Seberapa Banyak Beli Buku, Ujung-ujungnya Tidak Dibaca

Seberapa Banyak Beli Buku, Ujung-ujungnya Tidak Dibaca

Ilustrasi (unpackingthebookstore.susqu.edu)

Pada suatu malam, seorang kawan mengirimkan sejumlah foto buku-buku yang dipajang di Big Bad Wolf Jakarta via Whatsapp. Terus menerus ia mengungkapkan niat mulianya, “Mumpung gue di sini, kali aja mau nitip.” Tadinya, saya akan menolak halus dengan cukup mengucap terima kasih dan berkata, “Oke, nanti saya kabari.”

Penyebabnya adalah buku, seberapa banyak saya membeli, ujung-ujungnya tidak dibaca juga. Pada titik ini, saya berempati pada sebagian kaum perempuan yang seringkali bernafsu untuk belanja baju, padahal barangkali tidak ada hubungannya dengan kebutuhan akan baju.

Dalam kacamata pemikir psikoanalisis, Sigmund Freud, mungkin perilaku semacam ini berada pada tingkat bawah sadar nyaris seperti hasrat seksual. Belanja buku atau baju dalam rangka mencari orgasme semata.

Setelah orgasme selesai, yang tersisa adalah rasa lemas (karena melihat dompet terkuras) dan sedikit rasa sesal (ketika memandangi betapa masih bertumpuknya baju atau buku yang belum dimaksimalkan penggunaannya).

Tapi karena iman yang lemah, akhirnya saya intip juga foto-foto kiriman kawan tersebut. Meski isi dompet sudah kian tipis menjelang akhir bulan, saya tetap memutuskan untuk membeli dua buku full color dan hard cover berjudul Punk: The Brutal Truth dan The Story of Music: from Antiquity to the Present.

Seperti sudah diduga sebelumnya, rasa lemas dan sesal kemudian datang sesaat setelah kawan saya mengirimkan pesan, “Oke, Rif, udah gue talangin. Ini nomor rekening gue ya, total jadi sekian.”

Pertanyaannya: Mengapa saya tetap membeli buku, meski tahu tidak akan dibaca? Argumen orgasme Freudian di atas mungkin bisa menjawab sedikit, tapi tidak semuanya. Hanya saya sedang menduga: Tidakkah kita sedang menuju satu peradaban paperless society, yang mana kelak buku menjadi barang antik dan hanya dipajang di tempat-tempat eksklusif semisal museum?

Tidak, tidak, saya tidak sedang bicara buku sebagai investasi keuangan, yang menurut hemat saya, prinsip semacam itu sedikit kejam. Dalam hal ini, menjelang peradaban paperless society (yang katanya semakin dekat dan menjadi kenyataan), saya ingin berada di garda depan para ‘mujahid’ pembela buku. Suatu maqam yang mulia, terutama jika kita ingat kata-kata Jorge Luis Borges, “Surga itu, sepertinya, sebentuk perpustakaan.”

Buku memang tidak selalu untuk dibaca. Bayangkan, jika di rumah kita banyak buku. Dipajang demikian cantiknya di rak dengan sederetan nama-nama agung seperti Goethe, Murakami, Nietzsche, Chekov, hingga Pram. Aura intelektual mana lagi yang sanggup engkau dustakan?

Bandingkan dengan mereka yang mengaku, “Eh, gue punya e-book-nya Hemingway loh lengkap di hard disk eksternal. Lima giga!” Buku fisik tetap punya nilai ketimbang buku online – meski kontennya sama. Mungkin penyebabnya karena buku mengambil ruang dan waktu dari hidup kita.

Setidaknya, jika kita membeli buku, tentu saja kita harus menyediakan tempat untuknya. Buku itu kemudian menjadi jelek rupanya , apalagi jika dibaca. Artinya, buku menua bersama waktu dan menua bersama kita. Dibaca atau tidak, buku punya nilai eksistensial yang mendalam.

Saya melihat foto suasana di Big Bad Wolf dan mendapati orang begitu ramai berbelanja, meski harus antre pembayaran selama enam jam. Apakah dengan demikian menunjukkan bahwa minat baca kita sedemikian tinggi?

Lalu di Bandung, ada komunitas namanya Rindu Menanti. Mereka menginisiasi konsep menarik namanya ‘Angkot Pintar’. Di angkutan kota jurusan Margahayu-Ledeng (yang setelah diteliti, merupakan angkot dengan rute terpanjang), mereka menyisipkan beberapa buku di jendela untuk kemudian dibaca penumpang sambil menunggu sampai tujuan.

Singkat cerita, setelah dihitung, buku-buku selalu berkurang setiap harinya! Buku-buku tersebut dicuri entah oleh siapa – yang kemudian sering didoakan oleh para pegiat Rindu Menanti agar mereka yang mencuri kemudian menjadi pintar dan tercerahkan.

Kembali lagi, apakah pencurian buku menunjukkan bahwa minat baca kita sedemikian tinggi? Jika berdasar pada dua kasus tersebut, mungkin kita bisa sedikit meragukan penelitian tentang Most Littered Nation In the World yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016. Penelitian itu menyatakan bahwa Indonesia menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca.

Kita bisa mengatakan, “Ah, enggak, lihat saja, Big Bad Wolf ramai dikunjungi. Buku-buku di ‘Angkot Pintar’ sampai dipreteli pencuri.”

Tapi kita harus jernih membedakan. Ada perbedaan antara membaca dan kepemilikan buku. Banyak orang ingin memiliki buku, tapi apakah mereka membacanya atau tidak, itu urusan lain.

Satu hal yang pasti, buku secara dirinya sendiri, masih dianggap sebagai barang berharga. Salah satu alasan mengapa berharga adalah citra intelektual yang dihasilkannya. Selain itu, mengoleksi buku adalah bentuk kepercayaan kita akan masa depan.

Dengan memiliki buku, kita punya motivasi untuk berumur panjang, karena senantiasa yakin, “Pasti besok saya baca buku ini. Kalau tidak besok, ya lusa. Kalau tidak lusa, ya minggu depan.” Sampai pada titik: “Oke, biarkan anak saya kelak yang membaca buku-buku ini.”

Jadi, sudah pantaskah saya masuk surga, Borges?

  • Faisal Nur Hidayat

    Setidaknya beli buku namun tak sempat dibaca lebih mulia dari pada tidak suka beli buki apalagi membaca.

  • Moeldjanee Ibral

    aduh mas.. saya perempuan, tapi juga mengalami persoalan seperti sampeyan loh.. jadi ya bukan persoalan laki perempuan ini ..hehehe