Kita Berduka, lalu Kembali Abai Setelahnya

Kita Berduka, lalu Kembali Abai Setelahnya

Bom Kampung Melayu (wartakota.tribunnews.com)

Setiap saat, ajegnya keseharian mesti terusik oleh begitu banyak derita yang sia-sia. Bom Kampung Melayu, salah satunya. Polisi yang sedang berjaga, sopir angkot yang sedang menunggu penumpang, tukang ojek yang sedang menanti rezeki, mahasiswi yang letih sepulang studi — apa salah mereka?

Tak ada. Maka menyeruaklah sebuah ‘mengapa’. Beribu-ribu tahun manusia membangun peradabannya, beribu-ribu tahun itu pula jawaban tak tersedia dari mana saja.

Tidakkah khazanah agama Abrahamik mengenal Ayub, orang saleh yang malang itu? Tak sedikit pun kekurangan Ayub di hadapan Tuhan. Di hadapan keluarga dan sesama pun ia tak bercela. Ayub bukan Haji Saleh, seorang haji picik yang dikisahkan oleh Ali Akbar Navis dalam cerpen ‘Robohnya Surau Kami’ itu.

Ayub tak memusingkan akhiratnya sendiri. Selain doa, ia tak melupakan derma. Sikapnya pun tak jumawa. Namun, entah mengapa, ia tetap tak luput dari derita.

Kisah Ayub sejatinya cukup untuk menghentikan khotbah-khotbah konyol yang berkata, dengan sikap yang seolah-olah tanpa dosa, bahwa derita adalah hukuman atau peringatan dari Sang Kuasa. Ayub jelas tak pantas mendapat hukuman atau peringatan apapun, sebab ia telah selalu berbakti kepada Tuhan, keluarga, juga sesamanya.

Namun, entah mengapa, orang tetap suka berkhotbah seperti itu. Masih segar dalam ingatan, bagaimana Tifatul Sembiring mengeluarkan kicauan yang sulit disebut beradab, tentang gempa Mentawai 2010: “Kutukan Tuhan karena kekafiran mereka.”

Tidakkah derita selalu menyimpan hikmah? Dan, tidakkah derita akan terbayar lunas di surga? Barangkali. Namun, kalau maksudnya memang hikmah dan surga, mengapa lewat derita? Apalagi, derita kerap terlalu gelap, sehingga banyak orang yang tak sanggup lagi melihat hikmah atau surga di baliknya.

Albert Camus pernah menyuarakan pemberontakan semacam itu dalam roman La Peste. Setelah kematian seorang anak karena penyakit sampar, dikisahkan bagaimana Romo Paneloux, yang sebelumnya begitu yakin bahwa derita adalah hukuman Ilahi, berkata dengan masygul dalam khotbahnya: “Siapakah yang bisa memastikan bahwa kebahagiaan abadi akan mengimbangi rasa sakit manusia yang sesaat sekalipun?”

Sikap lebih radikal ditampilkan oleh Fyodor Dostoyevski, sastrawan besar Rusia, lewat tokoh Ivan Karamazov dalam novel The Brothers Karamazov: “Keselarasan itu berlebihan; biaya masuknya terlalu mahal bagi kita. Saya sendiri lebih suka mengembalikan tiket masuk saya. Sebagai orang yang lurus, saya bahkan wajib mengembalikannya secepat mungkin. Dan itulah yang saya lakukan. Saya bukan menolak untuk mengakui Tuhan, tetapi dengan penuh hormat saya kembalikan kepada-Nya tiket saya.”

Demikianlah kelancangan masuk akal yang ditawarkan oleh Ivan: orang mesti menolak masuk surga, pun kalau ia punya tiketnya, justru karena percaya pada mutlaknya kebaikan.

Camus dan Dostoyevski bukan agamawan. Namun, dari seruan-seruan mereka, manusia dapat belajar: belajar untuk tak abai terhadap tangis manusia yang tak berdosa, belajar untuk peka mendengar rintihan ketidakadilan, belajar untuk sekali-kali meredam sorak-sorai dan pawai-pawai, lalu dengan jujur menatap derita.

Tidakkah setiap agama mengenal teologi penderitaan? Ada baiknya khazanah seperti itu digali lagi, terlebih pada bulan puasa.

Alangkah naasnya, khidmat yang layaknya mengawali bulan puasa, mesti ternoda oleh darah manusia tak berdosa. Kita berduka karenanya. Namun lihatlah, tak lama, kita segera kembali pada sikap keagamaan yang abai derita, dan justru kian gencar menuntut kuasa dan pesta-pesta.

Begitu seterusnya sampai pada suatu hari, seperti kata Camus, “Guna kemalangan ataupun pelajaran bagi manusia, sampar akan membangunkan tikus-tikus, kemudian menyuruh mereka mati di tempat-tempat terbuka, di suatu kota yang bahagia.”