Bedah Status Lebih Penting daripada Bedah Buku

Bedah Status Lebih Penting daripada Bedah Buku

Ilustrasi (trivia.id)

Membaca buku tidaklah mudah, terlebih pada era sekarang. Menenggelamkan waktu dari detik ke menit kemudian hingga berjam-jam sangatlah rumit. Butuh tempat yang teduh, suasana yang tenang, nggak ada polusi suara. Masih adakah tempat seperti itu? Ada. Di ujung langit, kalau baca lirik lagu Dragon Ball.

Saya pun merasakan sendiri bahwa membaca buku bukan sesuatu yang gampang. Misalnya, Anda dikasih sebuah buku, kemudian diminta meringkas atau mencari intisari. Mungkin Anda akan menghabiskan waktu hingga lebih dari seminggu.

Sekarang bandingkan dengan membaca status di linimasa media sosial. Walaupun mungkin hanya tiga hingga empat paragraf, bisa jadi dalam lima menit kemudian muncul analisis-analisis yang melebihi analisis magister bahkan profesor. Semuanya mendadak ahli dalam sekejab. Ajaib, memang.

Sementara membaca buku itu bikin suntuk. Membolak-balikkan lembar demi lembar kertas, belum lagi kalau kertasnya sudah dekil. Kemudian menyimak kata demi kata. Belum lagi, jika setiap bab berisi 30-50 halaman. Duh, rasanya malas. Mata mudah lelah. Tapi, seorang teman pernah bilang, “Kalau kamu baca buku, terus berasa ngantuk, berarti buku yang kamu baca kualitasnya rendah.” Apa iya begitu?

Masalahnya akhir-akhir ini tidak hanya saya, melainkan teman-teman saya juga merasakan hal serupa. Baca buku bikin capek. Bisa bikin mata tambah minus. Buat kepala terus menunduk. Duh, rasanya nelangsa kalau disuruh baca buku.

Lain hal kalau baca status di Facebook, Twitter, dan semacamnya. Ini sungguh bacaan alternatif bagi generasi milenial. Cukup sekali scroll. Ya paling banter tiga kali. Maka, mata kita justru lebih tercerahkan. Apalagi kita bisa langsung mengomentari status orang. Mau komentar positif atau negatif, itu tak jadi soal. Kan yang penting komentar dulu.

Tapi saya jadi penasaran, apa iya baca buku bikin mata minus atau tambah minus daripada baca status? Apa iya, orang yang ‘kutu buku’ itu identik dengan kacamata? Atau, bisa jadi baca buku dan baca status sama-sama bikin mata minus?

Nah itu, setahu saya, sampai sekarang belum ada penelitiannya, apakah baca buku atau baca status yang menjadi penyebab utama mata minus?

Tapi kalau dilihat-lihat ya, ada beberapa iklan yang berseliweran saat kita baca status. Awalnya mungkin nggak tertarik, tapi lama-lama jadi tertarik juga. Gimana nggak tertarik? Misalnya iklan surgawi “silahkan klik, komentar amin, kemudian share, maka Anda pasti masuk surga”.

Lho ya jelas, saat ranah berpikir untuk urusan keagamaan menjadi dangkal, hal seperti itu menjadi panduan agar bisa selamat di dunia dan akhirat. Alhasil, banyak yang meng-klik itu. Semakin banyak meng-klik, ya bisa saja mata kita rentan menjadi minus. Ya kalau bukan mata, setidaknya otak yang minus.

Belum lagi sekarang banyak iklan komersial di media sosial. Duh, banyak barang yang lucu-lucu. Diskon sampai 99% pula. Masalah itu barang yang dibutuhkan atau tidak, yang penting belanja dulu. Daripada hari Senin harga naik? Nah, kalau yang ini dijamin nggak bikin mata minus. Paling cuma keuangan yang minus. Masalah?

Lagipula yang bikin rusak mata kalau baca buku di ruangan yang remang-remang. Ya iyalah, ngapain juga remang-remang baca buku? Nah, pada zaman modern kayak gini, tentunya lebih enak baca status di layar gawai. Layarnya bisa terang, bisa redup, sesuai keinginan. Jadi, lebih baik baca status kan?

Eh tapi kok orang-orang hebat macam Hatta, Tan Malaka, hingga Pramoedya Ananta Toer bisa baca bahkan nulis buku dengan kondisi miris dan di bawah cahaya yang temaram? Apa-apaan ini? Alam Pikiran Yunani, Madilog, hingga Tetralogi Pulau Buru bisa dihasilkan dalam kondisi kayak gitu!

Tapi masak iya, kita harus dibanding-bandingkan dengan mereka? Kok kita sukanya romantisme kehebatan masa lalu. Suka yang dulu-dulu. Emang susah yang namanya move on itu. Beda dulu, beda sekarang. Seharusnya sekarang lebih maju. Bagaimana tidak, baca status di medsos saja bisa bikin orang merasa pintar.

Tapi kan ada slogan ‘Jasmerah’, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Tenang, kita nggak mungkin melupakan jasa mereka. Kita selalu mengingatnya pada hari Senin saat upacara bendera, Hari Kemerdekaan 17 Agustus, atau Hari Pahlawan 10 November. Tapi kalau sama koruptor dan penjahat HAM, kita kadang lupa. Eh?

Kita harus menyadari bahwa sekarang ini kita bisa melampaui zaman. Caranya? Ya sering-sering baca status. Kalo perlu buat status. Nggak usah pakai kata-kata yang ndakik-ndakik. Wong kita jarang baca buku, kok mau pakai kosa kata yang ndakik-ndakik. Jangan sok keminter.

Buatlah status yang mudah dilihat dan dibaca. Gunakan bahasa sewajarnya. Jangan terlalu banyak merangkai kalimat. Usahakan bikin status yang inspiratif atau intimidatif. Jangan lupa selalu sertakan kalimat terakhir untuk meng-klik, like, dan share. Sesungguhnya kalimat itu adalah sebuah keniscayaan.

Jadi, nggak usah gumun kalau banyak bedah buku dilarang di tempat umum bahkan di kampus. Kan banyak orang, terutama anak muda, yang jarang baca buku. Itu tanda-tanda mereka mengikuti arus zaman. Bedah buku itu kuno, bedah status itu keren. Slogan yang keren, bukan?

Kemudian buatlah kampus Anda dengan slogan itu. Saya yakin, bagi kampus-kampus yang melarang bedah buku, pasti mereka telah menyiapkan alternatif acara kok. Apalagi kalau bukan, bedah status.

Lalu status apa yang bisa dibedah? Daripada Anda capek-capek cari status idola, mending saya tawarkan status saya saja. Siapa tahu nanti kampus Anda akan menjadi pionir sebagai kampus pertama yang buat acara bedah status.

Gimana saran saya itu, minus banget kan?

Ya sudah sana, bikin status dulu…