‘Beauty and the Beast’ Versi Indonesia

‘Beauty and the Beast’ Versi Indonesia

nytimes.com

Kisah-kisah fantasi memang dirancang untuk tidak pernah berhenti. Bagaimanapun manusia butuh berfantasi. Kisah-kisah yang sudah beredar sejak VOC masih berkuasa di nusantara tetap direproduksi dengan pembaruan secara terus menerus sampai pada era yang mirip-mirip VOC. Itulah gunanya teknologi.

Untunglah dalam hal film, yang namanya pemerintah tidak membatasi penggunaan teknologi dengan batas atas dan batas bawah. Bayangkan, jika pemerintah Amerika membatasi ukuran tubuh Beast agar tidak jauh-jauh dari Beast dalam film Beauty and the Beast masa silam, maka Beast di tahun 2017 nggak akan segede sekarang dan kemungkinan besar kalah tarung saat dikeroyok serigala.

Kalau sama serigala saja kalah, bagaimana kalau terjebak di tengah omnivora paling mulia yang lagi berantem di Jalan Tambak, Jakarta? Atau, di terminal-terminal angkutan kota? Terlebih kalau omnivora itu memakai seragam sekolah dan bersenjatakan gir motor. Terbirit-birit, pastinya.

Ngomong-ngomong soal batas atas dan batas bawah yang lagi ngehits, rasanya kok ingin memindahkan plot film Beauty and the Beast ke Indonesia. Tapi, saya pikir-pikir, jika dipindahkan ke versi Indonesia, plotnya akan berubah dengan drastis dan cenderung tidak happy ending. Berikut ini beberapa kemungkinannya…

Penyihir masuk ‘istana saat pilkada

Diceritakan secara cepat pada awal film bahwa segala perkara di dalam kisah Beauty and the Beast bermula dari seorang pangeran yang menolak dan melecehkan pengemis yang numpang berteduh di istana dan rupanya pengemis itu adalah seorang penyihir.

Seandainya sang pangeran menerima bunga mawar dari pengemis itu dan tidak menertawakannya beramai-ramai, dia pasti sudah aman, damai, tentram, dan tidak berubah jadi jelek. Tuh, catet mblo… Pernah ada orang yang kasih bunga nggak ke ente?

Nah, jika pengemis merangkap penyihir itu muncul di Indonesia dan masuk ke ‘istana’ yang rupanya adalah kantor gubernur, walikota, atau bupati – terlebih pada masa pemilihan kepala daerah (Pilkada) – dijamin dia tidak akan disia-siakan.

Petahana yang sedang berkuasa di ‘istana’ akan memanggil media dan mengulik kisah sang pengemis yang rupanya penyihir itu, termasuk sampai membuatkan rumah dan memberikan pekerjaan. Plus, membawa si pengemis itu keliling kemana-mana untuk berkampanye. Berubah tajam deh itu alur cerita alias plot twist.

Maka, Beast tidak akan pernah ada dan Belle hanya akan jadi gadis desa yang kabur melulu dari gangguan penguasa sok-sokan sekelas Gaston.

Istana Beast keburu digusur

Diperlihatkan dengan jelas dalam film bahwa setelah dikutuk, istana pangeran yang berubah jadi Beast itu berada di tengah hutan dan dia dilupakan oleh banyak orang. Selama bertahun-tahun dan kemungkinan sudah berganti anggota DPR dari periode ke periode dengan kualitas yang terdekadensi terus menerus, istana Beast tetap di dalam hutan dan tidak diingat orang.

Melihat istana si Beast, saya ingat pemandangan kala hendak mendarat di Bandara Sultan Syarif Kasim II. Sejauh mata memandang, kebun kelapa sawit semua. Ditanam secara lurus dan rapi. Jika saja istana itu ada di Indonesia, saya yakin nasibnya nggak lama.

Apabila berada di negeri ini, dalam waktu yang sesingkat-singkatnya, lahan tempat istana Beast berdiri akan buru-buru digusur oleh perusahaan kelapa sawit. Atau, jika rupanya serigala-serigala di sekitar istana Beast itu berada di lahan kapur, tidak perlu lama-lama juga untuk dibersihkan dengan penuh semangat dan kemudian menjadi pabrik semen.

Pembangunan pabrik akan lancar jaya, karena paling mentok diprotes oleh serigala. Eh tapi, manusia sekalipun yang protes, tetap saja nggak didengar, ding.

Nah, dengan tidak adanya istana, Maurice tidak akan kesasar sampai istana. Paling mentok Maurice hanya akan kesasar di pabrik semen dan dengan kondisi seperti itu, bapaknya Belle ini, tidak akan menemukan mawar sama sekali. Dengan demikian, Maurice tidak akan ditawan dan pada akhirnya Belle juga nggak akan ketemu Beast.

Bacaan lebih bervariasi

Di istana, Beast memiliki perpustakaan yang luar biasa mantap dan bikin Belle kesengsem. Beast yang ngeri itu juga dikisahkan suka dengan sastra bergenre romance, makanya Belle dan Beast akur kala membahas Shakespeare.

Agak lucu melihat monster semengerikan Beast memilih diam dan membaca buku-buku romantis di dalam kegelapan istananya untuk kemudian sesekali melihat bunga yang jatuh helai demi helai.

Jika saja dia di Indonesia, kecintaannya terhadap sastra akan membawanya ke buku-buku seperti Jejak Langkah, Sang Pemula, hingga Rumah Kaca. Ya, judul-judul buku yang dilarang oleh Jaksa Agung pada zamannya. Buku-buku karya Pramoedya Ananta Toer.

Ada kemungkinan juga Beast akan terkontaminasi buku Ronggeng Dukuh Paruk yang bikin Ahmad Tohari diinterogasi oleh pemerintah orde yang katanya dirindukan itu. Ya, belum termasuk karya-karya sastra masa lalu yang sebagian kekiri-kirian dan sebagian lagi menggelorakan pemberontakan pada penjajah.

Jika bacaan Beast seperti itu, kiranya dia tidak akan mellow dan baper saat kemudian sok galak di depan Belle sebelum kemudian malah galau sendiri. Beast akan jadi Beast yang tangguh dan bisa jadi malah pergi ke desa Belle untuk mencari penyihir yang mengutuknya dan melakukan perlawanan atas kutukan tersebut.

Dalam kondisi ini, kemungkinan Beast akan bertemu Belle di desa saat sedang mencari penyihir yang mengutuknya dan kecil kemungkinan akan terjadi romansa di antara mereka. Toh, mereka di istana bisa dekat karena kepepet.

Agamamu apa?

Nah, kalau plot twist yang satu ini Indonesia banget. Saya ingat benar kala hendak mengontrak rumah, yang pertama kali ditanya oleh pemilik rumah adalah “bapak agamanya apa?”. Bahkan sebelum dia menyebut harga, serta merta saya ditolak oleh empunya rumah karena spesifikasi agama tersebut.

Indonesia memang dekat sekali dengan hal semacam ini. Namanya juga negeri yang sangat beragama. Setelah insiden berantem dengan serigala dan saat keduanya dekat dan mulai saling suka, Belle dan Beast akan sampai pada suatu momen penting. Saat mereka berduaan di taman, pembicaraan mereka tidak lagi sekadar roman-roman yang menawan hati.

Beast akan membuka percakapan dengan kalimat ini. “Maaf, ya, tampangku jelek begini.” Belle yang mulai suka tapi kadung gundah, menimpali dengan malu-malu. “Ah, bagiku muka itu nggak penting, Beast.”

Beast tersenyum kecil, namun seketika tercekat dan mulutnya melongo ketika Belle melanjutkan kalimatnya. “Yang lebih penting bagiku, agamamu apa?”