Beberapa Fenomena yang Indonesia Banget pada Doctor Strange

Beberapa Fenomena yang Indonesia Banget pada Doctor Strange

comingsoon.net

“Negara lain sudah membahas tentang hidup di Mars, kita masih sibuk urusan SARA.” Kata-kata itu seringkali terlontar dari masyarakat kelas menengah di negeri ini, meski nyatanya di Amerika sana isu ras masih kental dalam beberapa kasus penembakan.

Saat pilpres AS, Donald Trump juga masih asyik membawa isu-isu agama pada kampanyenya . Jadi tenang saja, isu SARA itu kekayaan dunia. Kalau Yuni Shara, itu baru kekayaan Indonesia.

Bicara tentang negeri adidaya yang dengan cerdas menempatkan pria seperti Donald Trump sebagai calon presiden (Update: Trump akhirnya terpilih), kiranya layak dan pantas bagi kita memaknai Doctor Strange sebagai ajang refleksi.

Karakter pahlawan super Amerika itu memang fiksi hasil imajinasi Marvel, tapi kisah-kisahnya sangat lekat dengan perspektif ke-Indonesia-an. Nggak percaya? Mari disimak.

Kartu Politik

Doctor Strange adalah satu dari sekian banyak kartu yang dikeluarkan oleh Marvel dalam pertandingannya melawan DC. Marvel sendiri sedang menikmati keuntungan dari setiap kartunya. Mulai dari Captain America, Hulk, Iron Man, Thor, hingga Deadpool.

Mereka dikeluarkan satu-persatu, meski sekali waktu bisa tampil bersamaan. DC sendiri tampak agak kepayahan sampai-sampai harus mengadu domba dua jagoan bersayapnya, Batman v Superman.

Kalau disimak, model macam begini mirip koalisi partai politik di Indonesia. Mengeluarkan satu demi satu petugas jagoan partai, yang dibalut kisah-kisah bak pahlawan super, lalu berharap menjadi idola para pemirsa, eh masyarakat. Nyatanya, jagoan itu laris dipupuk hingga akhirnya dipanen pada level yang lebih tinggi. Dari aspek persaingan politis, duel maut Marvel v DC saja sudah bernuansa Indonesia banget.

Sang Leluhur v Dimas Kanjeng

Doctor Strange sebagai kartu yang dikeluarkan Marvel kali ini muncul begitu pas dalam konteks negara berlandaskan Pancasila seperti Indonesia. Lha, dokter bedah saraf paling canggih seantero New York, Amerika itu pergi ke Kathmandu untuk bertemu dengan ‘The Ancient One’ alias Sang Leluhur.

Doctor Strange kemudian mempelajari ilmu yang sangat bertolak belakang dengan ilmu kedokteran. Padahal, dokter Christine Palmer, partner sekaligus mantan kekasih Strange, sempat menyatakan kalau itu aliran sesat, meski belum ada fatwa soal itu.

Di Indonesia, kita baru saja disuguhi fenomena serupa, bahkan ikut-ikutan mengutuk walaupun nggak kenal. Ya, ibu Marwah Daud Ibrahim, seorang doktor lulusan Amerika, yang tetiba nongol kembali setelah gagal nyapres bareng Gus Dur pada 2004.

Nyaris semua orang mengutuk, sebagian sisanya menulis di Facebook bahwa dia mendoakan Marwah Daud Ibrahim kembali ke jalan yang benar. Entahlah yang menulis ‘Semoga Bu Marwah dibukakan hatinya’ itu beneran berdoa, apa cuma nggaya di tembok ratapan virtual buatan kader wahyudi bernama Mark Zuckerberg? Sebelumnya ada juga kisah seorang dokter yang bergabung ke Gafatar.

Sepertinya negeri paling ciamik sedunia bernama Indonesia ini sedang menjadi tempat yang jamak bagi banyak orang berprofil tinggi untuk menemukan peraduan spiritual, seolah pemuka agama tiada cukup untuk menjawab itu. Tak peduli doktor, dokter, S2, S3, hingga es podeng sekalipun, ada saja yang masih mencari jalan pintas.

Kurang duit, bertemu Dimas Kanjeng. Lalu diberi tontonan yang begitu meyakinkan, lantas jadi pengikut. Doctor Strange pun demikian. Cedera parah dan nyaris tiada tersembuhkan, kemudian bertemu Sang Leluhur. Diberikan sesuatu yang meyakinkan, langsung jadi pengikut.

Paling Tahu dan Benar

Doctor Strange datang ke Sang Leluhur dengan banyak pertanyaan, meski sudah diberi tahu oleh Mordo untuk tidak mempertanyakan sang guru. Namun, dokter bernama lengkap Stephen Strange itu menjadi calon murid yang berani mendebat, hingga berteriak-teriak di depan sang guru yang merupakan wanita botak itu.

Strange muncul dengan segala dalil ilmiah yang diketahuinya dan berkali-kali diingatkan oleh Sang Leluhur bahwa masih banyak hal yang tidak diketahuinya di dunia ini.

Bicara tentang urusan paling tahu dan berani berdebat, sudah jelas sekali bahwa itu tempatnya di linimasa rakyat Indonesia. Seorang pedagang yang sebenarnya bisa menggunakan linimasa untuk memperluas cakupan penjualannya pun lebih asyik mengomentari semua hal mulai dari Ahok, izin pertambangan, hingga impor cangkul.

Seorang mantan aktivis yang memilih untuk menjadi karyawan biasa, juga tampak seru mengomentari Arcandra Tahar, Dahlan Iskan, hingga Sandiaga Uno. Demikan pula dengan seorang aktivis buruh yang tidak seberuntung dan seberani Said Iqbal atau Obron Tabroni lebih asyik ngomyangi presiden di dinding Facebook, alih-alih meningkatkan output kinerja di pabrik. Maklum, kalau ngomyangi bos sendiri kan nggak berani mungkin. Mirip Doctor Strange yang merasa paling tahu dan benar dalam segala hal.

Gagal Move On

Doctor Strange adalah profil combo untuk gagal move on. Selain gagal move on dari kemampuan dahsyatnya melakukan operasi, dia juga gagal move on dari kekasih yang disuruhnya pergi. Nyatanya Strange masih membawa jam tangan pemberian Christine ketika mencari jalan ke Nepal.

Yaelah… Anak alay se-Indonesia Raya juga paham kalau membawa barang pemberian mantan adalah wujud gagal move on paling paripurna dalam kehidupan ini.

Bicara gagal move on memang tampak dekat dengan kita. Ada banyak sekali profil gagal move on, yang terutama diawali dengan kegagalan untuk minggat dari hegemoni mantan penguasa. Dalam era pertumbuhan penduduk Jepang yang minus ini, kita masih mengenal jargon klasik, “Piye kabare, penak jamanku tho?”

Masih dalam topik gagal move on, ada sejumput masyarakat di bumi ini yang kelahiran 1970-an hingga 1990-an, yang begitu bangga berkisah tentang kejayaan masa kecil yang unyu-unyu. Sama dengan Doctor Strange yang masih keukeuh ilmiah, kala berhadapan dengan Sang Leluhur.

Bukannya move on dengan menerima logika di Kamar-Taj, maka ada pula manusia Indonesia yang dengan mantap berbagi bahwa kehidupan dahulu lebih asyik, tanpa gawai, dan lain-lainnya. Ada bapak yang membagi hal tersebut di Facebook, sembari memberikan tablet ke anaknya. Ada ibu yang bangga pada generasi 1970 hingga 1990-an itu, tapi menjadi yang terdepan ngomelin guru saat anaknya dijewer.

Kengawuran Medis

Tadinya saya pikir, Doctor Strange ini sudah sedemikian keren bahkan dalam rincian terkecil sekalipun. Awalnya sudah keren, semisal suasana operasi yang tidak semenegangkan operasi dalam tayangan di Indonesia.

Dari istri yang sehari-hari bergulat dengan pasien pasca operasi, saya diberi pemahaman bahwa kala operasi justru dokter akan berusaha rileks, salah satunya dengan mendengarkan musik.

Sayangnya, impresi itu musnah seketika kala Christine Palmer menggunakan alat serupa setrika untuk kejut jantung yang bernama debfrilator kepada tubuh Strange yang jelas-jelas denyut jantungnya sudah segaris.

Di rumah sakit beneran, kalau di monitor denyut jantung sudah tinggal segaris, perlakuannya adalah pompa jantung. Alat yang digunakan Palmer itu justru baru dipakai saat monitor memperlihatkan gambar serupa sandi rumput, yang menandakan sedemikian cepat dan tidak teraturnya denyut jantung pasien.

Maka, nggak usah selalu berkiblat ke Hollywood kala melihat adegan medis yang ngawur dalam film maupun sinetron Indonesia. Toh, Doctor Strange yang jelas-jelas film tentang dokter juga menggunakan kengawuran yang sama. Untungnya, dalam kisah Doctor Strange tidak dimunculkan kengawuran medis lain yang Indonesia banget, seperti pemberian obat yang berlebihan hingga penggunaan antibiotik yang sembrono.

Doctor Strange juga hadir saat kita kembali berdebat soal bumi datar dan bumi bulat. Dia hadir kala keilmuan menjadi semakin dipertanyakan. Strange, Sang Lelulur, dan Mordo juga muncul dengan pemahaman hukum alam dan mengesampingkan konsep iman sama sekali kala agama di negeri zamrud khatulistiwa ini justru semakin terpolarisasi menjadi dua: ditinggalkan atau radikal seutuhnya.

Namun, demi apapun, dari seluruh refleksi kesamaan Doctor Strange dengan kehidupan di Indonesia, sejatinya plesetan dari kalimat paling akhir film ini, yang diucapkan dengan mantap oleh Mordo, intinya adalah:

“Di dunia ini sudah terlalu banyak penyinyir.”

  • Keren, seru, mendalam