Berhenti Berharap sama Sang Mantan dan Romantisme ‘The Blues’

Berhenti Berharap sama Sang Mantan dan Romantisme ‘The Blues’

Fenomena balikan sama mantan adalah hal biasa dalam dunia sepak bola. Mantan pelatih dan pemain bintang seterang bintang Sirius ataupun Canopus begitu dirindukan. Apalagi yang sudah begitu banyak memberikan gelar dan kebahagiaan saat masih jadian.

Namun, kenyataannya tak melulu seindah yang diidamkan. Kenyataan Jose Mourinho, sang mantan terindah Chelsea yang balik lagi menukangi tim ‘London Biru’ itu jauh di luar dugaan. Mourinho yang katanya ‘The Special One’ gagal total.

Kegagalan ini membuat pemilik Chelsea, Roman Abramovich, seorang raja minyak keturunan Yahudi, bagian dari oligarki Rusia, menunjuk Guus Hiddink sebagai pelatih menggantikan Mourinho.

Guus Hiddink – bukan Gus yang sering diplesetin warga NU – sebenarnya salah satu mantan terindah Chelsea juga. Pelatih berkebangsaan Belanda itu pernah menangani Chelsea pada 2009 menggantikan Luiz Felipe Scolari yang juga dipecat Abramovich, orang superkaya yang punya harta berlimpah mulai dari kapal pesiar anti paparazzi sampai kapal selam pribadi.

Ditunjuknya Guus Hiddink untuk kembali menukangi Chelsea pasca pemecatan Mourinho menandakan ‘The Blues’ benar-benar konservatif. Coba bayangkan, Guus Hiddink yang notabene adalah mantan ditunjuk menggantikan seorang mantan lain yang dianggap gagal.

Pertanyaannya kemudian, apakah sang mantan yang ini mampu mengembalikan Chelsea kembali berjaya di Liga Primer Inggris? Ah, jangan dulu pede wahai para pendukung ‘The Blues’.

Jadi begini, sebagai pembenci sepak bola membosankan ala Chelsea di era Mourinho, dipecatnya Mou memberikan kebahagiaan tersendiri. Soalnya Liga Inggris jadi nggak menarik dengan gaya dan taktik permainannya.

Sebagai pendukung setia Liverpool, sebagai kopites sampai kapan pun, saya curiga Chelsea dari mulai para pendukungnya hingga pemiliknya adalah para narsis dan megalomaniak yang tak pernah memahami arti kegagalan dan kekalahan.

Bukan maksud saya berpikir bahwa kekalahan itu adalah sesuatu yang baik, apalagi di kompetisi super elit penuh bintang dan uang seglamour Liga Inggris.

Tapi kekalahan demi kekalahan yang telah menelan begitu banyak korban khususnya sang arsitek taktik alias pelatih cum manager adalah pertanda bahwa kemenangan dan kejayaan adalah nomor wahid. Tak ada lagi seni sepak bola yang cantik, secantik barisan WAGs Liga Inggris macam Annie Kilner atau Mandy Capristo.

Tak kurang dari sembilan pelatih dipecat Abramovich dalam satu dekade kepemilikannya di Chelsea. Hampir tak ada yang menandinginya, bukan? Coba tengok pasangan setia semacam Arsenal yang percaya dan yakin sama ‘Sang Profesor’ Arsene Wenger.

Kalau sang bijak selalu berkata, proses adalah yang utama dibanding hasil. Nah, Chelsea era Abramovich yang sekaligus dipertegas dengan kehadiran Mou yang fantastik itu, kemenangan dan kejayaan sekaligus keuntungan dari nilai investasi jor-joran yang berlipat ganda adalah koentji!

Jadi jelas, Mourinho selain menjadi sumber kegaduhan para pendukungnya yang dulu membela dan memujinya setinggi menara Burj Khalifa itu, sekarang musti ngakuin bahwa eranya sudah berubah. Mosok sekelas peracik taktik sebrilian Mou kalah sama Leicester yang ditukangi sama mantan pelatih Chelsea juga, Claudio Ranieri?

Pada 2004, Ranieri digantikan Mourinho yang disebut hingga hari ini merupakan pertanda titik balik tim ‘London Biru’. Namun, kali ini Mou tak sanggup mengatasi tim medioker yang ditukangi manajer yang pernah digantikannya. Mantan oh mantan…

Penunjukan Guus Hiddink juga mengingatkan kegaduhan para pengkritik rezim baru di Indonesia. Para orbais itu bahkan tak tahu malu mengkampanyekan beragam hal untuk kembali ke zaman Orba yang dianggap lebih enak.

Ya, deretan dan gerombolan manusia gagal move on yang tidak hanya sulit melupakan mantan yang telah begitu bersemayam dalam dada dan jiwanya. Padahal, sang mantan sangat jahat dengan meninggalkannya. Bahkan beberapa manusia itu seolah tak sadar selama ini sang mantan telah mempermainkannya, mendzoliminya, mengkhianatinya. Duh..

Kali ini, saat Manchester United (MU) melendoy di era pelatih Louis van Gaal, Chelsea gagal total dengan mantan terindahnya. Liga Inggris mulai bergeser dengan naiknya pamor tim-tim medioker semacam Leicester dan Watford.

Meskipun Arsenal dan Manchester City masih menunjukkan kegagahannya dengan bertengger di deretan papan atas, era revolusi sepak bola Liga Inggris sebenarnya sedang dimulai. Pelatih, ahli taktik, dan manajer jempolan macam Mou, Van Gaal, ataupun Hiddink bukanlah bagian dari revolusi itu.

Kita tak bisa terus menerus melihat dan mengamati kompetisi hanya dengan empat atau bahkan dua tim itu-itu saja yang mendominasi. Rasanya sangat membosankan menonton La Liga dengan Barcelona dan Real Madridnya. Yang lainnya pada kemana ini, hanya jadi cheerleaders saja begitu?

Nah, kembali ke mantan Chelsea, semestinya para mantan termasuk mantan pacar dan gebetan dilupakan saja, lalu dibakar kenangannya mengingat sedahsyat apapun yang diberikan, kenyataan bikin sakit hati tak dapat dinegasi begitu saja.

Jadi sekali lagi, stop berharap sama mantan. Mou yang brilian itu pun gagal total, entahlah Hiddink. Namun yang pasti kenangan mantan-mantan bukanlah kehendak sebuah revolusi.

Revolusi harus maju. Musti menatap masa depan. Gila saja, jika Orba yang jahatnya luar biasa itu, masih diharapkan sedemikian rupa. Masih dianggap menentramkan, padahal kenyataannya hanyalah palsu belaka.

Sudah saatnya bergerak maju, sumber-sumber kegaduhan sebaiknya dibuang sejauh mungkin. Begitu juga dengan sang mantan. Jangan pernah berharap mau balikan. Sayangilah dirimu dengan bergerak maju. Wahai para mantan, bertobatlah…

Foto: goal.com