulu ditakuti kala sepi itu sudah berubah menjadi waterpark bernama Curug Bidadari. Tuh kan bidadari! Saya sempat mengunjunginya Lebaran lalu. Wah, bukan main semrawutnya. Cari parkir mobil saja bisa sampai 30 menit. Entahlah, kalau Curug Malela juga dikelola seperti itu, mungkin bakal ramai. Tapi jangan sampai semrawut, ya…