Beberapa Komik yang Nggak Bikin Kamu Mabuk Literasi

Beberapa Komik yang Nggak Bikin Kamu Mabuk Literasi

simomot.com

Saya seorang penikmat komik. Komik pertama yang saya baca adalah komik-komik Donal Bebek yang dulu – di Indonesia – setiap hari dibawa oleh loper koran. Lalu, seturut waktu, mulailah merambah komik-komik pahlawan super Amerika.

Masa kecil saya juga sempat diisi dengan membaca komik-komik barokah, seperti kisah peperangan zaman Rasulullah dan komik surga-neraka yang dijual abang penjual mainan di sekolah. Nah, komik surga-neraka ini bisa bikin panas dingin.

Bagaimana tidak panas dingin? Di situ kita bisa melihat tubuh-tubuh telanjang dibenamkan ke dalam air mendidih dan sungai darah yang bercampur nanah. Setelah membaca komik tersebut, yang terbayang malah lekuk-lekuk tubuh saya jadi takut masuk neraka. Panas. Panas dingin deh. Astagfirullah…

Memasuki masa SMA mulai keranjingan komik Jepang. Dimulai dari tiga besar keluaran Shonen Jump yang sudah mendunia, seperti Naruto, Bleach, dan One Piece. Sudah puas dengan komik-komik bergenre sejenis, saya naik level secara drastis.

Mulailah membaca komik-komik buatan Inio Asano, seperti Oyasumi Punpun, Nijigahara Holograph, dan Solanin yang membawakan tema realisme magis, sehingga lebih mirip novel Haruki Murakami dalam bentuk komik. Ketika kuliah, tentu saja membaca komik kekinian keluaran Indonesia seperti Grey & Jingga buatan Sweta Kartika dan Si Juki karya Faza Meonk.

Dari pengalaman yang nikmat itu, saya merasa bahwa komik memiliki potensi yang cukup tinggi untuk menanggulangi kemabukan literasi pada masa kini. Menganggap komik sebagai bacaan ringan yang tidak memiliki nilai literasi adalah cara pandang yang sempit.

Kamu yakin ingin menyebut komik-komik buatan almarhum pak RA Kosasih seperti adaptasi Mahabharata dan Sri Asih tidak memiliki nilai literasi? Atau, menganggap adaptasi kisah Sidharta Buddha dalam komik Buddha karya Osamu Tezuka, serta Kozure Okami karya Kazuo Koike dan Goseki Kojima – yang menceritakan kisah epik seorang samurai dan anaknya dalam periode Edo – sebagai hiburan semata?

Beberapa komik lain yang juga nggak bikin kamu mabuk literasi, misalnya komik Jepang semacam Subarashii Sekai (What a Wonderful World) karya Asano Inio. Kalau komik Indonesia, ada Rixa karya Haryadhi yang bercerita tentang astronot wanita pertama Indonesia (fiksi), Ceramic Sky karya Varsam Kurnia, Sakti Yuwono, dan Jaka Ady Saputra. Ada juga 5 Menit Sebelum Tayang karya Ockto Baringbing.

Itu semua adalah sebagian dari banyak komik yang bisa menawarkan nilai literasi. Tentunya dengan sajian ringan dan menghibur. Dan, seperti yang saya sebut tadi, bisa membantu kita untuk menanggulangi kemabukan literasi pada masa kini.

Mari saya jelaskan mengapa saat ini kita sedang mabuk literasi. Pada Hari Aksara Nasional, 8 September lalu, para  pegiat literasi mengatakan bahwa tingkat minat baca di Indonesia masih kalah jauh dibandingkan tingkat minat orang Indonesia terhadap nasi tempe dan gunjingan.

Menurut data yang dikutip dari Unesco dan diucapkan kembali oleh bakal calon gubernur DKI bekas Mendikbud Anies Baswedan, dari 1.000 orang Indonesia hanya ada satu yang punya minat baca. Bahkan, sebuah penelitian di Connecticut University menyatakan bahwa Indonesia berada di urutan ke-60 dari 61 negara dalam hal tingkat literasi.

Penelitian tersebut sebenarnya tidak semata menilai minat baca, tetapi juga fasilitas dan infrastruktur yang mendukung tingkat literasi suatu negara. Nah lucunya, secara infrastruktur, Indonesia sebenarnya tidak payah-payah amat. Peringkatnya hampir setara dengan negara-negara di Eropa yang beken-beken seperti Jerman dan Inggris. Ini artinya apa?

Ini berarti perpustakaan di sini cuma dipakai untuk tidur. Ada komputer yang bisa mengakses berbagai situs-situs ilmu pengetahuan, tapi malah dipakai untuk mengakses halaman Facebook Jonru atau cari film biru dalam format 3gp. Duh…

Orang Indonesia sebenarnya tidak buta terhadap peringkat itu. Reaksi orang Indonesia setelah tahu bahwa peringkat literasinya ternyata rendah mirip dengan reaksi orang lagi tidur yang dibangunkan karena diingatkan bahwa adzan subuh sudah berkumandang.

Ada dua jenis reaksi yang muncul. Pertama, orang yang bangun sambil menguap lalu malas-malasan berwudhu dan sholat subuh, kemudian tidur lagi. Kedua, orang yang bangun sambil terkaget-kaget, lalu langsung sprint ke tempat wudhu, sholat sunah fajar, lanjut sholat subuh, lengkap dengan dzikir dan istighfar karena sudah melalaikan as-sholatu khairum minanna’um. Setelah itu tidur lagi.

Masyarakat kelas menengah ke bawah biasanya berada pada reaksi pertama. Mereka menanggapi berita itu dengan ogah-ogahan, atau paling banter ikut-ikutan komentar, namun tetap menggunakan kelebihan uang bulanannya untuk membelikan mainan anak ketimbang buku.

Kaum yang mendaku terpelajar dan intelektual biasanya berada pada reaksi kedua. Setelah tahu bahwa tingkat literasi negara mereka yang tercinta ini rendah, mereka langsung berkoar di media sosial sambil membagikan berita tersebut dengan caption “Gawat!” atau “Prihatin!”

Kemudian banyak orang membuat status motivasi ala Mario Teguh tentang betapa pentingnya membaca. Namun, seiring berjalannya waktu, status-status itu kembali berubah menjadi foto makanan di restoran mewah dan reuni angkatan.

Inilah mengapa saya bilang Indonesia benar-benar berada dalam kemabukan literasi. Mabuk dalam arti tindakan-tindakan dan reaksi masyarakat terhadap rendahnya tingkat literasi Indonesia hanyalah aksi-aksi kosong yang menimbulkan efek temporer.

Bahkan, kebijakan untuk membaca selama 15 menit dari Kemendikbud masih tampak setengah-setengah. Selama lingkungan masih belum menerapkan bacaan sebagai hiburan utama, jangan harap anak-anak akan mengenal buku.

Bukan hal mudah membaca novel-novel seperti Bumi Manusianya Pramoedya Ananta Toer atau 1Q84 karya Haruki Murakami. Lah, kamu baca Bukan Pasar Malam saja bisa tidur di halaman pertama. Lalu baca Kafka on the Shore malah tidur di halaman sampul.

Tapi itu normal-normal saja sih, sebenarnya. Melihat barisan huruf dalam bahasa rumit sambil berusaha berimajinasi bisa membuat kerja otak jadi semakin keras. Bagus, tapi tidak disarankan untuk pembaca pemula yang ingin serius meningkatkan minat baca.

Maka dari itu hadirlah komik, yang langsung memberikan sajian visual dan mengolah literasi dalam kerja otak di bagian dialog-dialognya. Komik yang baik untukmu tentu saja komik dengan visual yang detil dan dialog yang kuat.

Lagipula, cukup susah mencari buku bagus sekarang. Malah lebih gampang mendapatkan komik yang bagus. Ketika novel young romance menghasilkan novel-novel yang terlalu melankolis, klise, dan kadang memakai majas yang memuakkan, hadir Grey & Jingga yang menawarkan cerita campus love ala Lupus karya Hilman Hariwijaya.

Komik sastra yang serupa karya-karya Pak Kosasih memang masih jarang, tapi sebuah kelompok bernama Padepokan Ragasukma sangat giat memproduksi komik-komik silat gaya lama dengan bumbu modern. Lalu, ada juga mas Kharisma Jati yang terkenal dengan 17+, sebuah komik coming of age yang menceritakan kehidupan seorang anak SMA dengan gaya yang agak gelap.

Kalau kalian memang serius ingin meningkatkan minat baca, saran saya cobalah mulai dari komik. Proses meningkatkan minat baca dengan langsung mulai membaca, misalnya, Roro Mendut karya YB Mangunwijaya, tidak akan serta-merta meningkatkan minat bacamu. Yang meningkat malah minat tidurmu. Lalu kemana minat bacamu? Ya salaaammm