Bela Negara Melawan Pokemon, Anda Siap?

Bela Negara Melawan Pokemon, Anda Siap?

salamencecake.deviantart.com

Nun jauh di sana, di belahan bumi yang jaraknya 14.440,78 km dari Jakarta, di sebuah kota yang dijuluki ‘kota yang tak pernah tidur’, terbit sebuah berita positif tentang Indonesia. Bahkan teramat positif. Judulnya pun keren sekali: “Indonesia Warns of New Enemy Lurking About : Pokemon.”

Berita itu tayang di portal berita New York Times beberapa hari yang lalu, hampir bersamaan dengan kabar tertembaknya buronan teroris Santoso, isu stereotipe mahasiswa asal Papua, dan putusan International People Tribunal terkait genosida di Indonesia selama periode 1965-1966.

Berita yang ditulis oleh koresponden New York Times di Indonesia bernama Joe Cochrane itu intinya soal peringatan dari pemerintah kita tentang strategi baru yang bisa mengancam keamanan nasional. Mereka, entah siapa, memanfaatkan monster-monster Pokemon yang begitu lucu menyeramkan.

Apalah arti teroris yang sudah bela-belain mati meledug demi bidadari surga dibanding legiun para monster di bawah panji-panji Pokemon Go, seperti Pikachu, Raichu, Bulbasaur, Charmander, Squirtle, dan Wartortle?

“Terorism, creeping ‘Islamization’ or Pokemon. Guess what Indonesia’s security chiefs think is the biggest threat?” Begitu cuitan koresponden New York Times itu dalam akun Twitter-nya. Ada yang bilang itu sindiran? Oh bukan, bagi saya itu justru pujian bagi pemerintah kita. Mungkin pemerintah termasuk badan intelijen kita sudah canggih membaca strategi musuh.

Game yang lagi kekinian itu katanya memungkinkan bagi musuh untuk mengakses data rahasia negara. Canggih sekali, bukan? Musuh kita tak perlu repot-repot lagi merekrut sejumlah tokoh kunci di negara ini untuk menjadi agen intelijen asing. Dunia digital memang amazing. Inikah senjakala? Oh ya, ngomong-ngomong musuhnya siapa ya? Ini pasti konspirasi Wahyudi.

Jujur saja, saya malu bangga membaca berita di New York Times tersebut. Mungkin sama malunya bangganya dengan seorang teman yang berkomentar di akun Facebook saya: “Seperti baca berita tentang Korea Utara ya, Kang.” Kalian tahu apa yang terbayang kalau bicara tentang Korea Utara? Ya tak jauh-jauh dari kalimat ini: “Kim Jong Un Hukum Mati Arsitek Bandara, karena Tidak Suka dengan Desainnya”. Keren kan, kita dipersepsikan seperti Korut yang ditakuti negara-negara di dunia?

Baru-baru ini beredar surat edaran untuk tentara dan keluarganya yang isinya melarang penggunaan Pokemon Go. Menteri PAN-RB Yuddy Chrisnandi juga ikut-ikutan. Beliau melarang PNS bermain Pokemon Go di tempat kerja. Bahkan pernyataan serupa juga dikeluarkan oleh kepala Badan Intelijen Negara (BIN).

Kalau melihat itu, tentunya ini tidak main-main. Serius level 5. Mungkin dalam waktu dekat bakal muncul lagi wacana menggalakkan program bela negara. Pokoknya, warga negara Indonesia yang berusia di bawah 50 tahun, entah itu masih jomblo atau beristri empat, perawan atau nggak perawan, harus ikut program bela negara.

Lho, bukankah bela negara itu satu-satunya solusi yang cerdas di republik ini? Sebuah pertahanan rakyat semesta, yang dilatih secara fisik dan psikis? Dan, ketika monster-monster Pokemon berkeliaran di mana-mana hingga ke pelosok negeri, pertahanan rakyat semesta adalah koentji! Jadi bagaimana sodara-sodari? Siap bela negara? Siap mati untuk negara? Sii… (isi saja sendiri!)

Sekarang coba kita lihat. Sejak diluncurkan pada 5 Juli lalu untuk pengguna di Amerika Serikat, Selandia Baru, dan Australia, rata-rata durasi penggunaan Pokemon Go pada pemakai iOS sudah melampaui Facebook dan Twitter. Seiring dengan itu pula, segala cobaan datang dalam bentuk yang beragam. Mulai masalah keimanan hingga keamanan. Itu tidak hanya terjadi di Indonesia.

Di Mesir, seorang pejabat komunikasinya, Ahmed Badawi menganjurkan agar permainan ini dilarang. Sebab, katanya, bisa menempatkan aset pemerintah dalam bahaya. Anjuran ini didukung oleh sejumlah anggota parlemen. “Pokemon Go adalah alat anyar yang digunakan agen mata-mata dalam perang intelijen.” Begitu ujar Hamdi Bakheet, anggota parlemen Mesir di bidang pertahanan dan keamanan.

Wakil Rektor Al-Azhar University, Abbas Shuman bahkan sempat membandingkan Pokemon Go dengan adiksi yang disebabkan penyalahgunaan alkohol. Meski begitu, Shuman tidak menganjurkan pelarangan. Ia sekadar mengingatkan anak muda agar menjauhi permainan ini.

Di Kuwait, Kementerian Dalam Negeri-nya mengatakan bahwa Pokemon Go tidak diperbolehkan di sejumlah tempat tertentu. Termasuk di antaranya instansi pemerintah, militer, dan lokasi penting lainnya.

Di Rusia, game ini dikritik keras oleh Franz Klintsevich, salah seorang legislator senior dari Rusia Bersatu, partai penguasa. Ia menyebut bahwa Pokemon Go adalah jelmaan dari intelijen barat dan iblis. “Ada indikasi bahwa iblis telah datang melalui mekanisme ini dan dia mencoba untuk merusak kerohanian kita,” katanya. Warbiyasak. Ini pasti sisa-sisa ajaran Lenin, Stalin, dan kawan-kawannya ketika jaya dulu.

Nah, di Indonesia, ada segelintir orang yang mengingatkan umat tentang arti kata Pokemon Go dalam bahasa asing. Dan, ujung-ujungnya dikatakan bahwa aplikasi ini akan membawa kepada kemusyrikan. Saya yang penasaran coba googling dong… Eh, malah ketemu arti Pokemon Go dalam bahasa Madura. Yang artinya? Ah, sudahlah jangan dibahas.

Balik lagi soal Pokemon Go yang dianggap mengancam keamanan Indonesia. Argumennya ya itu tadi, game ini mampu mengumpulkan data dan bisa berfungsi sebagai mata-mata asing. Sebab, aplikasi ini berbasis GPS, augmented reality, dan penggunaan kamera.

Jadi begini. Pokemon Go itu permainan yang berbasis lokasi, di mana pemain dapat menentukan pola interaksinya lewat aplikasi tersebut. Game ini termasuk dalam kategori context-aware application. Teknologi ini bukan ekslusif milik Pokemon Go. Jauh sebelumnya sudah banyak digunakan dalam aplikasi lain, seperti Google Map, Waze, Go-Jek, Facebook, Path, dan Foursquare.

Pokemon Go juga tidak melakukan pemetaan, karena dia menggunakan peta yang disediakan oleh Google Map. Tahu kan apa itu Google Map? Google Map itu peta luar ruang yang diambil berbasis gambar satelit maupun kamera yang dipasang di pesawat. Jadi tidak ada informasi indoor di dalamnya. Google Map ini aplikasi yang sifatnya terbuka, sehingga pengembang aplikasi pihak ketiga bisa memanfaatkannya melalui Google Map Application Program Interface (API).

Lalu mengenai teknologi augmented reality, teknologi ini menawarkan tampilan campuran antara dunia virtual dengan dunia nyata. Teknologi ini memang tengah naik daun sekarang. Nah, apakah teknologi augmented reality yang digunakan Pokemon Go ini ancaman? Teknologi ini hanya menggabungkan pemetaan GPS dengan animasi yang disimulasikan. Karena basis petanya sudah ada sebelumnya. Apalagi, orang yang main Pokemon Go justru tidak mengaktifkan fungsi AR-nya, karena dianggap mengganggu performance game.

Mengenai apakah gambar kamera yang digunakan dalam permainan ini akan dikirimkan ke server Pokemon Go tanpa izin, sebuah perusahaan bernama Applidium sudah melakukan reverse engineering untuk mendapatkan kode pemrograman (source code) Pokemon Go. Hasilnya, pada source code tersebut, ternyata tidak ditemukan perintah untuk mengirimkan data gambar atau video ke server Pokemon Go. Jadi apa yang ditakutkan?

Saya juga haqul yakin kalau mata-mata atau intel itu ada dalam beragam wujud. Bisa jadi tukang siomay, tukang batagor, sopir taksi, pengemudi ojek online, pengusaha, pejabat, tokoh masyarakat, bahkan bisa juga para penggiat start-up. Atau, kamu sendiri juga intel? Pokemon Go hanyalah permainan. Nikmati kalau suka, tinggalkan kalau memang berefek negatif. Jangan lebay, karena lebay itu adalah Awkarin…

  • Tukang Foto

    Kang Hidayat Udah level berapa sekarang?? Hahahahaha… Kapan voxpop ngadain “Lure Party”??? Boleh deh ikutan…

  • oche

    ?

  • Hidayat Adhiningrat

    Waduh. Gak berani kita bikin lure party. Bisa ngumpul nanti semua intel-intel asing :p