Mengulamakan Mereka yang Berdakwah dalam Diam

Mengulamakan Mereka yang Berdakwah dalam Diam

Ilustrasi (bersamadakwah.net)

Dulu di kampung saya ada seorang ulama senior, namanya Pak Mimin. Beliau adalah orang yang selalu merapalkan ayat suci sampai khatam selama bulan Ramadan. Setidaknya sampai beliau sowan ke Ing Ngarso Dalem Gusti Pangeran.

Beliau menghadap sang Ilahi pada bulan Januari, sementara puasa – kalau tidak salah – jatuh pada Oktober atau November. Ini kiamat kecil bagi saya. Fix, puasa tahun selanjutnya saya tidak akan mendengar lagi lantunan ayat suci dari beliau.

Malam-malam pada bulan Ramadhan terasa senyap tanpa bunyi mikrofon di langgar sebelah. Biasanya, Pak Mimin selalu ngaji sehabis tarawih, kira-kira satu jam lamanya beliau merapal satu juz.

Tahun berganti, tiada lagi Pak Mimin dengan logat Sunda-nya yang terkesan dipaksakan bicara dengan bahasa Jawa halus. Jadi pak Mimin ini penutur dwibahasa yang sangat fasih, beliau orang Sunda yang sudah lama di Jawa.

Belum lama ini, seorang tetangga saya juga ada yang meninggal akibat menderita gagal ginjal. Selama sakit, ia harus menjalani ritual hemodialisis setiap empat hari sekali. Namanya, Pak Mar.

Pak Mar adalah seorang pedagang tahu putih. Beliau memiliki pabrik tahu. Setiap pagi, usai Subuh, ia diantar oleh anaknya ke pasar. Meskipun Pak Mar ini bukan orang yang dianggap sebagai Mbah Kaum – orang tertua di kampung halaman – tapi kehadirannya tiap sholat Jumat mampu menjadi inspirasi.

Pak Mar, dengan salah satu kakinya yang – maaf – agak pincang akibat kecelakaan (atau terjatuh), juga tetap semangat dan murah senyum mendatangi setiap majelis kerakyatan yang digelar di kampung. Suaranya yang besar, nyaring, sebesar badan dan tangannya. Ia kerap menjadi komando begal sapi saat Idul Adha.

Ada lagi seorang Mbah Kaum yang cukup tersohor di kampung saya, namanya Pak Nur. Beliau sudah lama menjadi Mbah Kaum yang dimuliakan pada setiap acara, terutama pengajian dan penyembelihan hewan kurban.

Peran pak Nur sangat vital, yaitu sebagai orang yang menyembelih hewan kurban lengkap dengan bait do’a penyebutan sohibul dan pekik takbirnya. Sebuah tugas mulia yang dijabat oleh orang yang tiada duanya di kampung saya, hanya dan hanya Pak Nur.

Sekarang Pak Nur sudah sepuh. Namun, dengan langkahnya yang kalem, ia masih sempat mengisi khotbah sholat Jumat setiap dua minggu. Pak Nur tampaknya sudah memilih penerusnya sebagai punggawa gorok sapi.

Sebelum lupa, salah seorang Mbah Kaum yang juga melegenda lainnya adalah Pak Pad. Beliau adalah orang yang babat alas di kampung saya. Karena jasa beliaulah, kampung kami punya masjid yang bisa melantangkan suara adzan lima kali sehari. Itu belum termasuk sederet pengumuman berita kematian si fulan dan fulanah, dengan atau tanpa kalimat Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.

Pada usianya yang sudah 87 tahun, Pak Pad masih kuat ngangsu (menimba) di sumur dan memasukkan air ke padasan (gentong air untuk pancuran wudhu). Beberapa kali saya sholat Maghrib berjamaah di masjidnya Pak Pad. Beliau tampak kurus dengan hanya kulit membalut belulangnya yang kian hari kian rapuh.

Saya pernah harus membatalkan sholat karena Pak Pad terjatuh saat ruku’ dan akhirnya saya dudukkan. Beliau sholat sambil duduk di lantai. Suatu hari, saya mendengar adzan dikumandangkan Pak Pad. Sampai pada lafaz Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah, lalu berhenti. Satu-dua tarikan nafas mungkin masih wajar untuk jeda. Tapi ini lebih dari tujuh detik.

Tak lama kemudian adzan dikumandangkan dengan berganti suara, yang saya tahu itu adalah suara Pak Maryo, anak Pak Pad. Saya baru tahu kalau Pak Pad sudah tak kuat lagi menarik nafas untuk adzan. Mungkin itulah suara adzan terakhir Pak Pad yang saya dengar.

Beberapa minggu kemudian, dari masjid yang sama, nama Pak Pad disebut-sebut tepat setelah kalimat istirja’. Pak Pad sowan ke hadapan Ngarso Dalem Gusti Pangeran.

Dari empat orang di atas, saya masih bisa menemui Mbah Kaum yang bernama Pak Nur. Seorang pribadi zuhud yang dresscode-nya hanya itu-itu saja. Sepotong baju koko warna hijau pucat, peci putih, sarung putih, dan sajadah warna pink.

Para Mbah Kaum ini memberi contoh kepada saya maupun banyak orang bahwa berdakwah itu tidak harus teriak-teriak, seperti yang belakangan sering kita saksikan di media massa. Saya sebenarnya sudah hampir enam bulan tidak menonton televisi, tapi saya tahu itu dari media sosial yang tampaknya tak kalah semarak.

Para Mbah Kaum ini mengajarkan saya bagaimana aplikasi sesungguhnya dari surat An Nahl ayat 125; “Dan serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah bijaksana, dengan cara yang baik, dan berbantahlah dengan cara yang baik pula.” Setidaknya potongan ayat itu sudah dilupakan oleh sebagian kelompok umat yang berteriak mengkafirkan orang secara tendensius.

Tapi, para Mbah Kaum, mereka berdakwah dalam diam. Banyak memberi contoh lewat laku agung, bukan dengan teriakan kofar-kafir.

Para Mbah Kaum ini tanpa banyak bicara mendirikan surau untuk beribadah umat, membagikan zakat dan daging kurban untuk siapa saja baik muslim maupun non-muslim, dan melantunkan ayat suci untuk mengingatkan kita atau minimal pengantar tidur bernuansa Islami.

Meskipun mereka tidak jago dalam berdakwah, menyampaikan ayat ini dan itu, bagi saya tingkah lakunya jauh lebih layak dicontoh daripada retorika teoritis belaka. Orang boleh hafal ayat ini dan itu, tapi akan menjadi mubadzir kalau pengamalannya nol besar.

Hal yang kontras terlihat dari sisi kehidupan dakwah jalanan lainnya. Saya tidak bilang dakwah jalanan itu buruk, tidak. Tapi kerap kali caranya tidak disukai banyak orang. Dakwah jalanan yang saya maksud, termasuk lewat media sosial.

Anda pernah mendengar tentang propaganda jilbab yang jleb banget? Beberapa ukhti langsung nyinyir pada mereka yang dianggap banyak alasan dalam berhijab. “Hatinya dulu yang berhijab, lalu fisiknya”.

Percayalah, kalimat seperti itu benar tapi tidak baik. Siapa yang menjamin perempuan tanpa hijab bisa terima dinyinyiri seperti itu? Bisa jadi mereka malah makin jauh dari dorongan menutup aurat, karena penyampaiannya yang tidak humanis.

Pak Nur adalah orang yang menurut saya cukup moderat dalam berdakwah. Beliau tidak nyinyir pada pemudi yang belum bertudung. Tapi sekali ada pemudi yang bertudung pada momen bulan Ramadan, ribuan pujian dan apresiasi dilontarkannya. “Alhamdulillah sekarang sudah berjilbab, Subhanallah makin cantik.”

Itu tentu berbeda dengan ukhti-ukhti yang nyinyir, meskipun tidak semua ukhti itu nyinyir. Ada juga yang moderat macam Pak Nur tadi. Mereka yang nyinyir lebih sering mencerca ketidak-berhijab-an perempuan dan pada saat berhijab pun tiada apresiasi diucapkan. Bagi mereka yang namanya hijab itu kewajiban. Tidak dilakukan salah, dilakukan ya sudah memang seharusnya.

Padahal, yang namanya hijrah menjadi berhijab, perlu proses yang mematangkan emosi dan religi. Bagi mereka para ukhti yang sudah dari sananya dididik berhijab tentu tidak punya masalah. Mereka tidak mengalami gejolak emosi untuk berubah dari ‘yang dinilai jelek’ menjadi ‘yang dinilai baik’ secara agama.

Beda dengan wanita penggerai rambut yang selalu tampil dengan bedak dan gincu merahnya. Untuk berhijab diperlukan proses panjang pergolakan batin dengan berbagai pertimbangan, terutama soal penampilan yang sangat sensitif buat kaum hawa. Pergolakan batin yang tidak pernah dirasakan para ukhti yang nyinyir.

Yang saya ingin tekankan adalah peran ulama dalam mengubah masyarakat melalui dakwah amar ma’ruf nahi munkar. Beberapa orang di luar sana siap membela ulama sampai titik darah penghabisan melalui apa yang mereka sebut sebagai jihad. Menarik sebenarnya apa makna jihad itu sendiri?

Dalam bahasa arab, jihad berarti bersungguh-sungguh. Adakah makna jihad itu berperang, seperti yang kebanyakan orang kita pahami? Mungkin iya, mungkin tidak. Tapi pada intinya adalah bersungguh-sungguh.

Dan sebagai contoh, hijrahnya wanita menjadi berhijab juga bagi saya adalah jihad yang tidak bisa dipandang remah-remah. Berjuangnya seorang mahasiswa dalam menyelesaikan skripsi juga bentuk jihad ragawi, pikiran, dan juga biaya.

Nah, bagi saya, orang-orang seperti Pak Mimin, Pak Pad, Pak Nur, dan Pak Mar adalah sebenar-benarnya ulama amar ma’ruf nahi munkar. Mereka punya ilmu, mengamalkan, mencontohkan, dan bijak dalam menasihati. Salah satu nasihat yang sampai sekarang masih menjadi panduan hidup saya adalah surat Al Ma’un.

Surat itu berkisah tentang kewajiban menolong orang miskin, menyantuni anak yatim, dan berderma dengan harta kita. Dalam hidup saya sejujurnya tidak banyak ulama yang menjadi panutan. Yang paling tinggi (tidak termasuk Rasulullah karena beliau utusan, tidak saya golongkan sebagai ulama) adalah Mbah Dahlan.

Beliau mengajarkan kepada kita tidak perlulah banyak mengaji kalau hanya sebatas lisan. Lakukan perintah satu ayat dengan istiqomah, konsisten terus menerus, dan tunggulah keajaiban Tuhan menyertaimu.

Secara pribadi, saya tidak pernah bertatap muka dengan Mbah Dahlan, karena beliau sudah lama wafat sejak 1923. Inti pelajaran yang saya ambil soal berdakwah adalah ‘kenyangkan dulu perutnya, lalu isi hatinya dengan hikmah (agama)’.