Beberapa Hal yang Kita Nikmati dari Ahok, Anies, dan Agus

Beberapa Hal yang Kita Nikmati dari Ahok, Anies, dan Agus

aktual.com

Mengapa sih kita getol banget berkomentar soal Pilkada DKI Jakarta? Apakah benar-benar demi kemajuan Ibukota? Apa karena Jakarta adalah miniatur Indonesia? Apa karena para calon gubernurnya?

Tapi tunggu dulu… Saya bukan pengamat dadakan dengan analisis yang jungkir balik dan canggih-canggih. Apalagi berpihak kepada salah satu pasangan calon gubernur dan wakil gubernur.

Kalau mau jujur, kita itu memiliki kemiripan dan kedekatan dengan para calon gubernur. Tanpa disadari, kebiasaan atau bahkan kesenangan kita sehari-hari sebetulnya tercermin pada sosok Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, Anies Baswedan, dan Agus Harimurti Yudhoyono.

Jadi sebenarnya dalam pilkada rasa pilpres ini: Ahok, Anies, dan Agus (AAA) adalah kita. Wajar saja kalau tiba-tiba orang jadi banyak omong. Begitu juga dengan linimasa media sosial yang seolah bergemuruh. Asalkan nggak fitnah, ya nggak masyalahh… Sekarang, coba kita lihat satu per satu:

1. Agus Yudhoyono dan Drama Keluarga

Ini calon gubernur yang sebenarnya tidak diduga. Namanya tetiba muncul pada hari terakhir pendaftaran ke KPUD DKI. Anak sulung Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini diusung oleh Poros Cikeas: Partai Demokrat, PPP, PKB, dan PAN. Agus didampingi Sylviana Murni, birokrat senior di Pemprov DKI, sebagai calon wakil gubernur.

Agus rela pensiun sangat dini sekali. Pangkat terakhirnya hanya mayor. Dari situ lah dimulai drama keluarga ini. Mulai dari SBY yang sempat menolak, Ani Yudhoyono yang nggak rela, sampai tetesan air mata Agus saat pidato perpisahan. Suasananya kemudian semakin drama, ketika sebagian dari kita ikut ‘mengurusi’ keluarga Cikeas.

“Aduh, sayang bener harus mundur dari TNI. Kalau gagal di pilkada, bagaimana?”

“Kok tega karir anaknya dikorbanin demi politik.”

“Kok bukan Ibas saja yang dicalonkan, papa jahaattt.”

Ya begitulah beberapa komentar masyarakat wabil khusus netizen di Tanah Air. Bahkan, komentar Annisa Yudhoyono, istri Agus, di salah satu akun medsos Agus, menjadi viral. Padahal, Annisa cuma bilang, “Papap aku whatsapp papap ya…” Apa yang aneh? Silakan panggil suami anda, papap. Agar adil, panggil juga istri anda, mamap. Asal jangan mangap.

Tapi, suka atau tidak suka, kebanyakan dari kita memang suka drama. Itu mengapa rating film drama keluarga dari India dan Turki tinggi-tinggi. Banyak penonton terutama ibu-ibu yang ikutan baper.

“Aduh, itu orang kok jahat banget. Ada ya orang semacam itu?”

“Itu musuhnya sudah datang, bukannya lari!”

“Kasihan sekali sih nasibnya. Tega banget!”

Setidaknya kalimat-kalimat itu sering terlontar dari para penggemar film drama di televisi. Saking terbawa emosi, sulit membedakan antara fiksi dan non-fiksi. Pemeran karakter jahat akan dicap jahat dalam kehidupan nyata. Begitu sebaliknya.

Jadi, menyaksikan sebuah drama keluarga sudah menjadi kesenangan sehari-hari masyarakat kita. Wajar saja banyak orang yang ikut ‘mengurusi’ drama keluarga Cikeas, meski urusan kita sendiri nggak beres-beres.

2. Ahok dan Sifat Dasar Manusia

Kalau calon gubernur yang satu ini, mungkin sudah tak asing lagi. Siapa yang tak kenal Ahok? Cagub DKI incumbent ini diusung oleh PDI-P, Golkar, Hanura, dan Nasdem. Ahok yang didampingi cawagub Djarot Saiful Hidayat juga didukung oleh satu juta orang ber-KTP DKI, yang tadinya menjadi bekal Ahok untuk maju sebagai calon independen.

Dari semua karakter dan perilaku Ahok, yang paling menonjol adalah sikap tegas yang kadang tampak marah-marah. Sebagian orang merasa tidak nyaman dengan perilaku marah-marah, tapi banyak juga yang nggak masalah dengan itu. Mengapa? Karena senang, sedih, marah, dan tawa adalah sifat dasar manusia.

Apakah kita nggak pernah marah atau ngomel-ngomel saat macet parah di jalanan Jakarta, sementara kita takut terlambat ke kantor? Pencet klakson berkali-kali, padahal lampu merah. Belum lagi kalau ada pengendara yang konyol. Nerobos lampu merah seenaknya, nyalip seudelnya, atau tabrak-tubruk nggak keruan. Damn..! Maaf, saya kesal. Saya marah.

Kebiasaan marah itu sebetulnya juga obat stres. Ada teman saya, kalau kesal di jalanan saat menyetir, suka teriak kata-kata kotor. Saya pernah bertanya, “Bro, biasa ajalah.” Dia pun menjawab, “Kalau nggak dikeluarin bro, gue jadi stres. Bisa nggak konsen nyetirnya. Bahaya kan? Kalau dikeluarin, plong rasanya.” Saya pun menimpali, “Iya, tapi lu keluarinnya di dalem, di luar dong.”

Tapi memang kalau sudah plong, kita bisa ketawa-ketawa lagi. Sampai di kantor, bisa selfian lagi kayak Ahok senyam-senyum foto bareng Nikita Mirzani. Sebelumnya, Ahok juga sempat selfie sama Dian Sastro. Ya walau dicemberutin sama ibu Veronica Tan. “Bu, siram bu. Buruan siram.”

Jadi, sama halnya dengan Agus Yudhoyono, Ahok pun cerminan dari kebiasaan kita dalam keseharian. Tapi kan Ahok…? Masih berpikir rasis? Yaelah bro, sis, masyarakat kita nggak keterbelakangan gitu juga keleus…

3. Anies Baswedan dan Senyuman

Awalnya, saya menduga Sandiaga Uno yang dicalonkan sebagai gubernur. Tapi justru Anies Baswedan. Sandi harus rela menjadi calon wakil gubernur. Mereka berdua diusung oleh Gerindra dan PKS.

Sandi sebenarnya sudah punya jargon khusus saat penjaringan calon gubernur di Gerindra: Senyum, Sapa, Ganteng. Slogan ini mengingatkan saya kepada mbak-mbak kasir minimarket, setiap membuka pintu mau masuk ke dalam gerai.

Dengan senyum ramah, mbak-mbak itu menyapa, “Selamat berbelanja, Bapak…” Kurang kata ganteng sih sebenernya. Mungkin itu bisa jadi masukan buat pengelola. Jarang-jarang ada yang bilang ganteng. Life.

Mungkin kalau Sandi yang belanja, mbak-mbak penjaga minimarket bisa khilaf. “Selamat berbelanja, Bapak ganteng…” Saya yakin, Sandi nggak hanya beli sabun, odol, sampo, tapi diakuisisi sekalian saham minimarket-nya.

Tapi lupakan bapak ganteng, mari kita fokus ke Anies. Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu, selain dikenal dengan intelektualitasnya, juga kelihatan kharismatik. Senyumnya selalu menawan. Beliau seolah ingin menyampaikan bahwa tidak ada yang sulit di dunia ini. Sama seperti kaum jomblo yang dengan entengnya senyam-senyum kalau ditanya “kapan nikah”. Tidak ada yang sulit, bukan?

Editor in Chief Voxpop, Jauhari Mahardika, bahkan sempat bertanya kepada saya, dengan pertanyaan yang sialnya hanya bisa dijawab dengan senyam-senyum, awalnya. Ketika itu, pada Sabtu siang, ia mengirim pesan singkat, “Kalau mau kirim naskah, jangan lewat jam 7 malam. Gak malem mingguan, kan?” Tak lupa dibubuhkan emoji tertawa sampai mangap-mangap.

Kurang ajar betul kan pertanyaannya? Awalnya, saya memang mesam-mesem. Tapi rasanya kok gatel. Lalu saya jawab saja, “Gue kalo pacaran juga nggak akan gembar-gembor kayak kampanye, wooiiii…”

Intinya, apa yang ada pada Anies, Ahok, dan Agus, dialami juga oleh kebanyakan dari kita dalam keseharian. Diam-diam, tanpa disadari, kita pun menikmatinya. Bedanya, mereka punya nyali ingin berbuat sesuatu untuk Jakarta. Jadi, kita yang cuma bisa berkomentar – belum tentu memilih – sebaiknya selow aja lah…